Pertimbangan Editor dalam Memilih Penerjemah

credit: prozcomblog.com

Karena sering ditanyai via personal message mengenai pertimbangan editor dalam memilih penerjemah, amannya saya tuliskan di sini saja agar terdokumentasi dengan rapi (alasan sebenarnya, sih, malas ngetik berulang-ulang :p)

Pertimbangan saya dalam memilih penerjemah: 1. Gaya bahasa yang sejalan. 2. Akurasi dalam menerjemahkan. Idealnya dapat penerjemah yang bagus di kedua unsur tersebut — itu impian semua editor. Tetapi, kalau diharuskan memilih, saya lebih memilih yang pertama.

Hingga saat ini saya masih mereview setiap terjemahan yang masuk, membandingkannya dengan teks sumber, kalimat per kalimat. Saat menemukan terjemahan yang maknanya agak melenceng, bisa langsung saya betulkan dengan sumber yang valid (kamus, ensiklopedi, dll). Tapi kalau menemukan terjemahan yang gaya bahasanya amat berbeda dengan saya (mungkin terlalu kaku, terlalu miskin diksi, atau terlalu berpanjang kata menurut selera saya), saya harus bekerja keras memoles kalimat dan memikirkan diksi yang lebih tepat.

Katakanlah saya punya standar sendiri tentang kalimat yang efektif dan enak dibaca. Setiap jalinan kata punya alunan musik dan irama sendiri di telinga saya. Kalau ritmenya berantakan, saya pasti stres. Nah, menyunting karya penerjemah yang berbeda gaya bahasa dengan saya, bukan hanya menyita waktu… dasar saya berpijak pun amat subjektif, yaitu cita rasa. Tidak ada sumber data yang valid untuk membenarkannya selain “kalimat ini rasanya kok gak enak, ya?” Itulah kenapa saya sebisa mungkin selalu memilih sendiri penerjemah dari buku-buku yang saya sunting. Yah, semata-mata demi efektivitas energi dan kesehatan jiwa.

Jadi, bila ada beberapa teman yang pernah mengikuti tes terjemahan namun tidak diterima, jangan terburu-buru menilai diri Anda tidak pandai menerjemahkan. Mungkin terjemahan Anda akurat, namun berselisih rasa dengan sang editor.

Nah, bagaimana dengan typo? Hmm… typo itu ibarat kerikil kecil, yang tidak sampai menumbangkan tapi terasa mengganggu di kaki kita. Apakah hasil terjemahan yang diserahkan ke editor harus bebas dari typo? Sangat disarankan begitu, namun itu pun bukan sesuatu yang mutlak. Jika waktunya terbatas, lebih baik mencurahkan waktu untuk merangkai kalimat yang akurat dan indah dibaca, daripada menangani typo. Soal typo, serahkan saja ke proofreader 🙂 (tapi jangan kebangetan salah ejanya, kasihan nanti si proofreader rambutnya habis lantaran sering dijambak-jambak).

Eh, tapi ini preferensi saya saja, lho, yang baru berkecimpung di penerbitan buku selama lima tahun (masih muda, yah? hihihi *abaikan*) Tidak semua editor seperti saya, itu pasti. Ada yang lebih memilih terjemahan akurat ketimbang kalimat-kalimat yang manis membuai namun maknanya (agak) bergeser. Tapi, kalau dalam menerjemahkan Anda main labrak idiom dan miskin kosa kata dalam bertutur, kans Anda diterima tentu makin mendekati nol. Kalau kasusnya demikian, ini saatnya Anda belajar lebih dalam.

Jadi, kenalilah karakter dan preferensi editor, sambil terus mengukur kualitas diri Anda. Kalau Anda melamar ke suatu penerbit namun ditolak, ada baiknya tanyakanlah alasan di balik penolakan itu.  Editor yang baik hati (dan sedang tidak dihujani singa mati), pasti akan menjawabnya 🙂

NB: Supaya tidak rancu dengan masalah “gaya bahasa” yang saya angkat di sini, silakan baca juga artikel ini.

Advertisements

7 thoughts on “Pertimbangan Editor dalam Memilih Penerjemah

  1. lulu

    Yap, dua poin yang Selvi sebutkan memang secara garis besar jadi pertimbangan editor saat nerima penerjemah *ngenang masa2 jadi editor :D* Tapi aku mungkin beda dikit … Dulu aku justru lebih mengutamakan ketepatan dalam menerjemahkan. Abis jika mendapat penerjemah yang gaya bahasa-nya enak banget tapi banyak salah, rasanya pingin gigit2 laptop … hehe

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Wah.. untung laptopnya gak terbuat dari roti (bakalan habis tuh) 🙂 Betul, bisa bikin frustrasi gitu ya Mbak? Kalau aku memang sebisa mungkin berusaha mencari penerjemah yang punya ketepatan menerjemahkan + gaya bahasa yang enak banget.Jadi kerjanya bisa lebih cepat 🙂 Tapi aku pernah juga nangani naskah yang banyak salahnya dan gaya bahasanya lebay –> sampai jerit-jerit sendiri di kamar :p

      Reply
  2. Desak Pusparini

    Wah, Mbak Lulu, jangan diabisin laptopnya, bagi ke saya juga dong 😉
    Btw, saya berdoa, semoga bukan saya yang membuat Mbak Selvy jejerit sendiri di kamar 🙂 *serius berdoa*

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s