BEAUTY equals HAPPY?

DI SEBUAH pagi yang cerah, seperti biasa, saya membaca koran. Tak disangka, mata saya menangkap sebaris headline besar yang begitu mengejutkan dan langsung membuat saya berkutat di halaman tersebut. Bunyinya demikian: “Para Pelajar di Tiongkok Berlomba-lomba Operasi Plastik” Saya pun merunut kata demi kata, sambil sesekali geleng-geleng kepala. Disitu dikisahkan, pada musim liburan sekolah, para pelajar di Negara tirai bambu (kebanyakan wanita) akan berbondong-bondong datang ke rumah sakit atau dokter bedah untuk “memperbaiki” bagian-bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna. Mulai dari operasi bibir dan payudara(agar tampak lebih seksi), pembentukan lipatan mata (supaya gak terlihat sipit), sampai sedot lemak (untuk mengusir lemak-lemak yang menganggu keindahan tubuh). Tentu tak sedikit kocek yang dikeluarkan. Tapi itu bukan masalah buat mereka. Yang terpenting, tutur salah seorang narasumber, ia bisa kembali ke sekolah dengan lebih percaya diri.

Kalau demikian fenomena di Asia, di Eropa lain lagi (walaupun wanita disana juga banyak berurusan dengan operasi-operasi serupa). Di majalah Women Weekly, majalah wanita keluaran Australia, pernah termuat cerita seorang wanita dengan berat 102 kg bernama Jayne. Saking gemuknya, dia tak dapat melihat ujung jari kakinya sendiri kala berdiri atau berjalan. “Setiap saya bertemu seseorang di jalan, yang ditatapnya bukanlah wajah saya melainkan dada saya” Akhirnya dia memutuskan untuk menjalani operasi sedot lemak, yang meninggalkan carut-marut mengerikan diseputar perut, punggung, dada, dan bagian belakang lehernya. Beberapa bulan kemudian, dia bersaksi, “terima kasih untuk Tuhan dan pisau bedah itu. Saya bukan saja tampak lebih proporsional, saya juga terlihat lebih muda. Saya bahagia dengan hidup saya sekarang ini” Penulis artikel tersebut lantas bertanya, “What’s wrong with looking your age?” Jayne berkata, sambil tersenyum, “No, sweetheart, that’s the wrong concept. This is a competitive world. Everybody wants to look good.”

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menganggap kedua kisah di atas menggambarkan fenomena yang terjadi dalam kehidupan wanita di dunia saat ini. Sebagai perempuan, saya pun memaklumi bahwa ada dua topik yang sensitif bagi kaum kami, yaitu berat badan dan usia. Seorang teman saya bernah berkomentar, “Pada dasarnya, tak ada orang yang suka disebut jelek, gendut, atau berMu-Tu alias bermuka tua. Makanya produk-produk pemutih, peremajaan kulit, anti-aging, diet, dan tetek bengeknya tak pernah sepi di pasaran” Saya pun mulai memikirkan, merenungkan, kenapa kaum perempuan (termasuk saya tentunya) tak pernah berhenti meributkan hal-hal itu? Bahkan mengapa ada orang yang rela menghabiskan uangnya di klinik bedah kecantikan? Emang sih, bodi makin yahud…tapi rasa sakit dan carut-marut yang diderita tubuh ini juga tak tertahankan. Apa memang untuk menjadi cantik dan bahagia dengan diri sendiri memang morotin dan menyakitkan?
Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat kita saat ini? Pertama, kecantikan dipandang sebatas apa yang tampak dari luar, alias cantik lahiriah. Apa buktinya? Lihat saja bagaimana media mempopulerkan sosok wanita tinggi, langsing (tanpa lemak-lemak yang menyembul ditempat yang kurang pas), serta berkulit putih menawan tanpa jerawat, noda, maupun kerutan, sebagai figur yang pantas dilabeli CANTIK. Ini sejalan dengan apa yang didefinisikan wikipedia dengan kecantikan yang ideal, yaitu “person who is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.” Tampilan ikon-ikon kecantikan dari zaman ke zaman memang berbeda (contohnya, Cleopatra VII, Helen of Troy, dan Marilyn Monroe), namun mereka dikatakan cantik karena pada diri mereka ada kualitas yang dikagumi kebudayaan pada masa itu. Jadi siapa yang menetapkan standar kecantikan? Budaya. Siapa yang membentuk budaya? Masyarakat sendiri: orang-orang disekitar kita, dan tak terkecuali kita sendiri. Sadar gak? Kitalah yang menetapkan standar kecantikan yang kita sendiri sulit untuk jangkau! Ini fakta yang sulit untuk kita pungkiri. Kita menghabiskan uang dan menahan nyeri untuk dapat memenuhi standar yang kita canangkan sendiri. Bukankah ini sebenarnya usaha yang tidak perlu?

Mungkin Anda akan menyanggah, “tidak perlu bagaimana? Bagi saya ini sangat bermanfaat. Saya menjadi lebih bahagia ketika saya menjadi lebih cantik.” Ups, di sini terlihat bahwa ternyata, kita telah mendasarkan kebahagiaan kita pada kecantikan yang kita miliki. Kita merasa puas dan bahagia dengan diri sendiri ketika, misalnya, kita selangsing Cindy Crawford, boobs semontok Victoria Beckham, bee-sting lips ala Angeline Jolie, ataupun “snow-white skin”-nya Sandra Dewi. Sebaliknya, apabila kita gendut, kuntet, berdada rata, berbibir tipis, berwajah pas-pasan, berkulit legam, kita gak akan pernah bahagia dan sengsara seumur hidup. Benarkah demikian?

Nah, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan untuk semua orang yang membaca artikel ini.

Pertama, sadarilah bahwa yang pantas menilai dirimu baik atau buruk, jelek atau cantik, bukanlah media, orang-tua, teman-teman sepergaulanmu, bahkan dirimu sendiri.  Satu-satunya pribadi yang layak menentukan hargamu adalah Penciptamu. Tuhan yang menciptakanmu adalah sempurna, karena itu, tidak mensyukuri keadaanmu sama dengan menghina TUhan. Alkitab mengatakan setiap manusia berharga dimata Tuhan, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. “ (Yesaya 43:4). Karena Tuhan memandangmu berharga, tidak sepantasnya kamu memandang dirimu jelek.

Kedua, sandarkanlah kebahagiaan hidupmu bukan pada apa yang akan lekang seiring usia yang menua, namun pada kasih Allah yang tidak akan pernah berkesudahan. Kecantikan lahiriah memang mempesona mata, namun tak bertahan selamanya. Bangunlah kecantikan batiniah sedemikian rupa, sehingga sampai rambut memutih dan sekujur tubuh dipenuhi kerutan, kita tetap adorable.

Advertisements

One thought on “BEAUTY equals HAPPY?

  1. Winarni K Suprimardani

    Hegemoni produk kecantikan pada sistem ekonomi liberal mengakibatkan pemaknaan cantik menjadi “sempit”. Dan seluruh orang diduniapun berkiblat pada pemahaman “cantik” yg sempit tersebut sehingga mereka menjadi malu menjadi dirinya sendiri jika tidak sama dengan indikator cantik yg diungkapkan produk kosmetik.

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s