Langkah Kecil Hari Ini, Energi Masa Depan Dunia

sumber: greenliving.nationalgeographic.com

sumber: greenliving.nationalgeographic.com

Ada yang pernah bilang, segala sesuatu yang kita miliki dan nikmati saat ini bukanlah warisan yang akan kita teruskan pada anak-cucu kita, melainkan titipan mereka pada kita. Tentu saja, energi bumi bukanlah pengecualian. Namun percaya atau tidak, perjalanan panjang melestarikan titipan yang tak ternilai ini, sesungguhnya bermula di rumah kita masing-masing.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” sapa gadis berseragam hitam itu tanggap begitu aku mendekat.

Aku mengangguk. “Oven yang itu harganya berapa ya?” kataku sambil menunjuk ke deretan oven hitam yang mengilap di bawah cahaya putih ruangan itu.

Setelah memeriksa sejenak, ia menyebutkan harga. Oh, masih masuk dalam budget, pikirku. Sekarang final question-nya. “Berapa watt-nya?”

“Oh, yang ini 700 watt, Mbak,” jawabnya , lalu menerangkan berbagai fitur yang dimiliki oven itu dengan fasih. Tapi aku masih belum puas. Dengan cermat kuteliti oven-oven di sebelahnya, yang menyandang merek serta kapasitas yang berbeda, sambil terus menanyakan spesifikasi dan watt setiap oven. Dengan sabar pula, gadis itu menjelaskan keunggulan dan kekurangan setiap barang dagangannya dan menanti keputusanku.

“Baiklah, Mbak, saya ambil yang ini saja,” kataku akhirnya, setelah berunding sejenak dengan suami tercintaku. Tak pelak lagi, hati kami akhirnya tertaut dengan oven yang berwatt paling kecil. Meski kami harus merogoh kocek sedikit lebih banyak, ada kepuasan yang tertinggal di hati karena, sekali lagi, kami berhasil memenuhi komitmen kami. Dengan secercah kebanggaan, yang mungkin tidak dimengerti orang lain, kami memboyong pulang oven itu, dan meletakkannya di antara barisan barang elektronik kami – yang semuanya berwatt kecil dan hemat energi.

Janji yang Sederhana

Mungkin kamu heran, kenapa harus membeli barang yang berwatt kecil dan hemat energi? Apakah demi menghemat pengeluaran bulanan? Ya, itu pun salah satu alasannya. Namun gagasan dasarnya sebenarnya sederhana: sejak menikah, kami sudah berkomitmen untuk membina rumah tangga yang mencintai lingkungan.

Nah, berhubung kami belum memiliki rumah sendiri di kota pahlawan ini dan, otomatis, tidak bisa seenaknya memasang panel surya di atap rumah kami sebagai energi alternatif, maka satu-satunya pilihan yang terpikir untuk mewujudkan janji sederhana itu adalah menghemat apa yang sudah ada. Memanfaatkan energi ethanol, menggunakan kompor biogas, atau memasang kincir angin? Juga tidak mungkin. Perumahan tempat kami mengontrak letaknya agak terpelosok dan kami pun tidak tahu di mana bisa mendapatkan fasilitas seperti itu. Memasak dengan kayu bakar? Err … tentu agak tidak praktis bagi pasangan muda yang kedua-duanya bekerja.

Maka kami pun mulai dengan langkah yang sederhana: membeli barang elektronik yang hemat energi, dan mengontrol penggunaan energi yang sudah ada, seperti listrik, air, bbm, gas, dan lain sebagainya.
Kekuatan dalam Hal-hal Kecil

Di pagi hari, kami tidak pernah meninggalkan rumah tanpa memastikan dulu semua colokan listrik sudah dicabut dan semua lampu dipadamkan, kecuali kulkas. Aku pun hanya memasak di pagi hari, dan menyiapkan makanan dengan ragam dan rasa yang cukup untuk makan pagi dan siang. Malamnya pun, kalau kami sedang ingin makan, tinggal mengolah makanan tumisan yang cepat dan ringkas. Listrik hemat, gas kompor pun lama habisnya.

Kami juga lebih memilih kipas angin ketimbang AC. Apalagi, meskipun hawa di Surabaya sepanas apa pun, kami tetap kurang nyaman beraktivitas – apalagi tidur lelap – di ruangan ber-AC. Tanpa AC, tubuh lebih sehat, juga lebih banyak uang yang bisa dialokasikan untuk keperluan yang lebih penting.

