Pesan Mama

“Ma, uangnya masih ada, nggak?” tanya saya saat menelepon Mama kemarin. Berkat kecelakaan yang menimpa saya dan Mas Anto bulan lalu – yang menjadi pengeluaran tak terduga – plus keputusan kami untuk membeli polis asuransi, saya tidak bisa mengiriminya uang bulan ini. Mama saya sudah menjanda dan tinggal di Sorong bersama kakak-kakak yang lain, dan beberapa dari kami setiap bulan mengiriminya uang untuk menopang hidupnya. Jumlahnya memang tidak banyak, namun cukup untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Sejak dulu, Mama bukan tipe orang yang suka berbelanja atau banyak maunya. Untuk urusan perut dan lidah pun ia tidak rewel. Mama menyukai makanan sederhana ala orang tua pada umumnya – sayur bening atau sayur kukus tanpa garam. Ia bukan tipe orang yang neko-neko. Meski kami sering sekali berseberangan dalam hal kerapian dan kerajinan mengurus rumah, di luar masalah itu ia orang yang nerimo dan tidak menuntut banyak dari kami, anak-anaknya. Cukuplah kami bisa hidup mandiri, tidak kekurangan makanan, dan sehat selalu – itu saja mampu membuatnya tenang dan bahagia.

“Tenang saja,” katanya lembut, “kemarin kakakmu sudah mengirimi Mama uang.” Lalu mulailah kisahnya bergulir.

Mama bercerita, begitu uang kiriman kakak sampai ke tangannya dan berbagai keperluan seperti oatmeal, gula tropicana, dan lain sebagainya telah terbeli, ia pun mengajak teman-teman gerejanya pergi makan pangsit mie di dekat rumah. Dan ia yang mentraktir! Sampai uangnya tinggal sedikit. Setelah itu baru Mama ingat kalau sore harinya ada arisan. Seperti arisan pada umumnya, aturan mainnya hanya dua: 1) kalau namamu keluar sebagai pemenang, kamu beruntung; 2) kalau namamu tidak keluar, bayarlah bagianmu dan tunggu kesempatan lain.

“Mama sempat cemas nggak punya uang untuk bayar arisan,” kisah Mama. Ia lalu memutuskan untuk masuk ke kamar dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Beberapa saat kemudian, pintu rumah kami diketuk. Ternyata kepala RT kami yang datang, mengabari bahwa Mama menang arisan!

“Tuhan mendengar doa Mama,” ucapnya mengakhiri kisah itu. “Jadi, Nana jangan khawatir mengenai apa pun juga. Karena Tuhan tidak pernah menutup mata. Ia pasti memenuhi setiap kebutuhan kita. Tetap percayai Dia dan jangan khawatir.”

Saya tersenyum dan mengangguk paham.

Terima kasih Tuhan, karena telah menjaga Mama. Dan karena telah mengingatkanku hari ini bahwa Engkau memelihara hidup setiap anak-anak-Mu dengan sempurna.

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Mama

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s