Acer Aspire P3 Ultrabook: Perangkat Terbaik Wujudkan Hidden Passion-ku

terjemahan dan suntingan selviya hannaDonald Trump pernah berkata: “Without passion you don’t have energy, without energy you have nothing.” Tanpa passion yang berkobar-kobar, bidang apa pun yang kita geluti, berapa pun besarnya gaji kita, betapa pun berlimpahnya kekayaan keluarga kita, hidup kita bakal terasa hambar dan tak bermakna.

Bersyukurnya, saat ini aku menggeluti bidang yang memang menjadi passionku, yaitu perbukuan. Selepas dari kuliah (which is almost 5 years ago – ya, ya, aku jadi merasa tua) aku menjadi editor dan penerjemah buku. Aku senang memoles bahasa, bermain-main dengan kata, membantu penulis menyampaikan pesannya dengan lebih efektif. Bagiku, kata-kata itu punya kekuatan, yang mampu menyentuh hingga ke dalam jiwa, memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri, menyemangati kita untuk bangkit dari keterpurukan, mengajak kita mensyukuri hidup.

Selama lima tahun ini, laptop hitam pemberian mama setia menemaniku melewati proyek per proyek, hari demi hari, hingga detik ini. Dan, sudah ada banyak buku yang kuterjemahkan, kusunting, dan kutulis. Ini beberapa di antaranya (lengkapnya di sini):
Namun, kini aku menginginkan sesuatu yang berbeda. Bukan, bukan karena tidak puas dengan apa yang kujalani saat ini.

Lebih karena aku menginginkan pengalaman yang lebih kaya lagi.

tumblr_m7lr389UGi1r1kty2

Dina dan Ryan, sang Dua Ransel


Semuanya bermula beberapa bulan yang lalu, saat tanpa sengaja aku menemukan blog ini. Dina dan Ryan, sepasang suami istri, meninggalkan pekerjaan yang mapan, apartemen di Kanada, dan memutuskan untuk menjadi pengelana dunia – dan bekerja sambil jalan. Si suami adalah programmer, sedangkan si istri adalah penulis lepas. Dengan berbagai strategi dan kegigihan, terhitung sudah 40 negara di berbagai benua yang mereka singgahi selama empat tahun ini.

Membaca kisah mereka menyulut kembali hidden passionku semasa kuliah dulu: bepergian melihat dunia, mereguk kayanya pengalaman yang mengikutinya, sambil tetap berkarya.

Yah, minimal keliling Indonesia.

ok1small

Impian itu memang sempat tersisihkan karena satu dan lain hal, tetapi bukannya tak mungkin untuk diwujudkan. Aku dan suamiku masih menunda untuk punya anak hingga satu atau dua tahun lagi (kalau Tuhan menghendaki). Suamiku pun komikus freelancer, sehingga kerja di mana pun dia bisa. Asalkan aku keluar dari tempatku bekerja saat ini dan full menjadi pekerja lepas (entah itu penulis, penerjemah, atau editor), kami sebetulnya bisa mewujudkan impian itu bersama. Nah, sambil jalan nanti, kami bisa membuat catatan perjalanan, artikel wisata, feature yang mendalam, bahkan dokumentasi sejarah dan budaya dari tempat yang kami kunjungi. Apalagi suamiku pun pintar menulis dan pecinta sejarah. Klop, dah 🙂

Coba bayangkan, menerjemahkan sambil duduk di sebuah kafe, berteman secangkir teh chammomile dan sepotong croissant, dan setiap kali mendongak, Menara Eiffel menjulang megahdi depan mata. Menyusuri piramida sambil mendokumentasikannya dengan video.

asyik

Mensketsa pohon-pohon sakura yang baru saja mekar, bukan dari foto atau video, melainkan melihatnya secara langsung. Menyunting naskah di hadapan pantai Padang-padang yang membentang indah. Menggali riwayat abdi dalem keraton Jogja langsung dari sumbernya sendiri. Pengalaman yang kaya dan tak tergantikan, bukan?

Tapi, tentu saja, rencana ini harus dipersiapkan dengan matang. Selain membangun jejaring klien dan mengumpulkan dana, ada satu hal penting lagi yang harus kami pikirkan: perangkat yang mumpuni.

