Love Me As The Way I Am

Ada dua alasan utama saya menggemari buku anak, khususnya storybook. Yang pertama adalah karena saya selalu ingin menjadi penulis bacaan anak yang produktif, meski sekarang masih terkendala oleh kesibukan menerjemahkan. Tapi paling tidak, saya terus mengisi asupan gizi dan menimbun bank ide yang siap diolah begitu saya punya waktu senggang. Alasan kedua adalah karena kisah-kisah itu sering kali menyentuh defisit saya yang terdalam, memuaskan sisi anak kecil dalam jiwa saya.

Di antara koleksi buku bacaan anak yang menggunung di kamar saya, ada satu storybook yang suka saya baca berulang-ulang. Buku itu berjudul The Doll Who Burps & Burps & Burps, yang ditulis oleh Arleen Amidjaja, penulis buku anak favorit saya. Cerita ini berkisah tentang seorang boneka yang defective—hanya bisa bersendawa, ketika seharusnya ia dirancang untuk dapat menyanyikan sepuluh kidung Natal yang indah. Di saat boneka-boneka penyanyi lainnya dibeli dan menemukan rumah untuk melewatkan hari Natal, boneka yang satu ini hanya dapat menunggu dengan sedih di rak yang tersisih. Bahkan gadis penjaga toko pun menorehkan tanda silang pada kotanya, tanda bahwa boneka itu rusak. Di tengah keputusasaanya, datanglah seorang gadis kecil bersama ibunya, tepat menjelang toko itu ditutup. Sang anak sedang bersedih karena kakek kesayangannya meninggal seminggu yang lalu. Ajaibnya, sendawa si boneka – yang mirip sekali dengan sendawa kakeknya – justru menghibur dan membuatnya gembira! Boneka defective ini pun menemukan tempat pulang.

Apa yang bisa dipetik dari kisah ini? Saya sendiri banyak belajar dari kisah ini, dan bahkan masih meneteskan air mata ketika membacanya, padahal sudah lebih dari lima kali buku ini saya bolak-balik. Saya bisa memahami perasaan boneka itu, betapa tidak nyamannya ditolak dan dianggap “rusak” hanya karena berbeda dengan yang lain. Juga betapa bahagianya ia ketika tahu ada orang yang menerima dan menyayanginya apa adanya – as the way she is. Dan saya yakin, inilah kerinduan hati setiap manusia.

Satu pesan yang menonjol dari kisah ini: menjadi berbeda tidak selalu buruk, bahkan tercipta untuk suatu tujuan. Seperti kata Albert Einstein,“Tuhan tidak bermain dadu.” Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau si boneka yang dilabeli defective saja masih bisa mendatangkan keceriaan bagi seorang gadis kecil, terlebih lagi kita.

Kisah ini juga mengajak setiap kita untuk mensyukuri dan mencintai, bukan hanya diri kita, tetapi juga mulai mengasihi orang yang ada di sekitar kita as the way they are. Memperlakukan mereka sebagai manusia yang berharga. Tidak menilai mereka dari standar dan ukuran yang kita tetapkan sendiri, karena Tuhan yang menciptakan mereka, punya misi tersendiri dalam hidup mereka. Dan juga hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s