Menerjemahkan Cold-Case of Christianity (2014)

Cold Case Christianity

Judul: The Cold-Case of Christianity | Penulis: Jim Wallace | Penerjemah: Selviya Hanna | Penerbit: Literatur SAAT

Jujur, buku ini merupakan salah satu buku rohani Kristen terbaik yang pernah saya terjemahkan. Karena itu, ketika dikabari teman saya, Ephy, seorang dosen di UK Petra, bahwa Cold-Case Christianity yang diterbitkan di Indonesia oleh Literatur SAAT ini, telah dirilis, saya kontan melonjak kegirangan.

Menerjemahkan buku ini tergolong seru. Kenapa seru? Karena buku apologetika ini ditulis oleh Jim Wallace, seorang detektif kawakan mantan ateis. Alhasil, Cold-Case Christianity lebih mirip kisah detektif beralur cepat yang sarat dengan argumen menarik serta menawarkan pandangan yang masuk akal dari sisi hukum terhadap bukti-bukti yang mendukung ataupun menentang nilai historis Kekristenan.  

Jim Wallace dahulu skeptis terhadap agama dan ajaran Kristen, hingga suatu ketika ia memutuskan untuk mempelajari Injil dan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebagai penyidik berpengalaman, ia pernah mewawancarai ratusan (mungkin ribuan) saksi mata dan tersangka. Tak heran bila ia semakin peka dengan natur keterangan saksi mata dan memahami bagaimana kesaksian itu dinilai di ruang sidang. Sesuatu dalam Injil menyadarkan Jim bahwa ini lebih dari dongeng mitologis semata. Sesungguhnya, Injil adalah keterangan saksi mata versi kuno.

Berbekal ketajaman mengalisis pernyataan forensik (FSA atau Forensic Statement Analysis), menelisik pilihan kata ganti tersangka, penggunaan keterangan waktu, pemampatan atau penguluran waktu (bersama dengan banyak kecenderungan bahasa lainnya), Jim bisa menentukan apakah benar ia pelakunya. Ia pun bisa membuktikan jam berapa kejahatan itu sebetulnya terjadi! Jim lalun mulai menggunakan FSA saat mendalami Injil Markus. Dalam waktu sebulan, terlepas dari skeptisisme dan keraguannya yang mengakar kuat, ia menyimpulkan bahwa Injil Markus adalah keterangan saksi mata dari Rasul Petrus!

Jim Wallace menyuguhkan premis bahwa kekristenan menyatakan klaim tentang sebuah peristiwa di masa silam yang menyisakan sedikit atau tak ada bukti forensik. Seperti kasus pembunuhan lama lainnya, kebenaran dapat diungkap dengan menguji keterangan saksi mata serta membandingkannya dengan sedikit petunjuk tambahan yang dapat kita akses.

Melalui Cold-Case of Christianity, Jim Wallace berupaya membuktikan benarkah narasi Injil adalah keterangan saksi mata atau sekadar mitologi yang bertabur pesan moral? Apakah Injil memang sahih, ataukah Injil diisi oleh perkara-perkara mustahil, magis, dan tak layak dipercaya? Apakah para saksi mata–penulis Injil dan murid-muridnya–layak kita percayai? Jim lantas mengajak kita mengkaji semua pertanyaan itu selayaknya detektif andal.

Bagi orang Kristen, buku ini adalah perangkat untuk mempertanggungjawabkan iman dengan cara yang lebih cerdas dan bersemangat. Sementara itu, bagi orang skeptis yang menolak Alkitab seperti Jim dahulu, pengalaman dan wawasan yang ingin ia bagikan mungkin akan menolong Anda menilai para penulis Injil dari sudut pandang yang baru.

Yuk, cek cuplikan buku ini di sini:

CUPLIKAN:

Asas #1:

Jangan Sok Tahu

“Jeffries dan Wallace,” hardik Alan tak sabaran sementara seorang petugas muda tergopoh-gopoh menulis nama kami di catatan tempat kejadian perkara. Alan mengangkat garis polisi dan membungkuk – melewatinya sambil mengernyit kesakitan karena harus bertumpu pada lutut yang lemah. “Aku sudah terlalu tua untuk ini,” ujarnya sambil membuka kancing mantelnya. “Kami selalu dipanggil pada tengah malam begini, dan makin lama semakin larut.”

