Kisah Cinta di Kereta Malam

20140112_191448

Objek observasi kami. Maafkan kualitas foto yang kurang mumpuni karena diambil sembunyi-sembunyi ini 🙂

Agak sulit untuk tidak memperhatikan pasangan ini. Pertama, kursi mereka tepat di seberang kursi depan kami. Kedua, dua sejoli itu tampak mencolok—yang cewek mungil dan berparas manis, yang cowok tinggi besar dan berkulit gelap. Ketiga, aksi si cowok sungguh mencenggangkan. Lelaki itu, sambil memasang ekspresi datar, memesan tiga helai selimut: satu untuk kekasihnya, dua untuk dirinya sendiri. Dengan santai digelarnya sehelai selimut di lantai kereta, yang lazimnya menjadi tempat penumpang menapakkan kaki, lalu duduk di situ. Ditatanya tas bawaan mereka membentuk bantal di ujung kursi, lalu disuruhnya si cewek membaringkan kepala di situ.

Kami baru saja bertolak dari Stasiun Bandung—masih 12 jam lagi baru saya dan Mas Anto bisa menginjak lagi Bumi Surabaya. Kami mengobrol riuh, membincangkan banyak hal. Mulai dari perjalanan istimewa kami menelusuri Lembang, melihat Observatorium Boscha, juga menyantap pizza volcano di Floating Market bersama kedua sahabat kami, Robert dan Chyntia beserta putra kecil mereka, Gregory. Namun, pandangan saya lagi-lagi tertumbuk pada kedua pasangan muda itu. Saya taksir, mereka belum menikah. Di jari-jemari mereka belum tersemat cincin—meski itu bukan jaminan juga karena saya dan suami pun jarang mengenakan cincin nikah kami. Gadis itu tampaknya sedang tidak fit, beberapa kali ia terbatuk dan menempelkan sapu tangan ke hidungnya. Sang pemuda memijiti lengannya, mengobrol sebentar sebelum akhirnya menyelimuti kekasihnya dengan selimut wol biru laut. Tak lama, si cewek tertidur, sedangkan si cowok, sibuk menggerayangi stok kudapan dan memesan popmie.

Dalam hati saya terkagum. Hebat sekali, pemuda bertampang sangar ini rela mengorbankan kenyamanannya sendiri demi kenyamanan pujaan hatinya. Waktu saya cerita ke Mas Anto, dia langsung nanya, “Kamu mau seperti itu juga tha?” Saya menggeleng. Toh saya tidak sedang sakit, dan saya juga tidak tega membiarkannya tidur di lantai yang dingin. Lagi pula, suami saya ini sudah sering berkorban bagi saya. Mulai dari merelakan saya dapat bagian cake yang lebih besar, mau berjibaku di dapur kala saya tidak sedang mood memasak, sudi keluar  tengah malammencarikan balsem otot untuk memijit kaki saya yang pegal (saya sulit tidur kalau tidak dipijit), sampai merelakan jas hujannya untuk saya pakai saat jas hujan saya tertinggal di rumah. Juga segudang pengorbanan lainnya yang membuat cinta saya kepadanya kian mekar dari hari ke hari.

Dari situlah saya mengerti bahwa cinta itu bukan sekadar kata-kata mesra semacam I love you, kaulah yang paling berarti dalam hidupku, atau, menyitir sebuah lagu yang ngehits banget di kalangan para galauers masa kini, aku tanpamu… butiran debu. Cinta juga tidak melulu mewujud dalam cokelat dan bunga, atau hadiah-hadiah yang menghujani kita di momen-momen istimewa seperti hari kasih sayang, anniversary, perayaan ulang tahun, dan lain sebagainya.

Cinta adalah berkorban.

Ya, berkorban. Ketika kita mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita, itulah cinta. Ketika si pemuda di kereta ini rela tidur nyenyaknya terenggut demi kenyamanan kekasihnya yang sedang sakit, itulah cinta. Ketika orangtua rela berpantang makan enak demi membelikan anak-anaknya baju yang layak, itulah cinta. Ketika sang anak tetap menyediakan waktu untuk memperhatikan orangtuanya meski dilanda kesibukan, itulah cinta. Ketika saya rela tidak memasak ikan di dapur kami, karena Mas Anto tidak suka mencium aroma amis ikan, itulah cinta. Ketika ia akhirnya mengizinkan saya masak ikan di dapur setahun kemudian, itulah cinta. Ketika sahabat kami di Bandung merelakan waktu, uang, dan tenaganya untuk mengajak kami jalan-jalan ke destinasi turis di sana, itulah cinta. Ketika kita tergerak untuk menyumbangkan bantuan bagi orang-orang asing di daerah lain yang tertimpa bencana, seperti misalnya letusan Gunung Kelud yang terjadi subuh ini, itulah cinta. Bahkan, saya percaya, Tuhan pun berkorban dalam mencintai manusia. Dalam keimanan yang saya yakini, Tuhan rela menjadi manusia dan mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Itulah cinta.

Satu hal yang pasti, cinta menolong kita melupakan batas-batas kenyamanan pribadi dan mulai memikirkan kebaikan orang yang kita cintai. Yuk, rayakan hari kasih sayang ini dengan melakukan satu pengorbanan—tidak harus rumit, yang penting tulus—untuk orang tercinta. Karena mungkin saja kita berkorban tanpa cinta, tetapi cinta tanpa pengorbanan… sungguh mustahil. 🙂

credit: hpccr.wordpress.com

Advertisements

10 thoughts on “Kisah Cinta di Kereta Malam

  1. hasannote

    “Tak lama, si cewek tertidur, sedangkan si cowok, sibuk menggerayangi stok kudapan dan memesan popmie.” Waduh, kirain “menggerayangi” apa gitu..ha. Cinta butuh ketulusan dalam berkorban..:)

    Reply
  2. noe

    Eh, tapi jangan salah loh… memang ada yg memilih tidur di lantai kereta krn lbh leluasa. maksudnya badannya gk harus di tekuk2 di kursi yg terbatas luasnya. xixixi
    pengalaman, di kerata Jogja-Jakarta, si bapak2 gelar koran tidur di lantai dan mempersilakan aku gunakan kursinya utk selonjoran. katanya lbh enak tdr di bawah

    Reply
    1. selviya hanna Post author

      Oya? Padahal kelihatannya dingin dan berguncang-guncang gitu, ya, Mbak? Aku mungkin bakal ngizinin suamiku tidur di bawah kalau ada kasur lipat hehe…

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s