LIVING A SIGNIFICANT LIFE

2540553441_9040c90729_m

Tatkala menulis artikel ini saya teringat pada adik-adik mahasiswa baru yang saya bimbing sewaktu P3KMABA (sejenis ospek) dua tahun yang lalu. Memang almamater saya tercinta, UK Petra memberlakukan sistem orientasi yang agak berbeda dengan kampus lainnya. Tidak ada yang namanya perploncoan fisik; hampir sebagian besar aktivitas MOS dilakukan di dalam kelompok-kelompok kecil (10-16 org) yang didampingi 2 orang kakak pembimbing. Topik yang kami bahas pun agak berbeda; tentang gambar diri, tentang tujuan hidup, dan hal-hal penting lainnya mengenai kehidupan.

Masih jelas di ingatan saya, waktu itu saya melemparkan pertanyaan “apa arti kehidupan bagimu?” Jawaban yang muncul beragam, mulai dari “hidup itu misteri”, “hidup itu bagai air mengalir”, “hidup itu panggung sandiwara”, sampai “hidup itu untuk makan” (nah…yang memberi jawaban memang hobi makan sih…). Namun ketika saya lanjutkan diskusi dengan bertanya kembali, “menurut kalian hidup yang sukses itu seperti apaan?”, sebagian besar berpendapat bahwa hidup yang sukses adalah hidup berkecukupan bahkan berkelebihan dari segi material. Sisanya seputar prestasi dalam kuliah dan kehidupan sesudahnya (bekerja, menikah, dll). 

Tak langsung puas, saya terus mengejar mereka,

Kalo udah lulus, kerja, kaya,trus mau ngapain?”

ya nikah lah kak…hehehe” seru beberapa orang sambil cengengesan.

Trus..kalo udah nikah?”

Ya punya anak..”

Kalo udah punya anak?”

Ya punya cucu, kak…”

Setelah itu?”

Ehm…” mereka sudah mulai bingung.” Ah, mungkin menikmati hari tua bersama keluarga…”

Saya pun tersenyum.

Trus… menunggu kematian itu datang menjemput?”

Suasana hening seketika. Mereka tampak terhenyak. Dan ekspresi yang sama pun saya temui di setiap orang yang saya ajukan pertanyaan serupa. Kaget ketika fakta bahwa suatu saat kematian itu akan tiba.

Seseorang pernah mengatakan bahwa di tengah-tengah ketidakpastian hidup, ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa suatu saat kehidupan itu akan berakhir. Dan kita tak pernah mengerti kapan itu akan terjadi. Saya bisa saja meninggal waktu saya udah jadi nenek-nenek, ataupun saat ini, hari ini, setelah saya mem-publish tulisan ini di blog. Bisa saja kan pas keluar dari kost saya tiba-tiba diterjang truk waktu nyebrang jalan dan meninggal di tempat? Wew, bukan bermaksud menyumpahi diri sendiri… Maksud saya ialah kematian itu datang sesuka hati. Bisa besok, lusa, maupun hari ini. Kita bisa membuat perencanaan hidup; setelah lulus saya mau kerja di mana, menikah sama siapa, tinggal di mana—namun yang namanya kematian tentu tak dapat menunda. Gak mungkin kan kita bilang, “duh…duh….datang aja dua tahun lagi, saya belum nikah nih!”

Nah, misalnya nih…. Hari ini ada seorang malaikat yang datang kepadamu, memberitahukan bahwa kamu akan meninggal besok? Apa yang akan kaulakukan? Kalo saya sih, ingin menulis surat untuk semua orang, yang isinya menyatakan betapa saya bersyukur bertemu dgn mereka dan bagaimana dalam saya mengasihi mereka. Trus, gak lupa saya meminta maaf atas segala kesalahan saya selama dua puluh satu tahun ini. Kenapa? Karena saya ingin dikenang sebagai seorang anak, teman, adik, kakak, rekan pelayanan yang baik. Dan saya percaya kita semua ingin dikenang sebagai orang yang baik, bukan? BUkannya….”biang gosip”, “penipu”, “pemalas”, “oportunis”, dan sejuta sebutan jelek lainnya.

