Terjemahanku di National Geographic Traveler April 2014

Rasanya senang sekali karena sang editor di edisi kali ini memercayakan satu artikel fitur untuk saya terjemahkan, bersama dengan beberapa artikel pendek. Dan menariknya lagi, artikel fitur ini berkisah tentang Yunnan, daerah di China daratan yang digadang-gadang sebagai rumah dari Shangrila, negeri khayalan di mana penduduknya dipercaya memiliki umur panjang yang melampaui batas kewajaran.

Ketika mendengar “China”, yang terbayang di benak saya adalah negara padat penghuni yang sangat industrial. Kesan eksotisnya, menurut saya masih kalah dengan tetangganya, Korea Selatan dan Mongolia. Namun itu, kan, kata saya, yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri tirai bambu ini. Nah, ketika menerjemahkan artikel fitur “Melampaui Menara Langit” (judul asli: Over the Horizon), saya jadi mengerti bahwa masih ada wilayah di tanah nan luas ini yang kental dengan misteri dan kecantikan alam.

20140410_084054

Scott Wallace, seorang travel-writer yang juga cucu dari Francis Kennedy Irving Baird, menuturkan petualangannya menyambangi Yunnan, pelosok terpencil di penggalan barat daya China. Berikut adalah cuplikannya:

Melampaui Menara Langit

KEMEGAHAN BERBALUT MISTIK DI GUNUNG-GEMUNUNG YUNNAN, PROVINSI CHINA. LENGKAP DENGAN MISTERINYA.

“Mungkinkah itu dia?” tanya Na Niu, seorang penjaga kuil di Tong Dui, dusun kecil di provinsi Yunnan yang bergunung-gunung. Tangannya yang berbonggol-bonggol menggelar sehelai selendang sutra, menampakkan potret-potret lusuh hitam putih yang pudar dimakan waktu. Sisi-sisinya berbingkai motif kerang khas 1930-an, sekitaran masa kakek saya yang berjiwa bebas—dari pihak ibu—merambah daerah-daerah tapal batas, tempat ancala-ancala Yunnan menghimpit Tibet.

Saya pandangi foto itu lekat-lekat. Lima wajah menatap balik dari berpuluh tahun silam, utusan dari bentala yang hilang: tiga Lama Buddha berjubah dan dua orang Barat bersetelan jas. Walhasil saya gondok, lantaran tak satu pun dari orang Barat itu memiliki kemiripan dengan kakek saya, Francis Kennedy Irving Baird. Di suatu tempat di sela-sela pucuk dan ngarai terjal Himalaya timur, Baird mengaku telah menemukan “suku yang hilang” pada 1931, menyatakannya sebagai negeri dongeng Shangri-La, yang lantas dilukiskan oleh James Hilton  dalam novelnya, Last Horizon, dua tahun berselang.

Ketika saya bertumbuh besar, minim sekali yang saya ketahui tentang kakek Baird—dan segelintir pula yang diceritakan. Ibu saya memang menyelipkan selembar fotonya di antara potret-potret keluarga yang menghiasi dinding kamar tidur. Saya kerap menyusup masuk dan menghafalkan raut tampan kakek dan rambut lebatnya yang awut-awutan, berpose di sebuah gunung yang saya bayangkan berjejak di pelosok planet ini. Pekatnya nuansa mistis yang menguar dari potret itu memikat jiwa muda saya. Di manakah dulu gambar itu diambil? Dan dalam situasi bagaimana? Benarkah kakek saya petualang tangguh—atau ia sekadar mengada-ada? Apakah hanya imajinasi saya, ataukah lelaki ini memang dicengkeram begitu kuat oleh hasrat berkelana hingga dinamika hidup yang datar-datar saja membuatnya merasa terpasung?

20140410_084106

Umur ibu saya belum genap lima tahun saat dia melambaikan selamat jalan pada kakek di Sungai Hudson. Pada 1930, Kakek Baird menaiki kapal lintas samudra, menuju Asia. Dia berjanji akan pulang mengantongi kekayaan dan kemasyhuran. Ternyata dia tak pernah kembali.

Ibu pun tak tahu jadi apa kakek di sana, lebih-lebih di mana, kapan, atau benarkah dia telah tutup usia? Namun ibu sempat berujar, saat saya beranjak dewasa dan mulai melanglang negeri-negeri nan jauh, bahwa saya mewarisi gen ayahnya. Benar-tidaknya Baird melihat suku yang hilang masih meninggalkan tanda tanya besar, tetapi perjalanan saya sendiri pun akhirnya berujung pada suku pribumi yang terasing dari dunia luar, jauh di dalam ceruk Amazon. Dengan cara apa saya memafhumi semua kemiripan yang aneh antara hidup saya dan hidup seorang pria yang sosoknya cuma saya lihat di foto-foto lawas: hati kami yang bertaut pada jalan terbuka, enggan diam dan menetap, ditambah lagi getol bermain mata dengan “suku-suku yang hilang”? Keindahan macam apa yang ditawarkan Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet hingga kakek terpukau dan terjerat demikian jauhnya dari rumah dan keluarga?

Selain artikel fitur tersebut, ada dua artikel singkat yang juga saya terjemahkan, mengangkat cerita tentang dikembalikannya pusaka Machu Picchu serta Betlehem yang dianugerahi status Warisan Dunia dari UNESCO.

20140410_083959

Jika ingin berlangganan majalah ini, silakan kontak:
Telp: 021-5306263 Fax: 021-53699096 SMS: 0811908680
Email: subscribe@cc.kompasgramedia.com
www.nationalgeographic.co.id/subscribe

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Terjemahanku di National Geographic Traveler April 2014

  1. Pingback: Terjemahanku di National Geographic Traveler Mei 2014 | Selviya Hanna

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s