THAT’S WHAT FRIENDS ARE FOR …

pasukan penyerang singa mati

Tepatnya dua minggu yang lalu, saya berkejar-kejaran dengan tenggat waktu yang mencekik. Hari Selasa saya harus mengumpulkan order terjemahan novel dan hari Minggunya saya baru selesai memoles. Alhasil, hasil suntingan a.k.a polesan di 267 hlm A4 itu harus saya pindahkan ke file word (karena saya editingnya manual, pake Snowman merah dan biru ;-P).

Merasa tidak mungkin merampungkan itu semua dalam waktu sehari, saya pun memanggil bala bantuan. Orang pertama tentu saja Fransiskus Asisi, sang kekasih yang selalu rela direpotkan ๐Ÿ™‚ Datanglah dia dengan laptopnya dan kami mulai berbagi tugas, masing-masing seratus lebih halaman.

Menjelang malam, ada sekitar 70-an halaman yang belum dituangkan. Mampus, deh! Kalau dihitung-hitung, gak bakalan cukup waktunya, belum lagi saya masih mau mencari arti beberapa kata dan kalimat yang masih ‘mbuletisasi’.

Di tengah keputusasaan itu, saya teringat Mega Marlova (ceile…) dan langsung menghubunginya.

“Oke, bisa, jam tujuhan ya aku ke sana,” balasnya dan saya langsung plong.Terus malah makin happy karena selain datang menjinjing laptopnya, ia pun membawa sekotak terang bulan. Terharu banget ๐Ÿ™‚

Akhirnya, setelah mereka berjam-jam duduk hingga punggung rasanya mau patah (istilah Mega), terancam minus karena membaca coretan-coretan saya yang luar biasa โ€˜indahโ€™ dan โ€˜rapiโ€™, juga ikut pusing mikirin padanan kata yang lebih luwes, pukul 23.00 WIB alih-penyuntingan pun rampung. Yay! Dengan merdeka mereka pun pulang ke kediaman masing-masing.

Tinggallah saya yang masih berkutat mencari kata dan frase yang belum ketemu artinya, menyamakan istilah, dan memeriksa kembali hasil alih-sunting mereka di file word โ€“ hingga dini hari. ย Finally, naskah terjemahan sampai dengan sukses di inbox sang editor 13.00 WIB.

Rasanya tuh campur aduk: lega beribu lega plus sekujur badan sakit-sakit seperti habis hiking ke Himalaya ๐Ÿ˜› Ditambah perut sebah dan kepala pusing, lengkaplah sudah โ€˜hiburanโ€™ ini.

Maka datanglah lagi sang kekasih, membawa degan ijo sebiji dan pil lelap. Biar tidurnya enak dan bangunnya segar, katanya. Yah, daripada dikenakan charge alih-sunting, mending saya nurut saja, hehehe. Eh, ternyata tokcer juga, besoknya bangun dengan segar. Semua pegel linu hilang tak berbekas!

So … what I want to say is: tanpa kasih dan pertolongan mereka berdua, gak kebayang deh apa yang bakalan terjadi. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang … untuk menolong saya di saat saya memang sangat membutuhkan bantuan.

Karena itu, halaman ini khusus dipersembahkan untuk mereka berdua, sahabat-sahabat sejatiku.

0 Replies to “THAT’S WHAT FRIENDS ARE FOR …”

  1. Thats lover are for

  2. selviya hanna says: Reply

    Iya sayang ๐Ÿ™‚

Leave a Reply