Ketika Menerima Order Terjemahan Dengan Genre Yang Sama Sekali Berbeda

Mungkin saya tergolong mujur, karena meski pengalaman menerjemahkan saya belum bisa dibilang lama, saya sudah mencicipi beberapa genre yang berlainan. Apalagi jika tes awal penerjemah pun turut dihitung. Pernah, di awal kerja sama dengan suatu penerbit, materi tes saya diambilkan dari cerpen klasik yang jelimetnya minta ampun. Eh, setelah sungguhan diorder, saya justru dapat naskah kontemporer yang sangat ‘lelaki’. Sesudah menggarap naskah itu, iseng saya coba mengikuti tes penerjemah di penerbit lain, dengan genre historical romance, sampai dua kali (tapi gagal terus, haha, mungkin belum rezeki saya).

Lantas saya menerima order menerjemahkan novel semi memoar, dengan gaya bahasa yang sangat berbeda dengan garapan terdahulu. Setelah itu, saya berkutat dengan naskah non fiksi keuangan, lanjut naskah rohani yang agak ‘gaul’, dan setelah itu, mencebur ke novel fantasi young adult.

Mas Anto pernah berkomentar, “Kamu gak bingung ya, Dek? Kayaknya materi terjemahan kamu gak ada yang nyambung, deh.”Saya mengangkat bahu, bingung mau menjawab apa. Di satu sisi, saya cukup bisa menikmati variasi karena memang begitulah natur saya: gampang bosan kalau berkutat di topik yang itu-itu saja. Di lain sisi, tak ayal meloncat dari genre satu ke genre lain tentu membutuhkan energi ekstra untuk menyesuaikan diri dengan nafas cerita dan gaya bahasa. Jangan sampai, deh, gaya bahasa ‘keuangan’ terbawa-bawa saat menerjemahkan ‘fantasi. 🙂

Karena itu, biasanya saya ambil jeda waktu satu hingga dua minggu sebelum mulai menerjemahkan genre yang sama sekali berbeda. Dari pengalaman menerjemahkan novel fantasi, misalnya, sengaja saya penuhi to-read-list saya dengan buku-buku fantasi. Kalau ada yang berasal dari penerbit atau editor yang sama, novel itu sudah pasti wajib dibaca. Saya juga menyewa film-film fantasi dan animasi, membaca ulasan tentang buku tersebut di Goodreads, dan menelusuri situs atau blog sang penulis. Lagu-lagu Owl City juga memenuhi playlist saya. 😛 Nah, beda lagi saat menerjemahkan non fiksi keuangan. Saya rajin berkunjung ke portal bisnis online seperti Bisnis Indonesia, Kompas Bisnis, dan lain sebagainya. Trik yang sama pun saya gunakan dalam menyunting.

Diharapkan, sesudah itu saya bisa lebih menjiwai nyawa dari genre yang saya garap. 🙂 Itu trikku, bagaimana trikmu?

Advertisements

16 thoughts on “Ketika Menerima Order Terjemahan Dengan Genre Yang Sama Sekali Berbeda

  1. Mery Riansyah (@little_moroi)

    Trikkuuuu… apa yah hehe… baca bermacam-macam genre aja sebagai referensi. 😀
    Tapi untuk playlist, aku juga sama ama Selviya. 😀

    Setiap terjemahanku selalu ada cerita lagu apa yang kudengarkan pas nerjemahinnya. hihihi

    Sukses selalu buat Selviya 😀

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Oh ya?? Owl City juga? *yay, tos dulu … 🙂
      Asyik ya ada kisah lagu di balik proses penerjemahan, hehe 😀
      Thanks untuk triknya, dan sukses juga buat Mbak 🙂

      Reply
  2. Femmy Syahrani

    Aku ngga punya trik apa-apa, jadinya memang kesulitan saat harus beralih genre 😦 Dan anehnya, makin ke sini malah makin susah. Dulu pada awal karier dan selalu diberi buku Chicken Soup, aku ngga kesulitan menerjemahkannya. Tetapi lebih belakangan, aku malah pusing menghadapi perubahan gaya bahasa setiap kali beralih cerita. Bisa begitu ya…

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Wah, kalau Chicken Soup emang tingkat kesulitannya beda lagi ya, Mbak, mengingat setiap cerita punya gaya yang berlainan 🙂
      Salut lho sama Mbak Femmy. Mungkin Mbak hanya butuh sedikit penyegaran 😉

