Menerjemahkan Esai Foto (Indonesia-Inggris), Tembus The Invisible Photographer Asia

2014-05-05-06-31-01

dicapture dari invisiblephotographer.asia. copyright by Adzwari Ridzki

“Ada rekomendasi, nggak, untuk translator Indonesia-Inggris?” tanya seorang teman lama via Line. “Untuk artikel kebudayaan yang agak nyastra. Atau kalau kamu mau ambil ya gapapa, Hanna.”

Namanya kesempatan yang mengasah kemampuan dan menolong naik level, pasti saya sambut dengan tangan terbuka, dong. Apalagi topiknya pun saya minati: ritual pemakaman di Toraja. Pokoknya, proyek berbau-bau budaya, sejarah, lingkungan, pariwisata, humaniora—tidak mungkin saya tolak *kode*. Ditambah ada kerinduan untuk mulai menggarap terjemahan Indonesia ke Inggris, karena selama beberapa tahun ini saya 99% mengalihbahasakan teks Inggris ke Indonesia. Sampai bahasa Inggris saya rasanya sudah mulai berkarat. Memang, kalau menerjemahkan materi setebal buku, saya belum berani. Namun, kalau diajak menerjemahkan artikel atau website, dan tenggat waktunya bersahabat, hayuk, come to mama 😀

Berhubung esai foto sepanjang 2 halaman ini diembankan pas saya lagi menggarap proyek lain juga, terjemahannya baru bisa rampung tiga hari kemudian, tanggal 10 Februari. Daaaann… syukurlah esai foto hitam putih berjudul Feast for the Dead Body karya Adzwari Ridzki, dimuat pada 31 Maret 2014 di invisiblephotographer.asia.

2014-05-03-22-42-21

dicapture dari invisiblephotographer.asia. copyright by Adzwari Ridzki

Jadi, Invisible Photographer Asia ini merupakan salah satu platform Fotografi dan Seni yang berpengaruh di Asia, getol mengadakan lokakarya, pelatihan, dan menganugerahkan award bergengsi. Kalau saya telusuri di websitenya memang karya-karya yang dimuat punya kualitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Alias, karya-karya jempolan yang selektif dan berkelas, serta didukung esai menarik yang wajib menggunakan bahasa Inggris.

Nah, menurut saya, imaji-imaji hitam putih bidikan mas Adzwari Ridzki ini punya angle yang unik dan kedalaman bercerita. Kalau nggak percaya, cek saja langsung ke TKP untuk membuktikan keabsahan selera saya dan redaktur invisiblephotographer.asia :p

Atas seizin fotografer berbakat ini (izinnya melalui teman saya), saya tampilkan berselang-seling teks asli esai tersebut di blog ini, dan tepat di bawahnya, hasil terjemahan saya. Mumpung esai kali ini tidak berlembar-lembar. Opsi lainnya, Anda bisa bisa langsung menuju esai foto yang berbahasa Inggris di sini. Enjoy

FEAST FOR THE DEAD BODY

Photo & Text: Adzwari Ridzki

2014-05-05-06-31-25

dicapture dari invisiblephotographer.asia. copyright by Adzwari Ridzki

Kesadaran akan kehidupan di bumi ini yang bersifat sementara begitu kuat pada suku Toraja, mereka menyadari bahwa selama tidak ada orang yang mampu menahan matahari terbenam di ufuk barat, maka kematian pun tidak mungkin dapat ditunda.

Torajan people have immensely strong cognizance that life on earth is a transient affair. They realize that impossible as it may seem to restrain the sun set in west, delaying death is more or less the same.

Bagi Suku Toraja yang masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan leluhurnya Aluk To Dolo (kepercayaan animisme), upacara pemakaman rambu solo’ merupakan peristiwa penting dan sakral.  Tidak heran apabila jumlah biaya yang dikeluarkan fantastis­­­­­­­­­­­­­­­­­–ratusan juta bahkan milyaran rupiah, mengingat upacara ini bisa berlangsung selama berhari-hari dengan jumlah puluhan kerbau dan ratusan babi yang dijadikan persembahan. Dalam Aluk ketentuan dari jumlah hewan persembahan dibedakan sesuai dengan status sosial, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Musik Pa’suling, nyanyian, ratapan, puisi, tangisan dan lagu adalah ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin dan kasta rendah. Rambu solo’ bukan hanya sekedar pesta pemakaman adat tapi juga simbol penghormatan dan kasih sayang anak-cucu  kepada si almarhum. Dengan mengadakan pesta kematian semeriah mungkin menjadi prestise tersendiri bagi keluarga penyelenggara dimata masyarakat.

