NASIONALISME ALA DARAH GARUDA (MERAH PUTIH II)

Pertama kali melihat trailer Darah Garuda di 21 Plaza Surabaya, saya dan kekasih langsung tertarik. Kami sebelumnya pernah menonton Merah Putih I, bahkan belum pernah menonton film perjuangan yang dirilis di layar lebar. Dan sejujurnya, agak eneg juga dengan film perjuangan kalau mengingat-ingat film perjuangan tempo doeloe yang serba terbatas dan kurang digarap dengan maksimal.

Namun ketika melihat tayangan trailer yang berdurasi beberapa menit itu, kami langsung membulatkan tekad untuk menonton Darah Garuda yang ditayangkan mulai 8 September kemarin. Bagaimana tidak? Kualitas gambar dan efek visualnya terkesan seperti film perang ala Hollywood. Setelah kami cross-check ke internet, flm yang berdurasi 100 menit ini juga masih melibatkan jajaran ahli perfilman international terbaik dalam efek khusus dan tata teknis lainnya yang berpengalaman di perfilman Hollywood. Oohh… ternyata itu rahasianya…

Tapi bukan hanya itu lho yang membuat kami terpana. Di salah satu poster Darah Garuda yang memampang tokoh-tokoh kerennya, ada salah satu tokoh yang mengenakan kalung salib. Kami sangat terkejut, karena dalam sejarah film perjuangan, belum ada yang mau repot-repot memasangkan atribut khas Kristen pada karakter tokohnya. Dari situ kami menebak-nebak , pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film Darah Garuda ini.

Apakah yang disampaikan Hashim Djojohadikusumo  (produser eksekutif Darah Garuda) dalam acara perilisan trailer bahwa  “Darah Garuda akan memberikan gambaran perjuangan generasi muda dalam kemerdekaan pada waktu itu. Berbagai ras dan agama semuanya berjuang dengan satu tujuan yang mulia yaitu kemerdekaan Indonesia. Mereka semua berjuang tanpa pamrih, tidak untuk materi atau harta” itu benar?

Ternyata sodara-sodara…

Gambar memang tak bisa bohong.

Latar film diambil pada tahun 1947 ketika bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk mengukuhkan kemerdekaannya. Dikisahkan, Amir, Thomas, Marius, dan Dayan berhasil menerobos pos penjagaan Belanda dengan menyandera Mayor Van Gaartner.  Setelah menolong istri Amir, Melati, Senja dan Lastri dari tahanan Belanda, rombongan ini berhasil mencapai markas Jenderal Sudirman, dibantu oleh Sersan Yanto dan Budi. Di situ, mereka diberi tugas oleh Mayor Fadli  untuk menguasai atau menghancurkan landasan terbang milik Belanda. Maka, perjuangan para prajurit muda ini kembali berlanjut.

Bersama dengan pasukan pilihan dari Sersan Yanto, mereka pun berangkat menuju ke lapangan terbang, meski Amir tidak memberitahukan tujuan keberangkatan mereka pada Sersan Yanto. Ketika mereka beristirahat di tengah jalan, ada sebuah perkataan Sersan Yanto yang menurut saya menjadi antithesis dari film ini:

(tidak sama persis, kira-kira beginilah..): “Kapten, apakah anak buah Anda bisa dipercaya?
Amir: “Apa maksudmu, Sersan?”

Yanto: “Di dalam tim Anda ada seorang Hindu Bali, seorang Sulawesi yang beragama Kristen, anak pedagang dari Jakarta, dan seorang peremuan. Tidak pernahkah Anda berpikir mengapa mereka mau berjuang di tanah Jawa, yang bukan tempat kelahiran mereka? Orang-orang seperti ini gampang terpikat dengan bujuk rayu Belanda.”

Amir: “Kalau begitu, kenapa saya harus percaya sama kamu?”

Yanto: “Karena kita sama. Anda dan saya sama-sama dari Jawa dan beragama Muslim… bla bla bla…”

Eh,ujung-ujungnya malah ketahuan entar kalau Sersan Yanto itu musuh dalam selimut.

Pelajaran #1:

Persamaan bukanlah jaminan bahwa kita sedang memperjuangkan hal yang sama.