Saya sudah bertanya pada banyak orang, dan responnya kurang lebih sama. Bahkan yang ingin dilakukan cenderung sama. Meminta maaf, memulihkan relasi, de el el. Tak ada yang bilang, “Saya akan mencari uang lebih banyak lagi.” Bahkan salah seorang adik maba saya—yang sepengamatan memegang teguh prinsip ekonomi—malah menyatakan ingin membagi hartanya pada orang-orang yang dikasihinya dan beramal pada orang miskin. Ini, menurut saya, membuktikan bahwa sekaya apapun kita, sehebat apapun kita, di ujung kehidupan kita, yang kita cari adalah relasi. Bayangkan aja, apa ada yang mau mati dalam kesendirian, meski ditemani harta menggunung sekalipun? Nelangsa, bo….

Nah, bagaimana jika kita diberi masa hidup lebih panjang? Raja Daud pernah menulis demikian, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun…” Saya yakin, kalau kita diberi waktu sebanyak itu, tentu akan lebih banyak hal baik yang ingin kita lakukan, bukan? Bagi saya pribadi, inilah kesempatan untuk membuat hidup saya bermakna, bukan hanya bagi diri saya, melainkan juga bagi orang lain.

Saya ingin membagikan sebuah kisah:

Suatu saat ada seorang pria meninggal. Pria ini sudah sangat lanjut usia dan hidup sendiri. Saat dia menghadap Tuhan, Tuhan dari takhtaNya yang mulia bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang Aku berikan kepadamu?” Pria tua ini tersenyum dan menjawab dengan santai, “TUhan, saya menjaga hidup saya sedemikian rupa. Saya tak pernah bersahabat, agar hati saya tak tersakiti. Saya menjaga harta saya, tidak membaginya dengan orang lain, agar saya merasa tenteram dalam menjalani hidup. Saya bahkan menjauhkan diri dari masyarakat, agar nurani saya tidak tercemari oleh perilaku dan moralitas mereka yang bobrok. Ini saya Tuhan, dengan hati, pikiran, dan nurani yang murni, tak bercela. Ini persembahan saya bagiMu.” Tampak seraut kebanggaan di wajahnya. Kebanggaan yang pudar seketika ketika Tuhan berkata, “Aku memberimu hidup, bukan untuk menjaga hati atas nama egoisme pribadi. Aku menaruhmu di tengah masyarakat, agar kau bisa memberi warna, dengan talenta dan sumber daya yang Kuanugerahkan padamu. Agar kau bisa berbagi hidup dengan saudara-saudara, dengan orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabatmu. Sehingga dengan begitu, karaktermu akan terbentuk, di atas hati yang sakit, pikiran yang peduli, dan nurani yang tak tahan melihat moralitas dunia yang bobrok. Itu seharusnya mendorongmu untuk melakukan sesuatu, dan itulah arti hidup yang sebenarnya.”

Seringkali kita menganggap enteng hidup kita. Padahal TUhan, Sang Pemberi hidup itu menyediakan segalanya bagi kita (pendidikan, harta, bakat, dll—hal-hal yang tidak dikecap atau dimiliki oleh semua orang), agar kita bisa membawa perubahan dalam hidup orang lain dan komunitas kita. Bahasa kerennya, agent of change. Mungkin Anda berpikir, “Rugi ah…Ngapain ngurusin orang lain? Wong ngurusi diri sendiri belum tentu maksimal kok.” Bagi saya pribadi, itulah arti hidup yang sebenarnya. Kalau nda mau ngurusi orang lain mending jadi petapa aja, ngendon di kilimanjoro sekalian. Saya pikir kok rada munafik ya kalau kita gak bersedia ngurusi orang lain. Wong kita sehari-harinya masih butuh orang lain. Saya aja, untuk memasak nasi pun harus diajari orang dulu baru bisa.

