Resensi Daya: Kisah Inspiratif Dayakan Indonesia [Koran Jakarta, 14 April 2014]

Cover Daya Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia_Selviya Hanna

Judul: Daya, Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia | Penulis: Her Suganda & Dedy Pristiwanto | Penerbit: Kompas Penerbit Buku | Terbit: I, 2014 | Harga:  Rp. 49.000 | Tebal: 210 hlm | ISBN: 978-979-709-797-4

Ketika krisis moneter melanda perekonomian Indonesia pada 1998, pengusaha kecil sebangsa pedagang kaki lima dan UKM berdiri paling kukuh. Mereka seakan tak tersentuh krisis, padahal perusahaan besar bangkrut berjemaah dan jutaan karyawan kehilangan pekerjaan. Potensi mereka besar tapi sayangnya kurang dukungan.

Modal usaha, misalnya, menjadi kendala utama pengusaha kecil. Contohnya Rokhana dari Trusmi, sentra batik Cirebon. Menekuni usaha batiknya selama 19 tahun, ia berusaha lepas dari dominasi pengusaha batik bermodal kuat. Selain Rokhana, banyak sekali wiraswasta yang bergelut dengan kerasnya persaingan dan pesimisme keluarga ataupun lingkungan. Namun, tariklah benang merah di antara mereka yang berhasil dan Anda akan menemukan ini: keuletan, dan kepedulian untuk mengajak bangkit orang lain.

Daya: Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia merangkum kisah nyata dari 20 lebih orang yang meraih sukses di bidangnya dan mau berbagi rezeki. Buku yang ditulis oleh Her Suganda dan Dedy Pristiwanto ini dibuka dengan kisah Ade Suherman, mantan tukang kebun yang menjadi chef kepercayaan William Wongso, pakar kuliner legendaris Indonesia.  Bersama sang mentor, ia mengenalkan kulinter nusantara ke berbagai negara. William Wongso sendiri berharap makin banyak masyarakat Indonesia yang mencintai kuliner tradisional agar lebih banyak pula warga yang diberdayakan (h.20).

Contoh nyatanya adalah Firmansyah Budi Prasetyo. Memanfaatkan hasil bumi daerahnya, yaitu telo atau ketela, ia mendirikan “Cokro Tela Corporation”. Kini, produknya menjadi salah satu ikon oleh-oleh Yogya. Setiap hari usaha Firmansyah menyerap tepung telo sebanyak satu sampai lima ton, setara dengan 20 ton telo basah. Pengusaha muda ini bahkan berharap, bertani telo bisa menjadi sumber penghasilan yang menguntungkan, dengan estimasi Rp 3 juta/bulan, sehingga para petani di Yogya dan sekitarnya tak perlu berurbanisasi (h.36).

Selain sektor kuliner, pariwisata dan budaya pun sanggup mengangkat taraf hidup. Tersaji dalam buku ini kisah Haris Purnawan yang berhasil menyulap kawasan karst di Bejiharjo, Gunung Kidul, menjadi magnet wisatawan yang menyemarakkan ekonomi desanya. Mengerahkan karang taruna, ia mendirikan Wirawisata Goa Pindul. Pada akhir 2011, jumlah pengunjung Goa Pindul meledak luar biasa, dan roda ekonomi desanya berputar makin kencang. Semua itu tak lepas dari kerja sama dengan berbagai elemen pariwisata dan upaya promosi yang gencar—termasuk melalui dunia maya. (h.112)

Ceruk promosi via internet itulah yang ditekuni Riyeke Ustadiyanto, mantan anggon bebek. Lewat gerakan yang dinamainya “UKM Goes Online”, ia membantu pelaku UKM belajar memasarkan produk melalui search engine optimation (SEO). Prinsip hidupnya pun menarik untuk disimak: “Saya bisa membeli rumah dan mobil. Semua itu berkah yang di atas. Mungkin karena saya ikut memikirkan orang lain.” (h.191). Goris Mustaqim, pendiri Yayasan Asgar Muda, juga membagikan tips suksesnya: “Pertama, mindset untuk selalu siap bekerja keras dan berani ambil risiko. Kedua, ide kreatif untuk dijual ke investor untuk mewujudkan ide. Ketiga, memiliki jaringan luas.” (h.199)

Selain memantik ilham wirausaha, buku ini mengupas figur-figur yang berkiprah di bidang sosial dan kesehatan, turun langsung melayani masyarakat miskin dan memberdayakan mereka. Ada Dr. Hana Amalia pendiri panti asuhan Pondok Kasih, tim Pencerah Nusantara yang rela merambah pelosok Indonesia, serta Michael Lekksodimulyo, dokter yang gemar blusukan ke pemukiman kumuh. Semuanya, lagi-lagi, mengusung pesan yang sama: niat baik, semangat, dan keuletan pasti membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Bagi siapa pun yang ingin menemukan inspirasi untuk berdaya dan memberdayakan, serta semangat untuk merintis dan mengembangkan usaha, Daya: Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia adalah bacaan yang tepat. Apalagi, kisah-kisah di dalamnya dituturkan bukan oleh pengamat semata, namun oleh pelaksana yang turun langsung ke lapangan.

Diresensi oleh Selviya Hanna, dimuat di Koran Jakarta 14 April 2014. Simak versi yang telah disunting di sini.

 

 


Advertisements

8 thoughts on “Resensi Daya: Kisah Inspiratif Dayakan Indonesia [Koran Jakarta, 14 April 2014]

  1. Pingback: Meresensi Buku untuk Media Massa (dan Dapat Buku Gratis dari Penerbit) | Selviya Hanna

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s