For Torajans who cling to Aluk To Dolo (animism), ancestral custom and belief, funeral ceremony rambu solo is such a momentous and sacred event. No wonder if they’re willing to wanton away fantastic sums of money—from hundreds of millions to billions—for days-lasting ritual with dozens of carabaos and hundreds of pigs as the offerings. Specific quantity of animal sacrifices regulated in Aluk may vary due to the family social status. Only noble families are allowed to hold grand and majestic funeral rites. Torajan people show their grief of losing the loved ones through Pa’suling music, ballads, lamentations, poems, mournings, and songs, yet they normally won’t do these things in funeral of children, penniless ones, and lower-rank people. In this society, rambu solo is much more than a mere tradition; it’s the way of offsprings to pay tribute and show their love to departed ones. The merrier the feast, the higher prestige the family will gain in the eyes of community.

 Suku yang mendiami dataran tinggi di wilayah Sulawesi Selatan ini percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya menuju Puya (dunia arwah). Semakin banyak kerbau dan babi yang dikorbankan maka dipercaya akan mempercepat arwah sampai ke Puya. Selain itu kerbau sebagai hewan persembahan dianggap berperan penting untuk membuka gerbang puya dan juga dijadikan bekal arwah nanti di “dunia baru”nya.  Apabila tidak dilakukan upacara, atau upacara yang dilakukan tidak sempurna sesuai Aluk, maka arwah dari orang yang meninggal akan tersesat.

The ethnic group indigenous to the highlands of South Sulawesi presumes that spirit of deceased person needs carabao to guide him or her in journey to Puya, the spirit realm. The more carabaos and pigs are sacrificed, the faster the spirit will make it there. Carabao offerings are also believed having noteworthy role in opening the gate of Puya. Moreover, they’ll later be supplies for spirit in his or her “new world”. Without proper and perfect Aluk-ordered ceremony, the spirit will go astray.

Keunikan tradisi memakamkan jasad dari suku toraja yaitu tidak dikuburkan dalam tanah, hal ini erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat setempat. Mereka meyakini bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka tidak layak jasad orang yang meninggal dikuburkan dalam tanah. Bagi suku Toraja itu dianggap bisa merusak kesucian bumi yang berdampak pada kesuburan tanah. Jasad orang mati mereka simpan di tempat yang mereka sebut makam seperti; di dalam gua, di lubang bebatuan besar, di tebing tinggi atau membangun semacam tempat khusus untuk jenazah. Tujuannya satu, yaitu, tidak dikebumikan. Selain itu hal ini dianggap bisa melindungi jasad dari gangguan hewan buas.

One distinctive feature found in Torajan funeral custom is that the corpse won’t get buried below ground. Closely related to the community’s modus vivendi, they believe their holy ascendant came from heaven and earth. Hence, it’s inappropriate if those who died are buried under the ground. Torajan people deem it might ravage the sanctity of earth, that in turn, impact on the soil fertility. They’ll put cadaver in any so-called tombs, such as in cave, in the pit of huge rock, on steep cliff, or at particular set built for dead people. The one and the only goal is to make sure they won’t be buried underground. That way, it’ll keep the body safe from scavenging-wild-animals.

Rambu solo’ dan segala keunikan tradisi yang dimiliki suku toraja adalah rangkaian portrait dari proses perjalanan identitas sebuah suku yang masih diupayakan bertahan. Meskipun suku Toraja kini sebagian besar sudah memeluk agama monoteisme tetapi Aluk masih memiliki nafas untuk mempertahankan diri hidup ditengah bayang-bayang agama monoteisme dan modernitas.

Rambu Solo and all other unique traditions of Toraja tribe portray a never-ending journey of an ethnic identity that’s struggling to survive. Although the lion’s share of Torajan nowadays embrace monotheism, Aluk stands strong to defend itself and live on under the shadows of modernity and monotheism.

Advertisements

4 thoughts on “Menerjemahkan Esai Foto (Indonesia-Inggris), Tembus The Invisible Photographer Asia

  1. Femmy Syahrani

    Selviya, selamat ya… Pasti seneng melihat hasil terjemahan sendiri ditayangkan seperti ini.

    Omong-omong, aku juga masih mengasah keterampilan menerjemahkan ke bahasa Inggris. Boleh ngga kalau aku mengomentari terjemahan di atas ini, terus kita berdiskusi?

    Reply
    1. Selviya Hanna Post author

      Terima kasih, Mbak Femmy. Boleh saja, Mbak, dikomentari dan kita diskusikan bersama. Saya juga masih terus mengasah keterampilan ini. Silakan japri melalui message Facebook atau e-mail ya 🙂

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s