Kenyataan yang sungguh bertolak belakang dengan Dayan, yang sekalipun ditinggalkan teman-temannya, tertangkap oleh Belanda, dan disiksa sejadi-jadinya, tetap tidak mau mengkhianati perjuangan kelompok kecil itu. Bahkan setelah ia kehilangan kemampuannya untuk berbicara karena siksaan yang amat kejam, ia masih kembali untuk menolong teman-temannya yang sedang terdesak dalam baku tembak di lapangan udara.

Pelajaran #2:

Perbedaan sama sekali tidak menjadi masalah ketika kita memperjuangkan hal yang sama.


Selain itu, karakter lain yang menurut saya cukup menarik untuk diangkat adalah Lastri. Berawal dari usahanya untuk menolong Senja, ia malah diperkosa oleh dua orang tentara Belanda ketika masih ditawan di perkebunan kopi.  Amir dkk tidak bersedia membunuh salah satu tentara bejat yang mereka tahan setelah berhasil kabur dari perkebunan kopi, namun Lastri bertindak sendiri untuk menghabisi nyawa lelaki itu. Malamnya, Lastri pergi meninggalkan tim itu, entah ke mana. Ia muncul lagi sebagai seorang pelacur ketika Dayan dibuang dalam kondisi mengenaskan di depan lokalisasi. Ketika Dayan sadar dan mengalami rasa sakit yang luar biasa, Lastri (kurang-lebih) berkata, “Lihat apa yang mereka lakukan kepadamu. Apakah teman-temanmu datang menolongmu? Kita sudah terlalu banyak berkorban.. bla bla bla.”

Pelajaran #3:

Ketika dihadapkan pada penderitaan, masalah, bahkan kekecewaan, kita bisa memilih untuk menjadi pahit hati dan menyerah pada situasi, atau tetap berjuang dan mengusahakan yang terbaik.


Menonton Darah Garuda, Anda akan disuguhi dengan gambar yang “wow” dan efek ledakan yang mumpuni. Mungkin satu-satunya kelemahan (yang saya tangkap) adalah bahasa Indonesia yang agak baku, walau mungkin saja pada masa itu gaya berbicaranya memang seperti itu. Atau mungkin faktor penulisnya yang dari luar, sehingga kata-katanya seperti “novel terjemahan”, hehehe….Namun kejenakaannya pun mampu membuat penonton tertawa, termasuk anak-anak. (saat saya menonton film Darah Garuda di bioskop, banyak juga orang tua yang mengajak anak-anak mereka. Seberapa pantaskah film ini ditonton anak-anak? Menurut saya pantas saja, dengan bimbingan orang tua, pastinya ^^)

Karakter-karakter lainnya pun tak kalah menariknya untuk dibahas karena mereka punya alasan, pergumulan, dan konflik batin masing-masing.  Keteguhan Amir sebagai seorang pemimpin, kepasrahan dan pengharapan Melati, keinginan Senja yang kuat untuk mendobrak batasan gender dan ikut ambil bagian dalam perjuangan, kesetiakawanan dan kelembutan Thomas, dan kepercayaan diri sekaligus sikap pengecut Marius—semuanya berpadu dan mewarnai kisah ini dengan tawa, haru, dan kesempatan untuk bercermin: sudahkah saya memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia?

Bagi saya pribadi, Darah Garuda membawa pemahaman nasionalisme yang baru dan lebih mendalam. Indonesia adalah milik kita semua, apa pun agama,ras, dan gender kita. Kecintaan pada bangsa dan perjuangan untuk menjadikan Indonesia sebuah negara yang lebih baik haruslah melampaui semua batasan itu.  Mungkin ini terdengar naif, namun saya pikir kalau kita semua memahami betul bahwa kita sedang berjuang untuk Indonesia yang sama, korupsi, kecurangan, konflik kepentingan, dan perlakuan yang tidak adil terhadap kaum minoritas tidak akan terjadi. Terima kasih, Darah Garuda, karena telah mengingatkan bangsa ini (minimal saya, hehehe) akan semangat bhineka tunggal ika.  I really love Indonesia!

*psst… jadi gak sabar untuk beli DVDnya untuk dikoleksi. Bagi yang sudah nonton film ini, personal impressionnya ditunggu ya?*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s