Menyunting: Membalikkan Sudut Pandang

sumber: catemontana.com

sumber: catemontana.com

Setiap penyunting tentu pernah mengalami ‘pergumulan batin’ antara mempertahankan gaya penerjemah atau mengganti teks sesuai keinginannya. Kalau memang hasil terjemahannya tidak akurat saat dirujuk pada teks asli, penyunting sangat berhak untuk mengubah, bahkan merombak habis kalimat tertentu. Tapi kalau terjemahannya benar dari sisi arti, namun terasa kurang sreg di hati?

Kalau sudah menyangkut gaya bahasa, bagi saya, sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Karena, sekali lagi, gaya bahasa itu sifatnya sangat subjektif. Ibarat durian yang cita rasanya dipuja-puja hampir seantero penduduk Indonesia, namun ditampik orang bule karena aroma yang terlalu menyengat, demikian halnya dengan mengolah bahasa. Saya bisa bilang, “Lebih enak begini, lebih luwes dan lebih wajar”, namun orang lain bisa menanggapi dengan netral, “Ah, sama saja, deh” atau dengan defensif, “Itu kan menurut kamu saja. Kalau saya lebih suka yang awal.”

Wah, kalau sudah begitu, angkat tangan deh. :p

Akan tetapi, pergumulan itu tentu tidak menyurutkan kesenangan saya dalam mengotak-atik kata. 🙂

Berikut adalah beberapa contoh dari suntingan saya. Dari sisi keakuratanpenerjemah melakukan tugasnya dengan baik. Namun, saya memilih untuk membalikkan sudut pandang demi meluweskan kalimat. Alasannya sederhana: supaya enak dibaca. Ah, lagi-lagi alasan yang subjektif…

1. Teks asli: Every minute more than 12 million cubic feet of water drop a distance of about 180 feet over the edge of the falls. 

Terjemahan: Setiap menit, lebih dari empat ratus juta liter air terjun dengan jarak hampir 55 meter dari tebing air terjun.

Suntingan: Setiap menit, lebih dari empat ratus juta liter air tercurah dari tebing setinggi hampir 55 meter.

Di kalimat sebelumnya sudah disebutkan bahwa ini air terjun, jadi saya merasa menghilangkan kata ‘air terjun’ dari kalimat ini oke-oke saja.

2. Teks asli: Some people are resilient and willing to keep trying in order to succeed, even when they don’t see immediate progress.

Terjemahan: Ada orang yang ulet dan mau terus berjuang untuk meraih kesuksesan meskipun mereka tidak langsung melihat kemajuan.

Suntingan: Ada orang yang ulet dan mau terus berjuang untuk meraih kesuksesan meskipun kemajuannya tidak langsung terlihat.

3. Teks asli: If you’re charismatic, you’re sure to get the job you want, right?

Terjemahan: Jika Anda orang yang berkarisma, Anda pasti mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan, bukan?

Suntingan: Jika Anda orang yang berkarisma, pekerjaan idaman itu pasti jatuh ke tangan Anda, bukan?

4. Teks asli: Nobody ever listened himself or herself out of a sale.

Terjemahan: Tak seorang pun pernah laris menjual dengan mendengarkan dirinya sendiri.

Suntingan: Orang yang selalu mendengarkan dirinya sendiri tak akan pernah sukses menjual.

Alternatif: Orang sering gagal menjual gara-gara terlalu banyak bicara

5. Teks asli: He then rode in a Wal-Mart truck the rest of the way just so that he could chat with the driver. We should all give listening that kind of priority.

Terjemahan: Kemudian, ia naik truk Wal-Mart sepanjang jalan itu, hanya agar bisa berbincang dengan si sopir. Kita semua harus memberi mendengarkan prioritas semacam itu.

Suntingan: Kemudian, ia naik truk Wal-Mart sepanjang jalan itu, hanya agar bisa berbincang dengan si sopir. Kita semua harus mendengarkan orang lain dengan prioritas semacam itu.

6. Teks asli: There is a quote that John filed away years ago called “A Short Course in Human Relations.”

Terjemahan: Sebuah kutipan yang John arsipkan bertahun-tahun lalu berjudul “Sebuah Pelajaran Singkat tentang Hubungan Manusia”.

Suntingan: Bertahun-tahun lalu, John menyimpan kutipan yang berjudul “Pelajaran Singkat tentang Hubungan Manusia”.”

7. Teks asli: But empowering others is more than sharing your workload. It’s sharing your power and ability to get things done.

Terjemahan: Tetapi, memampukan orang lain lebih dari sekadar membagikan beban kerja Anda. Ini adalah tentang berbagi kekuasaan dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Suntingan: Tetapi, memampukan orang lain lebih dari sekadar membagikan beban kerja Anda. Anda harus berbagi kekuasaan dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan.

8. Teks asli: Anytime employees, spouses, colleagues, children, or friends no longer believe they are being listened to, they seek out people who will give them what they want.