Air purifier? Di rumah kami itu tidak dibutuhkan. Tanaman yang kami tempatkan di beberapa titik ruangan menjadi penyaring udara alami bagi kami. Mata jadi lebih segar, udara makin bersih, dan sejak kami tinggal di rumah ini, kami tidak pernah flu ataupun bersin-bersin, bahkan di tengah terpaan pancaroba sekalipun. Selain hemat energi, juga hemat ongkos ke dokter.

Meski kami selalu memilih lampu yang hemat energi, ketika kami berada di rumah pun, tidak semua lampu kami nyalakan. Lampu hanya menyala di tempat kami beraktivitas dan beranda. Saat tidur, kami lebih memilih memadamkan lampu utama dan bercengkrama dalam keremangan bohlam kekuningan mungil yang wattnya jauh lebih kecil lagi. Romantisnya dapet, tidurnya lelap, pas akhir bulan bersorak karena tagihan listrik tidak membengkak.

Saya dan suami pun saat bekerja di rumah menggunakan laptop, bukan desktop. Pertimbangan kami lagi-lagi sederhana: watt laptop lebih kecil dan daya radiasinya pun tidak ‘seganas’ desktop. Selain merawat mata, juga merawat dompet.

Ingin mandi air hangat dan menghilangkan kepenatan sepulangnya dari kantor? Kami hanya perlu menempatkan segentong air di area jemuran pada pagi hari, dan setelah berjam-jam berada di bawah cahaya matahari langsung, voila! Jadilah air hangat-menjelang-panas yang bisa langsung kami gunakan untuk mandi. Oke, mungkin cara ini hanya efektif di musim kemarau. Bagaimana dengan musim hujan? Yah, ketika musim hujan, setidaknya kami tidak perlu lagi menyiram tanaman dan kebun mungil kami karena air hujan sudah mengambil alih tugas itu. Sekali lagi, hemat waktu, hemat energi.

Dunia Bisa Menjadi Rumah yang Lebih Baik

Namun di atas semua manfaat yang kami ceritakan itu, yang terpenting tentu adalah apa yang kami rasakan di hati.

Saat ini, kita semua, khususnya yang hidup di perkotaan, tengah hidup dalam kenyamanan yang semu. Semuanya tersedia cukup, bahkan berlimpah, dan dapat kita akses dengan memutar keran, menekan saklar, serta memutar tombol kompor – semudah membalikkan telapak tangan. Tanpa sadar kita menjadi masyarakat yang konsumtif dan lupa bahwa yang kita hambur-hamburkan adalah energi fosil yang tak dapat diperbarui alam. Kita lupa untuk mensyukuri dan mengelolanya dengan baik. Padahal, siapa yang tahu sampai kapan semua kemudahan ini dapat kita nikmati? Bagaimana jika nantinya titipan yang tak ternilai itu, justru tandas di tangan kita sendiri?

Saya rasa tidaklah berlebihan jika Rochadi Tawaf, peneliti dari Pusat Teknologi Tepat Guna, sebuah lembaga penelitian Universitas Padjajaran berkata, “Yang menjadi persoalan sekarang adalah, apakah masyarakat kita mau sedikit repot untuk kreatif dalam memenuhi kebutuhan energinya, serta menghilangkan gaya konsumtifnya? Energi alternatif dan teknologinya relatif lebih mudah untuk dicari. Akan tetapi mengubah perilaku masyarakatnya itu yang sulit sekali.”

Nah, mungkin kami memang bukan pejuang lingkungan yang gencar menyerukan ajakan untuk mengurangi penggunaan energi fosil, seperti minyak dan gas bumi. Kami pun bukan ilmuwan atau mahasiswa teknik yang piawai meracik ide dan merakit alat untuk menghasilkan energi alternatif. Kami pun bukan orang kaya yang bisa membeli mobil bertenaga surya yang sungguh-hemat-energi-tapi-harganya-tak-terjangkau-itu.

Tetapi kami punya kerinduan untuk menjadikan dunia ini rumah yang lebih baik, bagi kami, bagi sesama, dan bagi anak cucu kami kelak. Dengan cara-cara yang sederhana dan mungkin tampak tak berarti inilah, kami ingin memberi lebih banyak bagi masa depan dunia dan alam ini.

Bagaimana dengan Anda?

