Awal Mula Melamar Sebagai Penerjemah Buku Lepas …

… kira-kira setahun yang lalu, saya bertekad maju tanpa satu pun pengalaman menerjemahkan buku. Memang, saat itu saya sudah bekerja beberapa bulan di penerbit yang menerbitkan buku-buku terjemahan, tapi hingga saat itu, kapasitas saya adalah editor. Saya tidak pernah secara serius menerjemahkan buku dan mengomersilkannya.

Karena itu, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan portfolio. Sederhana saja, karena saya belum punya portfolio buku, saya menerjemahkan sendiri bagian-bagian dari novel yang saat itu belum diterjemahkan. Ada lima sampel terjemahan yang saya buat, masing-masing terdiri dari lima sampai sepuluh halaman. Lima sampel itu saya ambil dari berbagai genre: non-fiksi, fantasi young-adult, chicklit, dan romance. Saya terjemahkan sebaik-baiknya dan saya tata berselang-seling (teks asli, diikuti terjemahan) per paragraf; tujuannya adalah agar editor/reviewer bisa langsung memeriksa kualitas terjemahan saya tanpa harus mencari-cari buku aslinya.

Saya memakai cara yang tergolong konvensional: buku asli dipindai per halaman, lalu dipotong-potong menggunakan Adobe Photoshop dan ditata di Microsoft Word. Hanya saja, tidak semuanya berhasil saya dapatkan ­buku fisiknya. Ada yang akhirnya saya buru ke Amazon, karena situs itu menyediakan book preview dari sebagian besar buku yang dipajang di sana. Lagi-lagi saya harus memutar otak karena tidak mungkin tampilan book preview itu bisa langsung disalin atau disimpan. Akhirnya, saya gunakan fasilitas Print Screen di PC, lantas saya pindahkan dan retouch di Adobe Photoshop. Jangan tanyakan kualitasnya, sudah pasti agak buram meski masih terbaca.

Setelah sampel terjemahan siap, saya pun mengetuk pintu tiap-tiap penerbit yang setahu saya menerbitkan buku terjemahan. Sasaran saya adalah genre fiksi, karena di kantor sudah menggarap buku-buku non fiksi dan saya butuh penyegaran, haha. Saya kirimkan e-mail yang memuat niat saya untuk melamar sebagai penerjemah lepas di sana, lengkap dengan kelima sampel terjemahan tadi.

Satu, dua, tiga minggu berlalu tanpa satu pun e-mail balasan. Waktu itu saya masih belum kenal siapa-siapa di rimba penerjemahan fiksi, jadi yah hanya bisa mengandalkan e-mail atau Facebook penerbit. Siapa sangka, di minggu keempat ada seorang editor yang balik menghubungi saya, dan dari situlah perbincangan berlanjut. Saya pun diberi tes menerjemahkan cerpen klasik yang WOW, luar biasa sulit dan jelimetnya. Pusinglah saya karena tak pernah menerjemahkan karya klasik sebelumnya.

Syukurlah, ketika ke toko buku, saya menemukan kumpulan cerpen terjemahan dari penulis yang sama. Memang cerpen yang diteskan ke saya tidak ada di sana (kalau ada, pasti saya akan langsung minta ganti bahan tes, haha), tapi itu sangat berguna untuk bahan belajar. Saya print cerpen berbahasa Inggrisnya dan saya bandingkan dengan hasil terjemahannya, mencoba mempelajari gaya penerjemahannya. Setelah itu, saya kerjakan tesnya dan saya kirimkan dengan harap-harap cemas. Ternyata, Tuhan mengizinkan saya untuk lolos dari tes ini! Hehehe 🙂 Lucunya, order terjemahan pertama saya dari editor cantik itu ternyata fiksi yang sangat kekinian, dengan bahasa yang lugas dan sarat humor. Yah, sepertinya di dalam rimba penerjemahan, akan ada sangat banyak hal yang tidak terduga.

Sekian saja cerita saya. Dengan ini, utang janji saya pada beberapa teman yang pernah bertanya mengenai cara menjadi penerjemah buku lepas via Facebook, terbayar lunas! 🙂

Untuk referensi pengalaman penerjemah lainnya, silakan cek tautan di bawah ini:

Semoga berguna 🙂

Advertisements

33 thoughts on “Awal Mula Melamar Sebagai Penerjemah Buku Lepas …

  1. Rini Nurul Badariah

    Terima kasih tautannya, Selvy. Nanti kutaut di satu poin FAQ blogku, ya.
    Pikir-pikir, aku sendiri belum pernah melamar secara khusus:)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Sama-sama, Mbak Rini. Maaf linknya kupasang tanpa izin lebih dulu, haha. 🙂 Setiap orang memang punya proses yang beda-beda ya, Mbak. Aku pernah baca pengalaman awal mula Mbak Rini dulu, tapi kucari-cari tadi gak nemu, lupa judulnya apa.

