Satu Yang Menjadi Dua

Satu lagi cuplikan dari novel young-adult yang belum lama ini saya tangani:

“People make promises all the time they don’t intend to keep.” Just like she’d promised to quit smoking and drinking and hooking up with men. Promises run cheap in our dysfunctional family.

Ini hasil terjemahan awal saya:

“Orang-orang terus membuat janji yang tidak ingin mereka tepati.” Persis seperti saat dia berjanji akan berhenti merokok, minum-minum, dan nongkrong dengan laki-laki. Janji dihargai murah dalam keluarga abnormal kami.

Lantas saya sunting menjadi:

Begitulah manusia. Selalu membuat janji yang nggak ingin mereka tepati.” Persis seperti saat dia berjanji akan berhenti merokok, minum-minum, dan nongkrong dengan laki-laki. Janji dihargai murah dalam keluarga abnormal kami.

Alternatif lain:

“Ah, janji-janji melulu, padahal belum tentu ditepati.”

Entah mana yang akan dipilih Mbak editor. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Satu Yang Menjadi Dua

    1. selviya hanna Post author

      Wah… janji palsu-nya keren 😀 Jadi ingat lagu dangdut, Mbak, tapi lupa penyanyinya siapa, hehe 🙂

      Reply
  1. Linda B

    Klo aku msh ga biasa terlalu ‘bebas’, jd bakal pake “Orang selalu membuat janji yang mereka tidak berniat tepati” (zzz….)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Ahaha, ada zzz-nya.. mirip temanku 😀 Iya Mbak, adakalanya aku pun berusaha mempertahankan bentuk aslinya dan tidak merombak terlalu banyak. Cuma karena ini yang ngomong remaja cowok (yang lagi kesal sama ibunya), kuputuskan untuk rombak struktur. 🙂

      Reply
      1. Femmy Syahrani

        Memang menerjemahkan teh harus selalu lihat konteks :-p Makanya saya lebih suka menerjemahkan novel sejarah atau fantasi, supaya tidak terlalu sering perlu mengubah struktur kalimat untuk menyesuaikan dengan gaya bicara zaman modern, hehehehehehe…

      2. selviya hanna Post author

        Halo, Mbak Femmy. Kalau menerjemahkan fiksi klasik atau non fiksi tentu berbeda lagi, ya? *pasti rombak strukturnya lumayan banyak atas nama keluwesan 🙂 Makasih sudah berkunjung ke sini.

      3. Femmy Syahrani

        Iya, jenis keluwesannya berbeda dengan keluwesan percakapan remaja. Aku lebih suka menerjemahkan kalimat njlimet ala Jonathan Strange & Mr Norell, daripada percakapan remaja ala Percy Jackson.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s