Pertamina

Advertisements

42 thoughts on “Langkah Kecil Hari Ini, Energi Masa Depan Dunia

  1. patsie1989

    Wah keren yah, sampe hal sekecil itu pun diperhatikan. Kalo di kota dingin kayak bandung mah AC dan kipas angin ga perlu. Tapi dialihkan ke yang lain misal air panas. Tiap kota beda implementasi.. 😀

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      hehe, begitulah.. 🙂 kalau di Bandung cocoknya apa ya? Merebus air di Tangkuban Perahu? 😛 #just kidding
      Tetap semangat menempuh kuliah di sana ya Patrick 😀

      Reply
  2. Ribka Stevani

    Setuju! Artikel menyadarkan kita bahwa seluruh masyarakat dimuka bumi ini bisa mengambil bagian untuk menjaga lingkungan dengan kehidupan sehari-hari yang peduli terhadap lingkungan. Kalau langkah ini diambil seluruh anak muda di Indonesia, saya yakin pasti akan ada perubahan besar selain menghemat energi, menambah kreatifitasan dan mau peduli dengan lingkungan yang harusnya kita jaga.

    I LOVE INDONESIA

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Mantap, kalau bukan kita, siapa lagi ya Ribka 🙂
      Thanks udah membaca dan berkomentar di sini ya…

      Reply
  3. juneditor

    ya ya ya….overall, aku amat sepakat dengan uraian di atas. Hemat energi adalah segala-galanya. ada sebuah cerita nih Bu, dulu pada sebelum nikah, dan setelah menikah (belum punya momongan) setiap malam, kebiasanku dan istri saat tidur, lampu kamar bisa dipastikan PADAM. Memang benar sekali, hal yang kayak gini, bukan hanya dapat dalam hal romantisme nya saja, tapi tidur jg jauh bisa lebih lelap. Tetapi, kisah seperti ini berbeda ketika si kecil sudah nongol bersama kami berdua. Tiap malam, lampu kamar tak pernah PADAM barang sejenak (kecuali lampu mati). Ini artinya apa, tentu si kecil amat membutuhkan kenyamanannya dengan tidak dipadamkan lampu kamar. Pernah sih, suatu malam, lampu padam merebak di kampung kami. Lalu, (saat itu aku pulang kerja) aku masuk kamar dan menjumpai si kecil malah dalam keadaan pulas tidur. Kupikir dia akan rewel dengan padamnya lampu/listrik. Tapi ternyata…..hhhhhhhh
    Ide untuk berhemat energi selalu menjadi menu wajib di rumah. Ortuku selalu menekankan untuk itu. Di siang bolong, jika ada lampu yang menyala, maka “omelan” akan langsung mengarah ke aku dan kakakku. Heheheh…
    Akhir-akhir ini, pemerintah disibukkan dengan minimnya ketersediaan BBM Bersubsidi. Rasanya, kalau kupikir, bumi ini kayak mau kehabisan jatah minyak buminya. Bayangkan, makin hari kuantitas kendaraan makin gila-gilaan jumlahnya. Tentu ini akan berimbas praktis pada penggunaan BBM. Selalu kubayangkan, kelak jika BBM dah tidak ada lagi/kehabisan, konsumen pasti galau. Dan, mereka bisa jadi akan membentuk komunitas galauers lantaran habisnya sumber energi tersebut. Sumber energi yang, nyata-nyata berasal dari fosil yang mati berjuta-juta tahun lamanya. Dan, itu jelas tidak bisa diperbarui kembali.

    Salam

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Iya, benar, menghemat energi pasti bermula dari kebiasaan di rumah masing-masing 🙂
      Hemat energi adalah segala-galany –> like this 😀
      Btw, baru tau juga kalau bayi lebih suka cahaya terang… tapi untunglah Nahzif gak terganggu pas lampu mati ya …

      Reply
  4. tarinami

    Ide yang cukup unik, berawal dari hal kecil kitapun bs mengambil peran besar untuk menjaga bumi… Cinta Indonesia ❤

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Makasih Ami 🙂 Itulah kekuatan hal-hal kecil. Makasih sudah membaca dan berkomentar ya 🙂
      Salam Cinta Indonesia.