      Reply
  2. Rini Nurul Badariah

    Duh, komenku tidak lengkap. Maksudnya aku belum pernah menulis secara khusus soal melamar:(
    Makasih sekali lagi ya Selvy, nanti aku akan posting soal itu… jadi malu, deh.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Ooh 🙂 Iya, Mbak, seingatku dulu itu Mbak Rini mengulas singkat tapi bukan khusus ‘melamar’. Ditunggu postingannya 😀

      Reply
  3. Pingback: Tak Sengaja Menjadi Penerjemah « Kuliner, Gizi, dan Kesehatan

    1. selviya hanna Post author

      Wah ke mana-mana, Mbak. Pertama kali melamar ke Qanita, lini Mizan. Sekarang penerbit yang menerbitkan buku terjemahan udah banyak banget yah. Tinggal beli bukunya, cari alamat e-mailnya, siapkan portfo, langsung tancap 🙂

      Reply
    1. selviya hanna Post author

      kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni dan kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia yang di atas rata-rata 🙂

      Reply
  4. Pingback: Kisah Menerjemahkan The Idiots (2014) | selviya hanna

  5. riana

    wow mbak, makasih share-nya.. jadi ikut tertarik nih..
    btw, pertanyaan usil: biasanya untuk 1 novel gitu rata-rata butuh berapa lama pengerjaannya mbak?

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Sama-sama, Mak Riana. Untuk masa pengerjaan sangat bervariasi, tergantung tebal halaman dan tingkat kesulitan. Kalau standar sih, untuk novel 200an halaman, penerbit biasanya memberi tenggat 2 bulan.

      Reply
  6. dearmarintan

    Wah, menarik nih.. saya pengen jadi penerjemah juga untuk buku-buku terbitan penerbit besar.. bukan karena uanganya, tapi lebih untuk aktualisasi diri sebagai penulis dan juga ingin menjaga pengetahuan terjemahan yang saya peroleh sewaktu kuliah dulu.. tapi selain jadi penerjemah buku, dari dulu saya tuh pengen banget jadi penerjemah skrip film asing yang tayang di Indonesia.. soalnya saya sering banget nonton film di bioskop dan kadang suka bete kalo baca terjemahan idiom yang ga pas sama makna sebenarnya, alias diterjemahkan terlalu harfiah… misalnya “monkey in the back” yang diterjemahkan “monyet di punggung”, padahal harusnya artinya “kecanduan narkoba”..

    Artikel yang menarik nih, mba Selviya.. saya follow ya blognya 🙂

    Reply
  7. Nathalia DP

    waa makasih udah berbagi.. bermanfaat bgt pengalamannya.. kalau bukan lulusan sastra inggris apa tetap bakal dilirik penerbit?

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Sama-sama, Mak. Ada banyak penerjemah mumpuni yang latar belakang pendidikannya bukan Sastra Inggris, misalnya Mbak Femmy Syahrini, Mbak Nur Aini, dan masih banyak lagi. Yang penting kan hasil kerjanya, bukan jurusannya dulu 🙂

      Reply
  8. Euis Sri Nurhasanah (@EuisSriNur)

    Terima kasih sharingnya Mak. Saya udah lama pengen nyobain jadi penerjemah freelance. Tapi… Biasanya penerbit kalau buka lowongan minta syarat hrs lulusan sastra Inggris, juga mensyaratkan score TOEFL tertentu? Kalau langsung kirim sample aja kayak Mak bisa dilirk juga yah?

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Sama-sama, Mak Euis. Ya, setahu saya ada juga penerbit yang mensyaratkan kedua hal itu. Tapi saya rasa, selama sampel terjemahan kita bagus dan cocok dengan selera editor, masak sih gak bakal dilirik? Saya tidak pernah mencantumkan skor toefl, dan beberapa teman penerjemah yang linknya saya bagikan di artikel ada yg bukan lulusan sastra inggris lho 🙂 Tapi, mengenai toefl, kalau memang disyaratkan, ikutin aja, mak. Toh tinggal tes saja. Mungkin dengan itu kans diterima semakin besar.

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s