Kisah Menerjemahkan Lost Man’s Lane (Novel Detektif Klasik)

Image

Judul: Lost Man’s Lane | Penulis: Anna Katharine Green | Penerjemah: Selviya Hanna | Penyunting: Fitria Pratiwi| Penerbit: Visimedia | Tahun Terbit: 2013

Karena sejak dulu ingin merasakan menerjemahkan novel klasik yang bagi kebanyakan orang itu sulit (dan memang sulit), ketika ditawari menerjemahkanLost Man’s Lane oleh editor Visimedia, kesempatan itu langsung saya sambar. Namun, nama Anna Katharine Green, nama sang pengarang, tidak terlalu familier di telinga saya. Kalau Sir Conan Doyle, dengan master detective-nya yang mendunia, Sherlock Holmes, semua orang pasti langsung tahu. Tapi Anna Katharine Green? Amelia Butterworth? Ebenezer Gryce? Tidak banyak yang tahu, setidaknya tidak menyamai popularitas Mr. Doyle dan Holmes di masa kini.

Tetapi sang editor sudah menyelipkan petunjuk bahwa sang pengarang adalah ibunda novel detektif. Dan ketika saya menggali informasi di internet, kekaguman saya pada penulis wanita ini pun kian bertambah: Anna Katharine Green adalah salah satu penulis fiksi detektif pertama di Amerika, yang menyuguhkan keunikan berupa kisah-kisah yang alurnya terjalin baik dan akurat.

Dan Lost Man’s Lane, yang mengusung Amelia Butterworth serta Ebenezer Gryce, adalah karya yang lahir dari tangan penulis wanita yang progresif menurut ukuran zamannya. Beberapa sumber yang saya baca menganggap sosok Amelia Butterworth, seorang lady yang mendobrak batas dan berprinsip kuat – misalnya saja tetap melajang meski usianya sudah sangat pantas untuk membina rumah tangga – mencerminkan kepribadian Anna Katharine Green sendiri. Namun terlepas dari benar-tidaknya penafsiran itu, kisah Lost Man’s Lane, yang dituturkan dari sudut pandang Amelia Butterworth, memikat dan layak dibaca.

Dalam Lost Man’s Lane, Amelia Butterworth membantu Mr. Gryce menyelidiki kasus orang  hilang yang terjadi beberapa kali di sebuah desa terpencil. Jalan Orang Hilang, sebuah jalan di pinggiran desa, diklaim sebagai tempat kejadian perkara. Kebetulan, anak-anak dari teman lama Butterworth tinggal di jalan tersebut, dan rumah mereka masuk dalam daftar kecurigaan polisi. Loreen, Lucetta, dan William – ketiga bersaudara itu sangat mencurigakan. Apalagi William, yang tak tahu adat dan kasar lagaknya, ternyata senang membedah hewan. Namun, mungkinkah Bunda Jane, wanita tua tunarunggu yang juga tinggal di jalan itu, adalah sang pelaku kejahatan tersebut? Atau justru Deacon Spear dalangnya?

Sama seperti That Affair Next Door, Lost Man’s Lane penuh dengan kejutan dan alur yang tak terduga. Ketika kedua detektif ini sampai pada satu kesimpulan, temuan yang baru langsung mematahkannya. Kisah ini pun melibatkan fenomena hantu dan supernatural, juga penduduk desa yang percaya pada takhayul lama. Butterworth dan Gryce harus bekerja keras menguak misteri yang menyelubungi jalan tersebut.

Seperti novel-novel klasik lainnya, bahasa yang digunakan agak berputar-putar, tidak selugas novel kontemporer, namun masih dalam taraf yang cukup mudah dimengerti. Tantangan saya sebagai penerjemah adalah meramunya menjadi kalimat-kalimat yang enak dibaca namun tidak kehilangan nuansa klasiknya. Yah, ini memang bukan tugas yang gampang, tapi untuk mengasah rasa bahasa, saya melahap novel-novel detektif lain yang diterbitkan oleh Visimedia. Tantangan lainnya, tak ada komunitas khusus di dunia maya yang membahas istilah-istilah khusus dalam buku karya Anna Katharine Green, seperti forum Sherlockian, sehingga saya harus berusaha lebih keras dalam memahaminya. Namun, seperti yang saya siratkan di atas, Lost Man’s Lane adalah novel detektif yang layak diterjemahkan dan dibaca. Dan ketika diberi tahu bahwa Lost Man’s Lane telah terbit dan siap menyerbu toko buku, tebersit harapan bahwa novel ini akan diterima dengan baik oleh pecinta dan penikmat novel detektif di bumi Indonesia ini.

(Kisah ini juga dimuat oleh Visimedia di blognya)

Advertisements

One thought on “Kisah Menerjemahkan Lost Man’s Lane (Novel Detektif Klasik)

  1. Pingback: Apresiasi untuk Terjemahan Lost Man’s Lane (Visimedia, 2013) | selviya hanna

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s