Seandainya yang Berharga Itu Direnggut Darimu …

274cb0c1681b33745b65bbd3fdf50ce7 (1)Apa yang paling berharga dalam hidupmu? Kekasih hati? Anak? Keluarga? Sahabat? Harta benda? Pekerjaan?

Sekarang, bayangkan seandainya satu hal yang paling berharga itu direnggut. Mungkin bayi mungil nan menggemaskan itu tidak bertahan lama di luar rahimmu. Mungkin kekasih hatimu menderita penyakit yang mengancam nyawa. Mungkin keluargamu tercerai-berai karena masalah harta. Mungkin sahabatmu harus pindah ke kota lain. Mungkin kekayaanmu amblas dalam sekejap karena keputusan investasi yang buruk. 

Bukan maksud saya untuk mendoakan yang jelek-jelek.

Saya sendiri punya dua kecintaan dalam hidup saya. Yang pertama tentu sang belahan jiwa, Mas Anto. Yang kedua adalah pekerjaan saya. Jika sampai hari ini saya masih diberi waktu dan kekuatan untuk mencintai kedua hal ini, saya amat mensyukuri kemurahan-Nya.

Kadang saya merenung … seandainya hal yang paling saya takutkan itu terjadi – mas Anto ditimpa kemalangan atau saya tidak bisa lagi berkarya karena satu dan lain hal – hidup saya tentu takkan sama lagi. Itu tak mengherankan karena, hingga detik ini, berkarya dan hidup bersama orang yang dicintai adalah kebahagiaan terbesar saya, lebih dari apa pun juga.

Namun, apakah kehilangan itu juga akan merenggut jati diri saya yang sesungguhnya – manusia yang diciptakan serupa dengan Allah dan didesain untuk hidup bagi-Nya – atau justru mengukuhkannya?

Hari ini saya teringat pada perkataan seorang teolog (sayangnya saya lupa namanya) yang menganjurkan agar kita meletakkan kecintaan terdalam kita bukan pada manusia, apalagi benda mati yang gampang berubah dan lenyap, melainkan pada Tuhan dan janji-Nya. Jadi, seandainya semua hal yang kita banggakan dan kita cintai direnggut, kasih kepada Tuhan itu akan menolong kita tetap menikmati hidup ini dan mengusahakan yang terbaik. Itulah sumber pengharapan yang sejati dan tak akan tergoyahkan.

Well, itu jugalah yang berusaha saya bangun dalam hati dan pikiran saya saat ini.

Kata Mas Anto, saya berpikir terlalu jauh. Tapi dia memang selalu begitu kalau saya mulai mengajak membahas kemungkinan “yang buruk-buruk”. Syukuri dan jalani saja apa yang ada saat ini dengan sebaik-baiknya, begitu katanya selalu. Apa yang akan menanti kita di hari-hari mendatang, itu urusan Yang di Atas.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s