Kekhawatiran, Resepsi, dan Tuhan

Tak terasa, sekarang sudah pertengahan bulan Januari, dan lima belas hari di tahun yang baru ini telah terlewati. Ketika sedang duduk di depan laptop, ditemani riuh obrolan tetangga yang sulit dimengerti (karena berbahasa Jawa), tiba-tiba tebersit ide di benak saya untuk menuliskan topik ini.

Kekhawatiran adalah tema yang cukup lekat dalam hidup saya sebab bisa dibilang saya ini pencemas tingkat tinggi. Setiap dibonceng dalam perjalanan pulang-pergi kantor, saya selalu ketar-ketir kalau ada motor atau mobil yang berjarak terlalu dekat dengan motor yang saya tumpangi. Setiap menonton film roman sedih yang salah satu pasangannya meninggal, saya pasti langsung menelepon atau meng-SMS kekasih saya, mengecek keadaannya. Kekhawatiran jugalah yang membuat saya takut mencoba berbagai permainan seru (baca: berani mati) di taman hiburan. Alasannya klise: takut jatuh. Syukurlah, dalam beberapa hal sentral dalam hidup ini, saya mampu menepis kekhawatiran itu dan berani melangkah maju. Namun terkadang, kekhawatiran juga bisa membuat saya insomnia bermalam-malam, dan membuat kekasih kesal karena saya uring-uringan terus dan gampang meledak. Seperti yang terjadi kira-kira dua bulan yang lalu.

Sepulangnya dari pertunangan kami di Sorong, saya dan kekasih mulai menyiapkan pernikahan. Saya mulai membeli buku Wedding Planner, giat mencari informasi via internet mengenai vendor-vendor yang ada, juga mengalkulasi estimasi biaya yang dibutuhkan. Untung saja semenjak bulan-bulan sebelumnya, saya dan kekasih sudah mulai menabung. Kami memang berniat membiayai pernikahan ini sendiri. Alasannya sederhana: kami tak ingin merepotkan orang tua. Terlebih lagi, pernikahan yang ingin kami gelar bukanlah pernikahan yang mewah. Kami hanya ingin mengundang sedikit tamu (maksimal 200 orang), dan itu pun dari teman-teman dan kolega yang kami kenal dekat. Sempat terpikir kami mau mengadakan resepsi sederhana persis di samping gereja. Jadi, seusai menghadiri pemberkatan, para tamu bisa langsung berjalan beberapa langkah ke terop warna putih-hijau yang sederhana namun manis. Bahkan, kartu undangan dan suvenirnya ingin kami tangani sendiri demi memangkas biaya.

Setelah hitung-menghitung dan merencanakan, kami pun bertandang ke pameran wedding. Kebetulan saat itu di Galaxy sedang ada wedding expo, namun rupanya vendornya sangat sedikit dan harga yang mereka tawarkan out-of-budget. Saya pun pulang dengan kecewa. Dari kisaran harga yang kami kumpulkan dari brosurnya, saya coba menghitung ulang anggaran, dan tahu apa yang saya temukan? Saya harus menambah nyaris 2/3 budget supaya bisa mewujudkan impian pernikahan saya yang sederhana itu. Harga sewa terop ternyata cukup mahal, belum lagi dekorasi dan pelaminannya. Belum lagi kateringnya. Belum lagi bridalnya. Belum lagi tiket PP orang tua Sorong-Surabaya. Aarrggghhh! *jambak-jambak rambut.

Maka saya pun berkubang dalam kekhawatiran. Selama berhari-hari, saya tidur di atas jam dua. Puncaknya, migrain pun kumat dan saya tepar di kamar, tidak masuk kantor. “Sudahlah, ini pasti ada solusinya,” kata kekasih saat saya curhat padanya. Tapi dalam hati saya menyangkali kata-katanya, tahu bahwa secara matematis kami tak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu yang kian mendesak. Apalagi kami harus mengurusi segala tetek-bengek pernikahan sendiri.

Namun kemudian, di suatu saat teduh pagi hari, Tuhan menegur saya melalui firman-Nya:

Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:6-7)

Jleb! Bagian firman Tuhan ini langsung menikam dan menyadarkan saya, bahwa saya seharusnya tidak perlu khawatir. Toh Tuhan yang saya sembah adalah Bapa yang baik, yang akan menyediakan kebutuhan anak-anak-Nya. Saya pun tersadar bahwa bukannya membawa ini dalam doa dan permohonan, sambil tetap mengucap syukur, saya malah terjebak dalam pemikiran manusia saya yang dangkal. Saya lupa, saya tidak harus menanggung semua ini sendirian. Saya punya Tuhan yang berdaulat dan berkuasa atas bumi dan seluruh isinya, termasuk kehidupan saya.

