(Resensi Buku) Memperjuangkan Kebanggaan Pendidikan di Tanah Bibinoi

 BJT6hViCIAE8DPn

Judul: Anak-anak Angin: Keping Perjalanan Seorang Pengajar Muda |Penulis: Bayu Adi Persada |Penerbit: Plot Point Publishing |Cetakan: I, April 2013 | Tebal: 271 halaman | ISBN: 978-602-9481-26-6 | Harga: IDR 33.600.

Selalu ada cerita yang menyertai kegagalan seorang insan. Ada kisah pilu dan menyayat hati; ada pula yang melahirkan tekad dan mengobarkan semangat. Agaknya, kisah yang tertuang dalam memoar Anak-anak Angin ini masuk kategori yang terakhir.

Adalah Bayu Adi Persada, seorang Pengajar Muda, yang memaknai kegagalan sebagai kesempatan untuk berbuat lebih bagi bangsanya. Rasa kalah karena ditolak oleh perusahaan multinasional membawanya bertolak dari gemilap ibu kota menuju pelosok timur Indonesia.

Ketika kakinya menginjak pasir pantai di desa kecil bernama Bibinoi, petualangan yang mengubahkan pun dimulai.

Sebagai pengajar muda yang tergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar, Bayu menjadi guru bantu di kelas III SDN Bibinoi, Halmahera selatan. Namun, merengkuh hati 37 anak didik di sekolah gratis itu bukanlah perkara mudah. Perbedaan bahasa dan kultur, ditambah tabiat sulit mereka, adalah kendala yang sulit diatasi.

Semenjak dalam rahim, anak-anak Bibinoi sudah diajarkan bahwa hidup ini keras. Mereka tidak dibesarkan dengan belas kasih dan lembut tangan orangtua, tetapi dengan rotan tipis sepanjang lengan bapaknya (h.72). Tak heran jika teguran dengan kata-kata saja tidak cukup mendatangkan efek jera. Ada murid-murid yang suka menaikkan kaki ke atas meja, membuang ludah ke lantai kelas, juga menghambur pulang di jam istirahat dan tak kembali lagi.

Awalnya, hubungan Bayu dengan murid-muridnya diwarnai kecanggungan. Namun, begitu dia mahir berbahasa daerah Bacan, menyediakan diri sebagai teman di luar kelas, serta disiplin menegakkan aturan, sekat pembatas itu pun runtuh. Dia yakin, dengan semangat yang baik dan pemberian materi yang tidak membosankan, anak-anak angin itu akan menyadari bahwa belajar itu menyenangkan (h.162). Kerja kerasnya berbuah indah: salah satu muridnya berhasil lolos ke babak semifinal Olimpiade Sains Kuark Nasional 2011. Perlahan tapi pasti, benih harapan yang dia semai mulai bertumbuh.

Namun, jalan yang Bayu tempuh tak lepas dari kerikil dan batu-batu perintang. Sistem pendidikan di desa itu ternodai oleh penyelewengan dana BOS dan rendahnya dedikasi tenaga pengajar setempat.  Para orang tua  juga sibuk mencari nafkah dan sudah cukup puas bila anak mereka lancar baca-tulis. Alhasil, mereka tak begitu mengikat anaknya dengan sekolah (h.35). Sejumlah anak “terpaksa” mengorbankan jam sekolah demi membantu orangtuanya bekerja.

Mampukah Bayu, dengan masa baktinya yang singkat, menghadirkan perubahan di sana?

Dengan uraian yang lugas dan jauh dari membosankan – apalagi menggurui – Anak-anak Angin menggulirkan manis-getirnya kehidupan di desa pesisir itu. Pembaca akan diajak menemui Mama Saida, sosok keibuan pengobat rindu Bayu pada kampung halaman; Olan, murid terpandai yang menangis lantaran tak bisa menulis huruf “a”; juga Pak Makmun, guru honorer bergaji 150 ribu per bulan tapi sangat giat mengajar. Seutuh dua sisi mata uang, memoar ini pun menyajikan potret suram masyarakat Bibinoi: kecurangan ujian nasional di pesantren, maraknya kasus hamil di luar nikah, juga murid-murid yang sedikit tersentuh perubahan.

Tak bisa dipungkiri, apa yang terjadi di Bibinoi, mungkin sedang berlangsung di tengah-tengah kita. Memoar menyentuh ini  “mendesak” kita untuk peduli. Bayu menunjukkan kepeduliannya dengan bermain di kali bersama murid-murid, menjadi teman di saat-saat tersulit, dan mau terlibat. Dilewatinya batas-batas nyaman dan mapan, lalu berbuat sesuatu dengan apa yang dia bisa. Diajaknya anak-anak itu bermimpi dan berjuang demi kebanggaan.

Anak-anak Angin adalah pijaran inspirasi yang tak ternilai, bagi siapa pun yang menyadari keajaiban pendidikan, dan merindukan perubahan di negeri ini.


Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s