Laptopku yang sekarang memang tahan banting, namun beratnya minta ampuuunn… Bikin punggung pegal linu setelah dipikul lebih dari sejam. Bagaimana coba, kalau nantinya aku harus berjalan kaki jauh dengan membawa beban seberat ini?

ok2

Oke, mari kita lihat satu per satu alternatif solusinya:

1. Tab. Mungil, ringkas, praktis. Masalah mobilitas – solved. Tapi tab saja tidak begitu produktif. Meskipun berlayar sentuh dan ada fungsi officenya, tetap saja mengetik di tab, apalagi jika tulisan yang diketik itu panjangnya berhalaman-halaman, amat tidak nyaman.

2. Netbook. Baiklah, netbook memang ringan dan enak dijinjing ataupun dipikul ke mana-mana. Keyboardnya juga enak dipakai nulis. Produktif? So pasti. Tapi, mengingat tahun-tahun ini adalah masa peralihan dari netbook ke hybrid tab+netbook, aku khawatir beberapa tahun lagi, kalau netbookku rusak, bakal sulit mencari suku cadangnya karena netbook sudah tidak diproduksi lagi.

3. Ultrabook. Pilihan ini juga oke. Produktif dan juga ringan karena berbodi tipis. Tapi buatku rata-rata ultrabook yang ada di pasaran saat ini masih terlalu besar. Meski tipis, rasanya risih juga ngeluarin ultrabook segede itu di tempat-tempat umum.

Nah, solusi terakhir adalah hybrid antara tab dan netbook/ultrabook. Jadi, produktifnya dapet, mobilitasnya juga terpenuhi.

Ketika surfing di internet, membandingkan review demi review, hatiku pun tertambat pada Acer Aspire P3 Ultrabook™. Super tipis dan ringan, perangkat canggih ini hadir dengan kemampuan Ultrabook ketika kita sedang ingin produktif, dan menjelma menjadi tab saat kita butuh fleksibilitas lebih dan hendak bepergian. *drooling* Simak spesifikasi lengkapnya:

acer aspire spek

Nah, untuk info lebih lengkap, silakan kunjungi “pabrik”nya di sini. Meminjam kata-kata pesohor selebriti kita, Acer Aspire P3 ini sesuatu banget. Terang saja, Acer Aspire P3 Ultrabook mampu menghadirkan kemampuan Ultrabook yang sesungguhnya, sekaligus menawarkan fleksibilitas ala tab.

So, apa saja yang nanti bisa kulakukan jika memiliki ultrabook canggih ini saat bepergian melanglangbuana?

Check it out!

a b c

Eits, selain menjadi perangkat terbaik untuk wujudkan hidden passion-ku, Acer Aspire P3 Ultrabook™ pun mendukung passion-ku yang sekarang, lho. Aku bisa menggunakannya untuk menyunting, menulis, atau menerjemahkan di mana pun (jika ingin berganti suasana), juga bertemu klien (daripada nenteng laptop seberat kamus tebal :p)

Wah, jadi makin kesengsem sama Acer Aspire P3 Ultrabook™. Apalagi, ultrabook ini terbukti mampu melejitkan hidden passion Vernon, yang akhirnya berhasil menjadi DJ, profesi impiannya, seperti yang bisa kamu simak di video ini:

Berkat kecanggihan Acer Aspire P3 Ultrabook, Vernon, asisten DJ Tiesto, mampu menciptakan mix music yang sama rancak dan menyenangkannya dengan yang biasa ditampilkan sang DJ kondang di setiap show-nya. Bukan hanya itu,Vernon pun mencuri perhatian sang model cantik, Poppy Delevingne, yang sejak dulu menjadi love interest-nya. Dengan Acer Aspire P3 Ultrabook, perangkat yang tepat untuk mewujudkan hidden passion, bahkan cowok sekikuk Vernon pun dapat berbagi panggung dengan DJ ternama.

Sebaris kalimat inspiratif menutup video tersebut: nothing can stop you from realizing your dream. So, berhentilah mencari dalih, wujudkan impianmu bersama Acer Aspire P3 Ultrabook™. Be productive, passionate, and professional.

“Without work, all life goes rotten. But when work is soulless, life stifles and dies.”
— Albert Camus

P.S.: Artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba Hidden Passion yang diadakan Acer Indonesia, berhadiah 1 unit Acer Aspire P3 Ultrabook. Coba ikutan, yuk, siapa tahu kamu beruntung 🙂 Simak ketentuan lombanya di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Acer Aspire P3 Ultrabook: Perangkat Terbaik Wujudkan Hidden Passion-ku

    1. selviya hanna Post author

      Thank you Cyn 🙂 Semoga.. ini buatnya mendadak juga sih, tuh sketsanya aja quickie banget 🙂

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s