Ini penyidikan pembunuhan pertama yang saya ikuti, dan saya tidak ingin mempermalukan diri saya. Saya sudah menangani kasus perampokan selama bertahun-tahun, tetapi baru kali ini terlibat dalam investigasi kematian yang mencurigakan. Jangan sampai gerak-gerik saya di tempat kejadian perkara justru mencemarinya. Saya berjalan tenang dengan langkah-langkah pendek, mengikuti Detektif Allan Jeffries kemana-mana seperti anak anjing. Alan sudah menangani kasus pembunuhan dan tetek-bengeknya selama lima belas tahun lebih. Beberapa tahun lagi, ia akan pensiun. Pria ini berwawasan luas, berpendirian keras, percaya diri, dan agak galak. Saya sangat senang berpartner dengannya.

Kami berdiri sejenak, mengamati jasad korban. Wanita itu terbaring setengah telanjang di ranjangnya, mati tercekik. Tak ada tanda-tanda perlawanan ataupun jejak pembobolan di apartemennya, hanya seorang wanita berusia empat puluh enam tahun yang terkapar tak bernyawa dalam posisi yang amat tidak wajar. Pikiran saya berpacu, mencoba mengingat kembali semua yang saya pelajari dalam pelatihan dua minggu mengusut kasus pembunuhan yang baru-baru ini saya ikuti. Saya tahu ada potongan-potongan bukti penting yang perlu dijaga dan dihimpun. Saya berusaha keras menilai kuantitas “data” yang ada di TKP. Apa kaitan antara petunjuk yang tertinggal dan si pembunuh? Dapatkah TKP itu direkonstruksi untuk mengungkap identitas pembunuhnya?

“Hei, ayo bangun!” Suara keras Alan membuyarkan pikiran saya. “Ada pembunuh yang harus kita tangkap. Carikan aku suami wanita ini; ialah orang yang kita cari-cari.”

Apa? Alan sudah tahu jawabnya? Ia melontari saya tatapan menghina dan tak sabaran. Ditunjuknya sebuah foto berpigura yang terjatuh di atas nakas tempat tidur. Korban kami berpose dalam pelukan sayang seorang pria yang tampak sebaya dengannya. Ia lalu menunjuk beberapa pakaian pria yang tergantung di sisi kanan lemari baju. Beberapa pakaian sepertinya tak ada di tempat.

“Aku sudah sangat berpengalaman, Nak,” ujar Alan sambil membuka buku catatannya. “Pembunuhan yang dilakukan orang asing jarang terjadi. Pria di foto itu mungkin suaminya, dan dari pengalaman,aku tahu pasangan suami-istri bisa saling bunuh.” Alan dengan sistematis menyoroti beberapa bukti dan menafsirkannya untuk mendukung analisis tersebut. Tak ada pembobolan, korban tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan, foto yang tergeletak di atas nakas tempat tidur, pakaian lelaki yang raib dari lemari—Alan menganggap itu konfirmasi atas teorinya. “Jangan dibuat rumit, anak baru. Hampir semua kasus pembunuhan sebetulnya amat sederhana. Carikan aku suaminya, akan kubuka kedok pembunuhnya.”

Namun ternyata kasusnya lebih rumit dari yang ia duga. Tiga bulan kemudian baru kami menemukan tersangka pembunuhan ini, dan rupanya ia tetangga korban yang berusia dua puluh lima tahun. Lelaki itu nyaris tidak mengenal korban, tapi berhasil memperdaya wanita tersebut untuk membuka pintu pada malam ia memerkosa dan membunuhnya. Korban ternyata masih lajang, dan lelaki di foto tersebut adalah saudaranya (yang tinggal di luar negeri dan kadang datang berkunjung, sehingga ada beberapa bajunya yang tersimpan di lemari). Semua dugaan Alan keliru, dan asumsinya memengaruhi cara kami memandang bukti-bukti yang ada. Falsafah Alan merusak metodologinya.Bukannya mengikuti tuntunan bukti, kami memutuskan lebih dahulu ke mana petunjuk-petunjuk itu mengarah, lalu mencari penegasan. Syukurlah kebenarannya terungkap.

Setiap kita menyimpan asumsi-asumsi yang dapat memengaruhi cara kita memandang dunia di sekeliling kita. Sebisa mungkin saya mengawali setiap investigasi dengan mata dan pikiran yang terbuka pada semua kemungkinan yang masuk akal. Saya berusaha tidak menggunakan falsafah atau teori tertentu sebelum semua bukti mengarah ke sana. Saya memahami ini melalui pengalaman yang tidak menyenangkan, dan kesalahan saya tak terhitung banyaknya. Namun, satu hal yang saya yakini pasti (dan berlaku dalam mengusut kasus pembunuhan baru ataupun lama): saat memulai investigasi,jangan biarkan keyakinan kita mendikte hasil. Utamakan objektivitas. Ini asas pertama detektif yang harus kita taati dalam mengusut kasus. Kedengarannya sederhana, tapi prasangka-prasangka kita adakalanya tersembunyi sedemikian rupa hingga sulit dibongkar dan dikenali.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s