Satu Yang Menjadi Dua

Satu lagi cuplikan dari novel young-adult yang belum lama ini saya tangani:

β€œPeople make promises all the time they don’t intend to keep.” Just like she’d promised to quit smoking and drinking and hooking up with men. Promises run cheap in our dysfunctional family.

Ini hasil terjemahan awal saya:

“Orang-orang terus membuat janji yang tidak ingin mereka tepati.” Persis seperti saat dia berjanji akan berhenti merokok, minum-minum, dan nongkrong dengan laki-laki. Janji dihargai murah dalam keluarga abnormal kami.

Lantas saya sunting menjadi:

Begitulah manusia. Selalu membuat janji yang nggak ingin mereka tepati.” Persis seperti saat dia berjanji akan berhenti merokok, minum-minum, dan nongkrong dengan laki-laki. Janji dihargai murah dalam keluarga abnormal kami.

Alternatif lain:

“Ah, janji-janji melulu, padahal belum tentu ditepati.”

Entah mana yang akan dipilih Mbak editor. πŸ™‚

0 Replies to “Satu Yang Menjadi Dua”

  1. Rini Nurul Badariah says: Reply

    Menilik genrenya, mungkin yang kedua, Selvy:D

    1. selviya hanna says: Reply

      Hehe, iya juga, Mbak. Semoga dirasa pas dengan konteksnya. πŸ™‚

  2. “Dasar manusia. Janji palsu melulu.” *yang ini jangan dipake… hehe*

    1. selviya hanna says: Reply

      Wah… janji palsu-nya keren πŸ˜€ Jadi ingat lagu dangdut, Mbak, tapi lupa penyanyinya siapa, hehe πŸ™‚

  3. Klo aku msh ga biasa terlalu ‘bebas’, jd bakal pake “Orang selalu membuat janji yang mereka tidak berniat tepati” (zzz….)

    1. selviya hanna says: Reply

      Ahaha, ada zzz-nya.. mirip temanku πŸ˜€ Iya Mbak, adakalanya aku pun berusaha mempertahankan bentuk aslinya dan tidak merombak terlalu banyak. Cuma karena ini yang ngomong remaja cowok (yang lagi kesal sama ibunya), kuputuskan untuk rombak struktur. πŸ™‚

      1. Memang menerjemahkan teh harus selalu lihat konteks :-p Makanya saya lebih suka menerjemahkan novel sejarah atau fantasi, supaya tidak terlalu sering perlu mengubah struktur kalimat untuk menyesuaikan dengan gaya bicara zaman modern, hehehehehehe…

      2. selviya hanna says: Reply

        Halo, Mbak Femmy. Kalau menerjemahkan fiksi klasik atau non fiksi tentu berbeda lagi, ya? *pasti rombak strukturnya lumayan banyak atas nama keluwesan πŸ™‚ Makasih sudah berkunjung ke sini.

      3. Iya, jenis keluwesannya berbeda dengan keluwesan percakapan remaja. Aku lebih suka menerjemahkan kalimat njlimet ala Jonathan Strange & Mr Norell, daripada percakapan remaja ala Percy Jackson.

Leave a Reply