Terjemahan: Setiap kali karyawan, pasangan, rekan, anak-anak, atau teman tidak lagi percaya bahwa mereka sedang didengarkan, mereka akan mencari orang lain yang bisa memberi apa yang mereka inginkan.

Suntingan: Setiap kali karyawan, pasangan, rekan, anak-anak, atau teman tidak lagi percaya mereka sedang didengarkan, mereka akan mencari orang lain yang bisa memenuhi keinginan mereka.

9. Teks asli: Can you think of people you haven’t been listening to lately? And what are you going to do about it?

Terjemahan: Dapatkah Anda memikirkan orang-orang yang tidak Anda  dengarkan akhir-akhir ini? Apa yang akan Anda lakukan mengenainya?

Suntingan: Siapa saja orang yang tidak Anda  dengarkan akhir-akhir ini? Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki hubungan kalian?

10. Teks asli: The account of David and Goliath presents a classic example of how past successes can help a person have faith in himself. You may remember the story from the Bible.

Terjemahan: Kisah tentang Daud dan Goliat menyajikan contoh klasik tentang bagaimana kesuksesan masa lalu dapat membantu seseorang memiliki kepercayaan diri. Anda mungkin mengingat kisah ini dari Alkitab.

Suntingan: Kisah tentang Daud dan Goliat, yang tertulis di Alkitab, menyajikan contoh klasik tentang bagaimana kesuksesan masa lalu dapat membantu seseorang memiliki kepercayaan diri.


Maaf, ya, kalau artikelnya jadi sepanjang ini. Maklum, sudah lama tidak mengisi blog 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Menyunting: Membalikkan Sudut Pandang

  1. Rini Nurul Badariah

    No. 3 toop… aku sering melakukannya:D Tapi bukan karena itu aku setuju, ya. Memang menurutku asyik, kok:)
    Dan, horee, “resilient” pun kuartikan “ulet”.

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Setujuuu Mbak 😀 Asyik karena lebih menantang. Apalagi kalau yang ditangani adalah naskah non-fiksi, menyunting dengan gaya seperti itu jadi bikin pikiran lebih ‘alert’ dan kreatif. Hasil akhirnya juga jadi lebih ‘berwarna’. Tapi kadang aku khawatir disangka mencari-cari kesalahan penerjemah 😦 Semoga si penerjemah bisa memandangnya dengan positif 🙂

      Mengenai resilient, memang enak diartikan “ulet”, ya 🙂

      Reply
  2. Femmy Syahrani

    Hasil suntingannya memang lebih luwes 🙂 Dua jempol!

    Nomor 4 aja yang aku agak bingung. “Nobody ever listened himself or herself out of a sale.” Sampai cari-cari konteksnya di internet, tapi setelah baca paragraf lebih lengkap pun, masih bingung.

    Akhirnya mencoba membuat kalimat tandingan. Kalimat di atas kan berkaitan dengan para wiraniaga, yang biasanya terlalu banyak bicara dan kurang mendengar kebutuhan calon pembeli. Kalimat tandingan yang terbayang olehku: “Everybody often talked himself or herself out of a sale.” Orang sering gagal menjual gara-gara terlalu banyak bicara. Jadi, kalimat di atas kutafsirkan menjadi, “Tidak pernah orang gagal menjual gara-gara terlalu mendengarkan pendapat calon pembeli.” Bagaimana? Masuk akal ngga kira-kira?

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Thank you, Mbak Femmy! 😀
      Mengenai no.4, makasih atas masukannya ya Mbak. Tafsiran Mbak Femmy benar kok menurut konteksnya, dan aku pribadi suka banget yang ini: Orang sering gagal menjual gara-gara terlalu banyak bicara –> lebih efisien, wajar, dan mengena 🙂 Mumpung belum naik cetak, akan kukoreksi di proofnya, hehehe. Sekali lagi, terima kasih 😀

      Reply
      1. Rini Nurul Badariah

        Like this:D
        Alternatif usulanku: Terlalu mendengarkan pendapat calon pembeli tak pernah membuat orang gagal menjual.

      2. Femmy Syahrani

        Omong-omong setiap butir ini cocok sekali kalau dimasukkan ke blog Catatan Penerjemahan. Boleh ku-copas? Atau lebih bagus lagi, Selviya jadi kontributor di situ? 🙂

      3. selviya hanna Post author

        Mbak Femmy: wah senang sekali kalau artikel ini bisa dimasukkan di blog Catatan Penerjemahan 🙂 Jadi kontributor? Aku pun bersedia dengan senang hati 🙂 Hanya saja aku agak susah dalam memilih kategori (kan kalau di blog Mbak Femmy dkk ada kategorinya). Jadi mohon bantuannya juga, hehe 😀

    1. selviya hanna Post author

      Kalau dibandingkan dengan usul sebelumnya, aku lebih suka yang ini, Mbak 🙂 Lebih efisien. Makasih atas masukannya ya Mbak 😀

      Reply
  3. Pingback: Pertimbangan Editor dalam Memilih Penerjemah | Alumni Association of Van Deventer-Maas Stichting

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s