      Reply
  3. Linda B

    sama nih, eike jg gampang bosenan hehe…dr Harlequin ke paranormal romance ke HR ke paranormal romance lagi trus sambung chicklit n YA 😛 (bedanya, eike lbh konsen translate kalo hening :D)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Wohoho, asyik banget tuh Mbak 🙂 Ketemu lagi satu kesamaan kita, yaitu gampang bosan. Bedanya, kalau hening pas translate, aku bisa ketiduran … Kebalikan lagi kalau lagi menyunting. 🙂

      Reply
  4. Dina Begum

    Aku malah beberapa kali jumpalitan antara buku dan dokumen bukan buku. Bahkan, setelah rampung menerjemahkan buku, sebelum mengedit terjemahan sendiri, biasanya aku membaca/menggarap terjemahan lain dulu sekitar 2 hari baru kembali lagi ke terjemahan pertama. Biar fresh. Aku juga enggak mematok genre tertentu dalam menerjemahkan. Walhasil yang sudah kuterjemahkan genre-nya macam-macam. Cuma… kalau garap buku non-fiksi aku agak lelet, soalnya kurang asyik, enggak ada jagoannya hehe.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Boleh juga cara Mbak Dina: intermezo singkat biar lebih fresh 🙂
      Haha, iya dalam non fiksi gak ada jagoannya, kecuali memoar. 😀

      Reply
  5. lamfaro

    Aku ga punya trik khusus, karena udah 3 tahun ini selalu menggarap 2 buku yang berbeda (dan biasanya genre pun berbeda) dalam satu hari. Istilahnya klo ngobrol sama Rini di YM, syuting pagi dan syuting malem. :D… jadi switching ga terlalu berasa. Tapi untuk menjiwai buku yg digarap, aku selalu butuh waktu, yg jarang langsung didapat saat mengerjakan bab-bab pertama. Makanya buatku tahap edit atau baca ulang sebelum nyetor naskah ke penerbit itu sangat penting, karena aku sadar pas bab-bab awal itu kadang aku belum terlalu menyatu dengan naskah.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Kejar tayang terus ya, Mbak 🙂 Iya, sepakat, tahap edit atau baca ulang sebelum nyetor ke penerbit itu memang penting 🙂

      Reply
  6. Rini Nurul Badariah

    Bagiku setiap buku adalah hal baru, dan membutuhkan penyesuaian tersendiri. Aku pasang musik sebentar saja sekadar mengusir kantuk, dan lebih suka senyap agar bisa fokus. Mengenai membaca, waktuku sekarang terbatas jadi paling hanya sempat kebet-kebet buku rujukan. Aku lebih terbantu oleh film dalam pemahaman dan penyelaman napas buku:)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Jadi penasaran sama musik penghalau kantuk Mbak Rini… cadas atau romantiskah? 🙂 Thank you atas sharing-nya 😀

      Reply
      1. Rini Nurul Badariah

        Cadas atau semi cadas, hehehe. Yang paling kuingat, waktu garap When God was a Rabbit, aku bolak-balik mendengarkan Somewhere Only We Know-nya Keane karena terasa pas dan mendukung kemuraman cerita:)
        Terima kasih kembali, Selvy:)

  7. Nadia Mirzha Yusmarani

    salam kenal, mbak. Tulisan2 blognya asyik dan bermanfaat.
    Waaaaaaaahh…. enaknya punya banyak pengalaman menerjemahkan. Salut sama para expert translators!!!
    Bisa minta tips and tricks biar bisa dilirik sama para penerbit….? Apa sih mbak faktor yang paling penting untuk memulai menggeluti bidang ini?
    Terima kasih

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Salam kenal juga, Mbak 🙂 Makasih juga sudah berkunjung ke blogku. Sebenarnya karya terjemahanku belum bisa dibilang banyak, masih bisa dihitung dengan jari tangan 😀 Untuk trik agar dilirik penerbit, sebenarnya gak ada trik khusus. Aku hanya menyiapkan sampel terjemahan yang beragam dan kukerjakan sebaik-baiknya. Kisah tentang awal mula aku menjadi penerjemah ada di sini:https://selviya.wordpress.com/2012/01/11/awal-mula-melamar-menjadi-penerjemah-buku-lepas/

      Wah, faktor terpenting apa ya? Hmm, kalau menurutku sih passion, kemampuan memahami bahasa Inggris (kalau nerjemahin buku berbahasa Inggris), kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia (karena penerjemah berperan menyampaikan pesan si penulis asli dalam bahasa kita), dan kemauan untuk terus belajar. Terima kasih kembali 🙂

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s