Di Balik Penyuntingan Pandemonium

Image

Lena Haloway bersumpah untuk mengubur masa lalunya dan Alex yang penuh kobaran api. Dia kini menjadi bagian dari Invalid dan pemberontak, berbaur dengan Alam Liar, menyusup dalam organisasi anti-deliria di New York. Misinya adalah mengacaukan organisasi tersebut dan mengembalikan perasaan cinta kepada orang-orang yang hidupnya sudah bagaikan mayat berjalan.

Dalam aksinya, Lena bertemu Julian, putra pemimpin organisasi yang masih rentan terkena deliria. Kebersamaan mereka menimbulkan kembali perasaan terlarang itu: cinta. Pada akhirnya, mampukah Lena memilih, antara membiarkan dirinya jatuh di pelukan Julian, mengkhianati cintanya kepada Alex … atau terbunuh di tengah-tengah kebisingan dan ketidakpastian?

— sinopsis dari sampul belakang Pandemonium, Mizan Fantasi.

Jujur, sebetulnya sebelum menyunting novel menakjubkan ini, saya tidak penah membaca karya Lauren Oliver. Ketika ditawari Mbak Prisca Primasari – editor Delirium – untuk menyunting Pandemonium, saya langsung googling dan menggali informasi tentang buku pertama dari serial ini. Hari itu juga saya langsung hunting di toko buku dan langsung membacanya. Saya bersyukur sekali karena cerita Delirium ternyata bagus bangeeet.

Terlepas dari pacingnya yang terasa agak lambat di awal, saya terpikat pada metafora indah yang bertaburan di setiap halaman. Ide ceritanya pun lain dari yang lain. Dan, yang terpenting, saya jadi tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan kisahnya. Itu salah satu alasan kenapa akhirnya tawaran Mbak Prisca segera saya sambut. 😉

Dan terbukti, gaya penceritaan Lauren Oliver semakin matang di buku kedua ini. Pace-nya lebih cepat, lebih mendebarkan. Alur yang bergulir bolak-balik antara kisah Dulu (saat Lena terpisah dari Alex dan berjuang untuk bertahan di Alam Liar) dan Kini (setelah Lena bergabung dengan kaum Pemberontak dan menyusup ke dalam tubuh DFA) pun terasa pas dan menggigit. Eksprimen yang berhasil, menurut saya. Deskripsinya pun kaya metafora dan perasaan – khas Lauren Oliver. Karakter Lena semakin berkembang di sini, kian tough dan membuatnya makin loveable. Saya akui, Lauren Oliver meramu konflik antar-tokoh Pandemonium dengan mahir. Dan endingnya … semakin menegaskan bahwa Lauren Oliver pandai sekali membikin penggemarnya belingsatan – makin tidak sabar menanti kelanjutan kisahnya! Pokoknya, mengenai teknik penulisan, saya cuma mau bilang, “Hail, Lauren Oliver! I adore you and now you’re officially  one of my favorite authors.” Mungkin penulis dalam negeri bisa belajar banyak dari karya-karya penulis kelahiran Queens ini. Saya pribadi sangat menikmati diksi dan metafora Lauren Oliver yang bernas dan banyak belajar teknik menulis dari sini.

Nah, berhubung novel ini cukup tebal, saya diberi waktu dua bulan untuk menyunting. Kerjaan yang cukup menantang, tapi secara keseluruhan saya menikmati proyek ini. Tidak ada trik khusus, tapi demi mempermudah kerja, saya menyusun glosarium dari kata-kata yang sering berulang. Ketika menerima bukti terbitnya dari Mizan pun, saya bersorak senang karena desain sampulnya cantik sekali. Ada flap-nya pula, jadi  sisi-sisinya tidak gampang melekuk kalau salah diletakkan. Salut untuk tim Mizan yang memperhatikan aspirasi para penggemar fantasi di Indonesia, yaitu agar desain sampul asli Pandemonium tetap dipertahankan. Meskipun cukup tebal, bobotnya pun ringan untuk ditenteng ke mana-mana. Layout isinya tertata rapi dan apik, enak dibaca. Nah, karena sudah dikemas sesungguh-sungguh ini, semoga saja Pandemonium bisa diterima baik oleh penikmat Delirium series di tanah air.

FYI, Mizan Fantasy pun telah menerbitkan Liesl & Po, karya lain dari Lauren Oliver, yang diterjemahkan oleh Prisca Primasari. Belum saya baca, sih, tapi sebagai penggemar Lauren Oliver, novel ini pasti masuk ke daftar buku wajib beli Juni 2013  🙂 Makin gak sabar nunggu gajian, deh …

Judul: Pandemonium — Dia Bertarung demi Masa Depan Cinta
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani
Penyunting: Selviya HPM
Penerbit: Mizan Fantasi
Jumlah halaman: 496
ISBN: 9789794337721

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s