Perlukah Tahapan Review Dalam Menyunting Terjemahan?

Biasanya, dalam penerbit-penerbit besar yang dituntut menerbitkan buku sekian judul per bulan, ada orang yang khusus bertugas mereview hasil terjemahan dari penerjemah. Jadi, hasil terjemahannya ‘diperiksa’ kesesuaian atau kesetiaannya pada naskah sumber dulu, baru diserahkan ke penyunting. Tentu ini sangat memudahkan penyunting, karena ia bisa berfokus untuk memperhalus bahasa. Setahu saya, penerbit luar negeri pun menerapkan sistem seperti ini.

Namun ada juga penerbit di Indonesia yang tidak mengenal pembagian tugas seperti di atas. Biasanya penyunting merangkap tugas reviewer: ya mengecek hasil terjemahan, ya memperhalus bahasa. Mungkin kalau tebalnya masih relatif wajar, misalnya 100-300 halaman, ini tidak akan terasa berat. Tapi kalau di atas itu, waduh, sangat menguras waktu dan tenaga.

Pernah, untuk menyiasati tenggat dan jumlah halaman yang tebal, saya putuskan untuk tidak mencocokkan hasil terjemahan dengan naskah sumber. Saya langsung perhalus si naskah terjemahan, sambil sesekali melirik naskah sumber kalau dirasa ada kalimat, pemilihan kata, atau logika penulisan yang mengganjal. Karena bahasa si penerjemah mengalir mulus, tidak banyak yang saya bandingkan dengan naskah sumber. Alhasil, naskah terjemahan selesai disunting dalam waktu singkat dan langsung di-layout. Dalam hati saya bangga, bisa mengumpulkan ke koordinator lebih cepat dari biasanya, hehe 😀

Namun ketika dummy-nya dicek oleh koordinator, ia menemukan bahwa ada banyak kalimat yang tidak sesuai dengan maksud penulis di naskah sumber. Rupanya ia membandingkan naskah sumber dan naskah suntingan akhir saya, dan menemukan kesalahan-kesalahan yang luput dari suntingan saya. Akhirnya saya ambil balik dummy-nya dan saya cocokkan lagi dengan naskah sumbernya, dari dari awal hingga akhir.

Maunya efisien waktu dan tenaga, eh malah… rugi. 😛

Nah, yang pasti peristiwa itu berhasil membuat saya jera. Sekarang setiap hasil terjemahan yang saya terima langsung saya review per kata dan per kalimatnya, karena sampai saat ini, di tempat saya bekerja belum ada reviewer. Tapi tak apa-apa. Lebih baik susah payah di awal, ketimbang repot di belakang. 🙂

Jadi, apakah tahapan review itu dibutuhkan dalam menyunting naskah terjemahan? Yes. Sure. Absolutely! 😀

Notes: artikel ini terinspirasi dari perbincangan beberapa teman penerjemah di status wall Facebook Mbak Rini.

Advertisements

10 thoughts on “Perlukah Tahapan Review Dalam Menyunting Terjemahan?

    1. Linda B

      biasanya saya gitu juga mba Fem, edit trus review, tp utk kerjaan yg saya garap kali ini kayanya ga sempet krn halamannya buanyak n tenggat standar, jd kynya bakal pakai cara Selvi di atas…toh diperiksa lagi ama editornya nanti hihi *siap2 digetok*

      Reply
    2. selviya hanna Post author

      Iya, aku juga biasanya begitu, Mbak Femmy. Hanya saja pernah nekad menyunting tanpa review utuh (lantaran tenggat yang dirasa mepet), dan berakhir dengan bencana, haha. 🙂

      Reply
  1. lamfaro

    Ya, memang pelik juga klo baru melirik naskah asli ketika ketemu yang janggal. Aku pernah ngalamin, ketemu suatu kejanggalan yang disebabkan beberapa alinea sebelumnya. Itu gara-gara aku “malas” bolak-balik ngecek naskah asli. Abis itu, ga lagi-lagi deh. Jadinya kadang waktu yang dibutuhkan untuk menyunting pun bisa sama lamanya dengan waktu menerjemahkan, tapi tergantung terjemahannya juga sih 🙂

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Memang paling ideal dicek satu-satu, ya Mbak. Tapi ya itu, kadang-kadang ngantuk, malas, atau terjemahannya sendiri gak mencurigakan, jadi tergoda untuk meloncati tahap itu. Tapi aku beneran kapok, satu kali itu saja, dan gak pernah kuulangi lagi sampai saat ini, haha. 😀

      Reply
  2. Rini Nurul Badariah

    Hmm, kalau boleh tahu, rata-rata yang Selvy tempuh untuk menyunting berapa lamakah? Dan berapa halaman naskahnya? Aku setuju, langkah paling ideal adalah membandingkan sedari mula dengan naskah asli. Tapi kalau naskahnya tebal, katakanlah 500 halaman ke atas, aku merasa kerepotan juga:) Ditunggu ceritanya ya. Makasih sebelumnya:)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Kalau dirata-rata, untuk 250-300 halaman, aku butuh sekitar dua belas hari untuk edit pertama (review+menghaluskan), lima hari untuk edit kedua (menghaluskan tanpa melihat naskah asli), dan satu sampai dua hari untuk membaca ulang dan mencari salah ketik. Tetapi bisa kurang atau lebih dari itu, Mbak, tergantung kualitas hasil terjemahan dan bobot materi. Pernah aku menangani naskah terjemahan yang sudah pindah tangan beberapa kali, dan untuk edit pertama saja aku butuh waktu nyaris sebulan karena seolah harus menerjemahkan ulang dan meriset dari awal *mimpi buruk…

      Pas kejadian yang kuceritakan di atas memang tenggatnya dimajukan, jadi ya kelimpungan sendiri 🙂

      Reply
  3. Femmy Syahrani

    Terlepas dari kerepotannya, bukankah tugas utama kita sebagai penyunting luar adalah memastikan keakuratan terjemahan? Menurutku itu bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar.

    Entah bagaimana editor di penerbit lain, tetapi sewaktu saya bekerja di penerbit, terjemahan yang sudah bagus (akurat) cukup disunting oleh editor di dalam. Editor tinggal memperhalus bahasa dan memikirkan soal mengemas buku. Kalau terjemahannya tidak akurat dan perlu waktu ekstra untuk membandingkannya dengan teks asli, barulah terjemahan itu dilempar ke editor luar. Kalau editor luarnya ngga membandingkan dengan teks asli, ya percuma dong penyuntingan diserahkan kepada editor luar.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Iya, Mbak Femmy. Aku sangat sepakat dengan pendapat Mbak karena idealnya memang seperti itu. Selama ini aku menjadi penyunting in-house dan aturan yang berlaku memang tetap sama. Bahkan kalau masih ada sisa waktu, dari dummy (setelah proofread), sempat-sempatin kubandingin lagi dengan buku aslinya.Hanya saja, tentu ada faktor x, dan tak ada manusia yang sempurna. Yah, semoga ke depannya kita semua bisa semakin berkembang dan semakin profesional. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s