Maka saya pun minta ampun pada Tuhan dan menyerahkan segala kekhawatiran saya kepada-Nya. Sesudah itu, jam tidur saya kembali normal. Sikap hati saya pun menjadi lebih berserah.

Beberapa minggu kemudian, saya diberitahu kalau ada pameran Universal Wedding di Tunjungan Plaza. “Vendornya lebih banyak, harganya juga lebih terjangkau,” kata seorang teman yang sudah lebih dulu berkunjung ke sana. Dan kata-katanya memang benar. Vendornya banyak sekali, sampai kaki kami pegal-pegal karena berkeliling. Namun dari segi harga, kami belum menemukan yang pas. Rata-rata mematok harga yang masih out-of-budget. Sempat terpikir untuk pulang saja, karena toh rata-rata di sini kisaran harganya segitu. Namun saya tertarik untuk mampir di sebuah vendor bridal yang saat itu cukup ramai pengunjung. Namanya Cinderella Bridal. Iseng, saya ambil brosurnya.

Dan detik itu juga, saya terkejut.

Spesifikasi paket yang ditawarkan di situ nominal harganya sama persis dengan anggaran mula-mula kami! Dengan jumlah tamu yang sama. Semuanya dapat (mulai dari gaun, make up, jas, gaun dan make up orang tua, resepsi di resto Chinese yang setahu saya makanannya enak, kue pengantin, mobil pengantin, confetti, fotografer, video, dll). Dan karena vendor ini merangkap wedding organizer, kami tidak perlu repot-repot mencari vendor. Yang tidak ada cuma suvenir, undangan, dan mc, yang kesemuanya bisa kami tangani sendiri. Apalagi ada banyak teman saya yang cukup mumpuni untuk menjadi mc, tinggal pilih saja. Sepulangnya dari pameran, saya langsung menelusuri review vendor ini di internet. Ternyata, rata-rata pengguna jasa Cinderella Bridal ini puas dengan kinerjanya. Akhirnya, dengan membulatkan tekad, kami pun kembali ke sana di hari ketiga pameran dan melunasi uang muka.

Sesudah itu lewat, hati ini rasanya plong sekali! Ya, memang kami masih harus mengumpulkan uang untuk pernikahan ini, tapi jumlahnya tidak banyak. Dan Tuhan terus menunjukkan kasih dan berkat-Nya. Di awal tahun ini, satu novel fantasi selesai saya terjemahkan dan tinggal menunggu transferan. Selain itu, sudah ada tiga buku lagi yang antre untuk diterjemahkan. Bulan depan pun masanya pembayaran royalti, dan moga-moga, buku anak tulisan kami menuai hasil yang memuaskan. πŸ™‚

Jadi, saat ini saya hanya bisa tersenyum mengenang kekonyolan saya tempo hari. Kenapa sih saya waktu itu begitu khawatir? Seandainya saya tahu ujung-ujungnya akan seperti ini, saya pasti bakal tenang-tenang saja. Tapi mungkin seperti itulah hidup dalam iman. Kita dituntut untuk percaya dan berserah, meski belum melihat hasilnya.

Advertisements

2 thoughts on “Kekhawatiran, Resepsi, dan Tuhan

  1. Linda B

    Thanks for sharing! Saya orgnya juga suka paranoid dan susah tidur jika ada masalah…padahal sudah hapal ayat di atas luar kepala, tp tetap saja yg namanya manusia suka lupa ada Kuasa yang lebih besar. Syukurlah Tuhan selalu mengingatkan kita bahwa tidak ada yang mustahil untukNya. Congrats on your upcoming wedding ya…:)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Sama-sama, Mbak Linda. Wah, ternyata kita punya kemiripan. πŸ™‚ Memang penyertaan Tuhan selalu sempurna … sayangnya pandangan kita kerap dikaburkan oleh kekhawatiran, sehingga kita gagal melihat-Nya dengan jelas. Thanks for your good wishes, Mbak πŸ™‚

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s