Kisah Di Balik Penerjemahan Sun Stand Still

Cover asli Sun Stand Still

Mungkin saya tak akan bosan-bosannya menulis bahwa Sun Stand Still adalah buku yang istimewa. Bukan hanya karena ini karya terjemahan saya yang pertama dirilis; proses menerjemahkannya pun terbilang unik dan istimewa.

Awalnya penerbit Benaiah Books menyerahkan buku ini untuk saya garap dengan masa pengerjaan satu bulan lebih. Waktu itu saya menyanggupi, sebab buku ini bergenre non fiksi dan kosa katanya tidak sekaya novel fiksi yang sebelumnya saya tangani. Apalagi pihak penerbit rela menunggu saya yang saat itu sedang dalam proses menyelesaikan terjemahan novel dari penerbit lain *terharu…

Kira-kira beberapa hari menjelang tanggal awal pengerjaan yang diatur dalam SPK, saya tiba-tiba dihubungi oleh penerbit. “Selviya, kami butuh buku ini naik cetak tanggal segini, supaya bisa dirilis di konferensi Christian Leadership Summit. Steve Furtick (penulis buku Sun Stand Still) akan tampil sebagai salah satu pembicara, jadi akan sangat bagus kalau buku ini sekalian dirilis di sana. Gimana, kamu bisa nggak, selesai menerjemahkan di tanggal sekian?”

Waduh, batin saya, kalau selesainya tanggal sekian, otomatis saya hanya punya waktu dua minggu, dong!

Tapi mau menolak proyek ini pun saya tidak tega. Beliau dulu rela memundurkan jadwal terbitnya demi menunggu saya, dan beliau ini orangnya baik sekali …Terlebih saya sangat suka buku ini. Pesan yang termuat di dalamnya begitu penting dan saya pribadi yakin dapat menguatkan iman orang-orang yang membacanya.

Maka setelah menimbang-nimbang, akhirnya dengan berbekal iman (baca:nekad) saya memutuskan untuk menangani proyek ini dengan syarat waktu pengerjaan ditambah lima hari. Sebagai kompensasi, saya tawarkan untuk mengumpulkan hasil terjemahan dalam dua termin agar editor pun bisa menyicil kerja. Syukurlah, penerbit setuju dan saya pun mulai bekerja.

Buku setebal 224 halaman ini saya gempur dengan penuh semangat, tapi kapasitas saya yang hanya bisa menerjemahkan di luar jam kerja, adanya ­event kantor tiga hari yang cukup menguras waktu dan tenaga, ditambah lagi harus berkejar-kejaran dengan rencana liburan ke Sorong, tak pelak membuat saya cukup kelimpungan. Tak jarang saya harus tidur lebih larut demi mencapai target harian. Dua kali malam minggu pun terpakai untuk kerja. Pulang kantor saya langsung mendekam di kamar hingga (kadang) lewat tengah malam, bahkan tertidur dengan laptop masih menyala.

Namun hebatnya, saya tidak sampai jatuh sakit. Migrain saya tidak kambuh sedikit pun. Kalau boleh bicara religius, saya akan bilang inilah yang namanya pemeliharaan Tuhan. Terjemahan Sun Stand Still ini pun selesai dua hari sebelum tenggat waktu, dikirim dari kampung halaman. Ya, saya baru selesai mengerjakannya di sana. Ketika transit berjam-jam di Bandara Hasanuddin dan dalam pesawat yang bertolak menuju Sorong, saya gunakan waktu yang ada untuk memperhalus terjemahan saya. Untunglah ada kekasih yang mendukung secara moril dan tenaga (bolak-balik mengambilkan teh panas).

Menerjemahkan buku Sun Stand Still ini memang pengalaman yang hectic dan menguras tenaga, tapi saya belajar banyak dari sini. Syukurlah, kualitas terjemahan kilat (kalau tidak mau dibilang Proyek Sangkuriang, meminjam istilah Mbak Dina Begum) itu memuaskan penerbit dan saya diorder lagi, tentu dengan tenggat waktu yang normal. Hari ini pun bentuk fisik Sun Stand Still sudah sampai di tangan saya dan setelah melihat isi dalamnya, ternyata yang disunting hanya sedikit. Nah, kan? Satu lagi bukti pemeliharaan Tuhan. 😀

Jadi, setelah melalui semua ini, saya cuma mengharapkan dua hal. Pertama, semoga ke depannya saya tidak perlu berkutat dengan proyek sangkuriang seperti ini lagi (kecuali bukunya benar-benar bagusss). Kedua, semoga buku Sun Stand Still ini menjadi berkat bagi siapa pun yang membacanya. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Di Balik Penerjemahan Sun Stand Still

  1. huahu

    Says: Shalom… Saya Sangat Diberkati Dengan Buku Sun Stand Still. Pertama Kali Saya Lihat Buku Itu Di Rak Buku Rohani Di Gramedia Yogyakarta. Waktu Baca Bukunya Sekilas, Saya Memang Tertarik, Namun Enggan Untuk Membeli (Lagi Berusaha Hemat) 😀 Namun Setelah Saya Pulang Kerumah, Itu Buku Membayangi Pikiran Saya Terus Menerus Selama 2 Hari (Seperti Burung2 Terbang Mengelilingi Kepala Saya) 😀 , Gak Mau Pergi2 Dari Kepala Saya, Hehehe… Ada Apa Gerangan.? Pikirku. Apakah Buku Itu Sudah Memelet Saya.? (Hanya Bercanda) 😀 . Ya Karena Buku Itu Mengelilingi Kepala Saya (Angan2) Melulu (Sepercayaku Tuhan Yg Membuat Aku Terbayang2 Terus Ini Buku) , Akhirnya Saya Setelah 2 Hari Saya Balik Lagi Ke Gramedia Buat Ambil Itu Buku… Dan Setelah Aku Buka,,,,, Wew… Ini Buku Bagus Dan Sangat Memberkati, Banyak Meneguhkan, Menegur, Memotivasi Dan Menginspirasi Hidup Saya, Plus Buku Ini Lumayan Ada Kocaknya Juga Yg Bisa Bikin Senyum. 🙂 Saya Sangat Merekomendasikan Buku SUN STAND STILL, Terkhusus Buat Rekan-Rekan Anak Muda Untuk Tau Betapa Tuhan Ingin Melakukan Perkara2 Besar Melalui Kita.

    Salam Revival.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Shaloomm… Waaahh, thank you untuk testimoninya. Terharu saya karena jerih payah waktu mengerjakan Sun Stand Still ini ternyata tidak sia-sia (by the grace of The Lord). 🙂 Saya sendiri pun sangat diberkati oleh pelajaran-pelajaran berharga dalam buku ini. Terima kasih karena sudah membagikan apa yang Anda rasakan di sini.
      Salam revival juga,
      Selviya.

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s