Terjemahanku di National Geographic Traveler Indonesia Maret 2014

1622809_685302318175178_959770702_n

Bagi saya, bisa menerjemahkan artikel untuk National Geographic Indonesia adalah suatu kehormatan, juga impian saya sejak pertama kali membaca majalah ini. Jadi, jujur, ketika sang editor menyatakan bahwa gaya terjemahan saya memenuhi standar majalah beken nan berbobot ini, rumah saya mendadak terasa sempit *saking gede kepalanya, maksudnya* :p

Saya tak akan berkata menerjemahkan lima artikel–satu di antaranya, 20 Loka Wajib Kunjung 2014,  masuk sampul depan–dari National Geographic Traveler Indonesia ini mudah. Saya perlu memeras otak dan mengkreasi diksi, karena dalam teks aslinya para penulis kerap menggunakan permainan kata. Apalagi, majalah ini punya reputasi sebagai media dengan pembahasaan yang unik dan berstandar tinggi, gemar bereksperimen kata dan luwesnya minta ampun. Jadi, saya bertekad agar jangan sampai mengecewakan sang editor.

Syukurlah, ketika majalah ini sampai ke tangan saya beberapa hari lalu, saya merasa lega ketika mendapati editor tidak mengubah judul yang saya usulkan dan hanya dua kali mengubah subjudul. Misalnya, Lower Garden District, New Orleans, yang saya alihbahasakan menjadi Sejatinya New Orleans, ternyata disetujui. Lalu, Best of the World yang ada di artikel 20 Places to See Now, yang saya terjemahkan jadi Jawara Wisata Dunia, juga dipertahankan. Yang diubah dari subjudul antara lain Kidung-kidung yang Menggetarkan Hati dari ulasan Cape Verde, menjadi Kepulauan Nan Penuh Nyanyian Jiwa, juga Di Hadapan Para Danawa menjadi Di Hadapan Para Gergasi. Setelah diedit, jadi lebih bagus, kan? 🙂

Yang juga bikin senang, terjemahan subjudul seperti Jalan Jauh Putra Daerah (asli: A Native Son’s Walkathoni), Tambang Emas Hijau (asli: Is Green the New Gold?), dan Si Cantik Berwangi Kopi (asli: Beauty and the Beans in Southeast Asia)–tidak diotak-atik. Saya pun sempat membaca setiap artikel, dan merasa tidak banyak yang berubah. Tapi sang editor sempat mengingatkan saya untuk penulisan ibu kota, penerjemahan nama tempat, dan konversi ukuran. Overall, menurut editor baik hati ini, terjemahan saya sudah luwes dan cenderung akurat *kyaaaa*

Jadi, intinya, proyek perdana dengan NGT Indonesia ini sungguh menantang, menyenangkan, dan memperkaya. Apalagi, nama Selviya Hanna juga dimasukkin ke daftar redaksi sebagai translator. Senangnya jadi double, deh. Terima kasih ya Tuhan, untuk kebaikan-Mu di awal tahun ini. Tanpa-Mu, semua ini tak mungkin terwujud. Terima kasih juga untuk sang editor yang sudah memercayakan artikel-artikel ini ke saya.

Baiklah, berikut saya cuplikkan artikel-artikel yang saya terjemahkan di edisi Maret 2014 ini, ya. Enjoy, dan jangan lupa beli NGT Maret 2014 karena artikel lainnya pun keren-keren semua. Psst, ada artikel yang ditulis oleh Desi Anwar juga, lho 🙂

NGT1303 20 Loka Untuk Dikunjungi

NGT1303 Gairah Baru ZagrebNGT1303 Roda-roda Tangguh dari SwissNGT1303 Naga Itu Pun Membubung dan Sejatinya New Orleans

Advertisements

13 thoughts on “Terjemahanku di National Geographic Traveler Indonesia Maret 2014

    1. selviya hanna Post author

      Wualah, mas. Ojok ngono ntar helmku gak muat lho 🙂 Tengkyu untuk dukungannya, ya, editor andal 😀

      Reply
    1. selviya hanna Post author

      Makasih, Mbak Rini. Oya, astaga, salah tulis tahun 😦 langsung kubenahi, terima kasih untuk ketelitiannya, ya, mbak 🙂

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s