      Reply
  5. Emelyn Nova Lisa (@Lisa_Beckham)

    waaaaa… keren banget komitmennya k Syl dan k Anto… 🙂
    memang kalo bukan kita yang tau dan sadar akan pentingnya hal ini, siapa lagi yang mau memulai mengambil langkah, coz apa yang kita lakukan masa sekarang, pasti berdampak untuk masa depan, apalagi yang dibicarakan ini adalah hal yang berguna bagi semua makhluk hidup. Langkah pertama kita bisa saja adalah sebuah langkah “kecil”, tapi sebuah langkah kecil ini bisa menjadi langkah yang besar, dan ingat, langkah yang besar tidak mungkin ada tanpa ada langkah pertama, karena itu komitmen untuk melakukan hal ini (menghemat penggunaan energi) ini memang harus dimulai dari tiap kita, kita yang sadar dan tau.
    kalo aq sih belum sehebat ka2 nih, sejauh ini lebih ke arah menghemat penggunaan listrik aja, contoh, kalau dulu, aku anti banget tidur gak pake lampu, sekarang2 aku yang hobi mengingatkan saudaraku untuk mematikan lampu kalau mau tidur (toh kan gak diperlukan juga) trus juga aku sering banget mengingatkan orang2 rumah untuk mematikan barang elektronik (laptop, tv,) yang lagi gak digunakan dan kalaupun menggunakan gunakan seperlunya aja. bersyukur sih dari masa muda kita, kita udah sadar akan hal ini.
    bersyukur juga untuk tulisan ka Syl yang mengingatkan aku, kita dan siapapun yang membacanya untuk mnjadi lebih bijak dalam menggunakan apa yang Tuhan sediakan buat kita.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Lho,Lisa.. aku juga gak hebat kok. Yang kulakukan hanya hal-hal kecil 🙂 tapi semoga dalam jangka panjang berguna bagi dunia. Ayo kita sama-sama menjaga bumi 🙂

      Reply
  6. Dina Begum

    Sama, aku juga kalau memilih barang elektronik berdasarkan pemakaian listriknya. Kalau beli makanan, atau barang apa saja, bila ada pilihan kupilih yang bahan kemasannya lebih mudah terurai atau didaur ulang. Di rumah aku enggak pakai AC, cukup dengan exhaust fan dan kipas angin. Tempat sampah merupakan perlengkapan mobil yang tidak boleh ketinggalan. Kalau harus menyampah di tempat yang tidak ada tempat sampah, lebih baik kumasukkan tas/saku daripada dibuang ke jalan. Berbelanja pun bawa tas sendiri, biar tidak terlalu banyak mengonsumsi kantong plastik 😀

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Jika ada pilihan, beli makanan atau bahan kemasan yang mudah terurai –> great 🙂
      Sayangnya yang seperti itu biasanya lebih mahal ya…
      Aku juga kalau belanja suka bawa tas sendiri, atau kalau barangnya dikit, langsung masukkin tas, gak pake kresek.
      Menjaga lingkungan memang dimulai dari hal-hal kecil seperti ini ya, Mbak 🙂 TFS 😀

      Reply
    1. selviya hanna Post author

      Salam kenal Mas Abdul, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ya… Iya, justru tindakan-tindakan kecillah, yang jika dilakukan dengan tekun, yang akan mendatangkan hasil luar biasa. Sip, akan saya kunjungi juga linknya.

      Reply
  7. Windy Febrianti

    Sip! untuk menghemat energi tidak perlu kita harus melakukan hal yang wow..atau hal-hal yang luar biasa..cukup dengan melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan sehari-hari, sudah mampu untuk membuat dunia jadi lebih baik..khususnya untuk kelestariannya dimasa depan bersama generasi selanjutnya..
    Sukses buat Ce Selviya…(^,^)

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      hehehe.. iya sih, memang butuh membiasakan diri, tapi kalau udah biasa pasti gak sulit. 🙂
      Makasih udah membaca dan berkomentar ya 😀

      Reply
  8. Asisi Suharianto

    Menghemat bukan berarti meninggalkan. menghemat tuh artinya menggunakannya sesuai peruntukkan. dan menghemat bisa dimulai dari diri sendiri, dari tindakan terkecil, dan yang terpenting: dari sekarang!

    Reply
  9. elizabethendah

    Langkah sederhana yang juga tidak cukup mudah dilakukan apabila sudah terbiasa dengan hidup di zona nyaman, namun semua orang harus berusaha untuk masa depan yang lebih baek…
    Artikel yang bagus 🙂

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Endaaaahh.. makasih ya sudah membaca dan mengomentari artikel ini 🙂
      Betul, memang harus ada harga yang dibayar untuk sebuah perubahan.
      #serasa jadi mahasiswa lagi deh pas nulis kalimat di atas :p

      Reply
  10. selviya hanna Post author

    Reblogged this on Cerita Selviya and commented:

    Ditulis pada tanggal 8 Desember 2012, untuk mengikuti blogger contest Sobat Bumi, yang diadakan oleh Pertamina.

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s