BOOKS: THE IGNORED TREASURE

Henry David Thoreau pernah berkata, ”Books are the treasured wealth of the world and the fit inheritance of generations and nations.” Begitu pentingnya peran sebuah buku, maka di dalam tradisi orang Yahudi, misalnya, anak-anaknya diwajibkan untuk bertekun membaca dan mempelajari Taurat sejak dini. Bahkan buku pun dapat berperan sebagai trigger bagi sebuah masyarakat untuk melesat maju dan meninggalkan keterpurukan. Contohnya adalah Jepang, masyarakat yang terkenal memiliki mental pembelajar. Pasca-insiden bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah Jepang menyediakan literatur-literatur dengan harga yang sangat murah. Buahnya terlihat sekarang, Jepang menjadi leading country di Asia dalam bidang sains dan teknologi. Padahal, terlepas dari peristiwa yang naas itu, Jepang sebenarnya tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan untuk menjadi sukses. Negara dengan luas wilayah yang tak bisa dibilang luas ini malahan “dianugerahi” berbagai kondisi alam yang fluktuatif. Namun mereka berhasil bangkit karena sumber daya manusianya berwawasan luas dan memiliki mental pembelajar.

Melihat pentingnya peranan buku dalam kehidupan suatu bangsa, sungguh ironis bahwa di Indonesia, yang namanya bahan bacaan tidak terlalu diminati. Bahkan di negara yang potensial ini, buku seakan menjadi harta karun yang diabaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%). Data lain misalnya datang dari International Association for Evaluation of Educational (IAE). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV pada 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Bagaimana dengan para pendidik kita? Dari riset selama proses training guru di Aceh, Bandung, Medan, dan Surabaya yang dilakukan INSEP selama tahun 2005-2007 di hampir 80 sekolah terlihat bahwa kemampuan membaca guru sangat minim, yaitu 79% guru hanya membaca di bawah 1 jam per hari, 15% guru membaca 1-2 jam per hari, dan sisanya hanya sekitar 6% guru membaca antara 2-3 jam per hari. Jumlah judul buku yang dihasilkan setiap tahun di Indonesia pun jauh di bawah negara Asean lainnya. Malaysia dengan penduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10 ribu judul setiap tahun. Demikian juga dengan Vietnam yang berpenduduk 80 juta jiwa menerbitkanb 15 ribu judul buku setiap tahun. Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa hanya menerbitkan sepuluh ribu judul buku per tahun. Semua data ini, dalam pandangan saya mengisyaratkan kurangnya penghargaan masyarakat kita terhadap bahan bacaan. Padahal sebagian besar ilmu dan informasi terkini kita dapati dari buku. Padahal individu-individu yang kaya ilmu adalah cikal bakal masyarakat yang madani.

Bagaimana dengan Anda? Entah Anda adalah seorang mahasiswa, pelajar, guru, dosen, karyawan, buruh pabrik, pengusaha, pegawai negeri, atau ibu rumah tangga. Apa pun latar belakang profesi, budaya, dan pendidikan Anda. Apabila Anda merindukan sebuah perubahan terjadi di tengah masyarakat kita, mulailah dengan mengubah pandangan dan sikap Anda terhadap buku. Tentu buku yang saya maksud di sini adalah buku yang bermutu dan membangun wawasan serta karakter kita. Dengan mendidik diri sendiri menjadi pribadi yang menghargai ilmu, Anda sedang mendatangkan dampak yang signifikan bagi kehidupan Anda, dan tentu saja, tidak menutup kemungkinan, bagi lingkungan dan bangsa ini. (dari berbagai sumber)

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(Amsal 1:7)

Advertisements

One thought on “BOOKS: THE IGNORED TREASURE

  1. Winarni K Suprimardani

    Rendahnya daya beli masyarakat terhadap buku diakibatkan karena membaca apalagi menulis atau apa yg disebut sebagai budaya literer masih menjadi kebiasaan “mewah”.
    Pola asuh yang digunakan disekolah pun belum mampu menjadi stimulan bagi kalangan pelajar untuk membaca. Dan kalangan pelajar sendiri tidak dilatih mentalnya untuk mengembangkan diri dengan menempuh salah satu jalan yaitu membaca.
    Akibatnya, masyarakat lebih mengandalkan budaya lisan atau dengan memperoleh informasi dari televisi atau radio dengan alih-alih biayanya lebih murah.

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s