Eclair: Pagi Terakhir di Rusia

sumber: www.gagasmedia.netAkhirnya, novel ini berhasil saya rampungkan. Minggu kemarin adalah minggu yang super sibuk dan saya harus curi-curi waktu untuk membacanya πŸ™‚

Bagi yang mau lihat sinopsis ceritanya, silakan cek di sini.

Membaca novel ini, saya lebih banyak menikmati jalinan kata-kata yang teruntai indah πŸ™‚ Patut diakui, Prisca Primasari berhasil memasukkan gaya ‘western‘ dalam pemilihan struktur kalimat dan diksi, sehingga terkesan seperti buku terjemahan. Selain itu, sang penulis juga memasukkan banyak wawasan tentang sastra, filsafat, dan setting cerita, sehingga bisa dibilang buku ini tidak “asal ditulis”. Sang penulis berhasil melakukan riset dengan baik.

Akan tetapi, dari sisi plot, saya merasa konfliknya kurang ‘nendang’. Penyelesaian masalah pun bisa dengan cepat dan mudah, misalnya ketika Kay ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan dan Katya dengan mudah menemukan pembunuhnya dan membebaskan Kay. Begitu juga sumber masalah utama yang diangkat – kesalahpahaman – membuat saya merasa Lhiver bukan sosok yang cukup dewasa untuk bisa melihat dengan jernih siapa yang sesungguhnya bersalah di balik terbunuhnya orang tua dan adiknya. Dan ini agak aneh, melihat profesi Lhiver – dosen di jurusan Sastra Inggris perguruan tinggi terkemuka, yang notabene seorang akademisi yang semestinya mampu berpikir logis. Yang terakhir, jalan ceritanya kok berbeda sekali dengan sinopsis cover belakangnya yah?

Namun terlepas dari semua itu, cara Prisca Primasari menyajikan kilasan-kilasan peristiwa yang dialami kelima tokoh sentral dalam novel ini – Kay, Sergei, Katya, Stephanych, dan Lhiver – patut diacungi jempol. Banyak loncatan-loncatan adegan dengan waktu kejadian yang berbeda-beda, tapi tidak membingungkan pembaca Eclair, malah makin memperkuat β€œrasa” cerita. Selain itu, setiap tokoh diberi porsi yang cukup sehingga saya bisa memahami karakter dan kejiwaan masing-masing tokoh *belagak psikolog ;-P. Hal yang juga saya rasakan ada dalam karya-karya Jodi Picoult, novelis favorit saya. Selain itu, cara penuturan Prisca Primasari sangat filmis, membuat saya bisa menyelami perasaan para tokoh dan ikut terhanyut di dalamnya. Ending-nya pun manis, membuat saya tersenyum bahagia.

Akhir cerita, saya menikmati novel ini dari lembar pertama hingga lembar terakhir. Eclair: Pagi Terakhir di Rusia cocok dinikmati di dalam kamar, berselimutkan selimut hangat dan secangkir teh, ketika rintik hujan turun membasahi bumi di luar sana. Kalau sambil makan eclair, malah makin sedap!

Happy reading! πŸ™‚

Judul buku: Eclair | Penulis: Prisca Primasari | Editor: Kinanti Atmarandy | Desain sampul: Jeffri Fernando | Penerbit: Gagasmedia | Jumlah Halaman: 234 hlm

Advertisements

2 thoughts on “Eclair: Pagi Terakhir di Rusia

    1. selviya hanna Post author

      Owh, halo mas kurnia (bener yah cara manggilnya), makasih sudah mampir ke sini πŸ™‚ di sini emang banyak buku — baik yang review maupun hasil karya sendiri — boleh2 aja dipinjam, mas! Tapi ya apa caranya yah, hehehe πŸ˜€

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s