TO SAY THE LEAST

Saya menemukan ungkapan ini dalam Five Point Someone (by Chetan Bagat).

“It’s your brother’s letter,” I said.
“Yes, his last. I want you to keep it,” she said.
“Why?” I said. It was a weird gift, to say the least.

Setelah mencari tahu, ternyata ungkapan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan bahwa apa yang kita gambarkan atau jelaskan pada kenyataannya jauh lebih serius atau lebih penting dari yang kita telah katakan.

Masalahnya, ungkapan seperti ini jarang ditemukan di kalimat indonesia. Akhirnya kuterjemahkan seperti ini:

 “Itu surat kakakmu,” kataku.

“Ya, surat wasiatnya. Aku ingin kau menyimpannya,” katanya.

“Kenapa?” kataku. Pemberian itu minimal bisa dibilang aneh.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s