Tapi saya pun tak memungkiri, betapa individualisnya masyarakat kita saat ini. Fenomena-fenomena filantropis (orang-orang yang mencurahkan waktu, uang, dan tenaganya demi kepentingan orang lain) mungkin lebih banyak didapati di luar negeri. Kalaupun ada di Indonesia, jumlahnya tidak banyak. Pas ada bencana alam aja baru semuanya berbondong-bondong ngumpulin sembako, menggalang dana, dan sejuta aktivitas sosial lainnya. Bahkan ada yang melakukannya hanya agar tidak dituding pelit atau dibilang tidak punya “hati”.

Dulu pun saya berpikir, kalau saya hidup ya untuk diri sendiri dunk. Yah, maksimal untuk membantu keluarga lah… demi mempertimbangkan ikatan darah di antara kami. Namun paradigma saya tentang hidup benar-benar berputar 180 derajat tatkala saya menyadari bahwa ada Seorang yang memberikan hidupNya untuk saya. Dia rela disalib, mati (namun kemudian dibangkitkan) karena Ia mengasihi saya. Bukan hanya saya, melainkan seluruh umat manusia. Termasuk Anda yang membaca artikel ini. Alkitab berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Inilah message of hope. Dia adalah Yesus, yang dengan iman, saya percaya bahwa Dia bukan sekadar manusia biasa, melainkan Tuhan sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia. Yang saya imani bukan hanya mati di kayu salib, melainkan juga bangkit dari alam maut, menampakkan diri kepada banyak saksi, dan naik ke sorga. Yang saya imani tidak tinggal diam melihat problematika dunia saat ini, tetapi sedang bekerja melalui tangan orang-orang yang percaya padaNya dan peduli pada keadaan dunia ini.

Karena itulah saya berubah. Karena saya tahu saya dikasihi, saya tak tahan untuk tidak berbagi hidup dengan orang lain. Itulah mengapa saya menulis blog ini (walau belum banyak yang tahu dan yang membaca). Itulah mengapa saya memilih bekerja sebagai editor dengan upah yang bahkan tidak sebesar uang jajan saya waktu kuliah (agar ada lebih banyak buku yang berkualitas dan tidak hanya menjual kemasan ataupun kontroversi, tetapi benar-benar membangun moral dan paradigma anak bangsa). Itupun mengapa saya rela naik-turun angkot berkelana ke kampus UPN, Ubaya, dan Petra, “hanya” untuk memimpin kelompok-kelompok pendalaman Alkitab yang beranggotakan paling banyak 3 orang per kelompoknya. Semua ini saya lakukan bukan karena kurang kerjaan. Waktu saya menulis ini, saya sedang dihimpit oleh deadline (karena saya juga tergabung di redaksi Disciples). Semua ini saya lakukan karena ada bagian dalam Alkitab yang berkata, “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (II Korintus 5:15) Saya percaya, hidup bagi Tuhan tercermin dari pelayanan kita kepada sesama.

Well, I am not trying to boast on my faith. Saya percaya setiap pribadi punya urusannya masing-masing dengan Tuhan. Tapi satu hal yang saya yakini, pada akhir hidup kita, kita akan bertemu dengan Tuhan, yang akan meminta pertanggung-jawaban kita atas hidup yang diberikanNya kepada kita. Apakah kita akan datang dengan penuh rasa penyesalan atau dengan sukacita tak terkira? Itu adalah pilihan—tergantung dengan bagaimana kita menjalani hidup ini. Hidup ini pasti akan berakhir, kawan… Karena itu buatlah hidup ini berarti. Dengan tidak hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk berbagi dengan sesama.

 

 

Advertisements

One thought on “LIVING A SIGNIFICANT LIFE

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s