Menerjemahkan The Icarus Deception Karya Seth Godin (2014)

icarus-01

 Judul: The Icarus Deception | Penulis: Seth Godin | Penerjemah: Selviya Hanna |
Penerbit: MIC Publishing | Terbit: Juni 2014 

Sejak dulu, saya selalu suka buku-buku Seth Godin karena cara berpikirnya yang unik, inspiratif, dan di luar kotak. Karena itu, ketika ada kesempatan menerjemahkan buku terbarunya, The Icarus Deception, tanpa pikir panjang langsung saya ambil 🙂

Mungkin ada yang bertanya, mengapa dinamai Icarus Deception atau Tipu Daya Icarus? Seth Godin melandasi buku ini dengan kisah mitologi Yunani yang cukup terkenal, yaitu Icarus dan ayahnya, Daedalus. Daedalus seorang perajin kawakan yang dijebloskan ke penjara setelah merusak karya Raja Minos. Ayah-anak ini pun menyusun rencana kabur yang brilian. Daedalus membuat sepasang sayap dan melekatkannya dengan lilin. Ia memperingatkan putranya, Icarus, supaya tidak terbang terlalu dekat dengan matahari. Namun, saking bersemangatnya karena bisa terbang, Icarus melanggar peringatan ayahnya dan terbang terlalu tinggi. Alhasil, lilin yang merekatkan sayapnya meleleh dan Icarus jatuh menukik ke dalam laut, tewas ditelan ombak. Pesan moralnya: jangan menentang raja. Jangan menentang ayahmu. Jangan berani-berani membayangkan dirimu lebih baik dari yang seharusnya.

Beranjak dari situ, Seth menyoroti perilaku manusia saat ini yang cenderung takut untuk tampil dan menyuarakan pendapat. Takut dinilai angkuh, takut ditolak, takut menonjol dan dijadikan sasaran patuk—yang disebut Seth sisa-sisa ekonomi industri masa silam.

Padahal, kini eranya ekonomi hubungan—di mana segalanya serba terkoneksi berkat internet—dan yang dihargai bukan lagi kepatuhan buta, melainkan kreativitas dan keberanian. Intinya, menjadi seniman. Apa pun bidang profesi yang kita geluti. Dan, hebatnya, menjadi seniman adalah sikap yang dapat kita asah dan kembangkan. The Icarus Deception menunjukkan cara melakukannya.

Saat menerjemahkan buku ini, ada banyak ilham yang saya petik. Inilah beberapa di antaranya:

Ketika kita mengambil tanggung jawab dan memberi penghargaan dengan antusias, pintu-pintu pun terbuka. Ketika kita menyambar mikrofon dan bicara, kita selangkah lebih dekat dengan peran yang mampu kita jalankan. Tak akan ada orang yang memilihmu. Angkatlah dirimu sendiri. (h. 54)

Enam Kebiasaan Harian Seorang Seniman:
Duduklah sendirian; duduklah dalam diam.
Pelajari sesuatu yang baru, meski tanpa manfaat praktis yang nyata.
Mintalah masukan yang terus terang dari orang per orang; abaikan masukan massa.
Sediakan waktu untuk menyemangati seniman lainnya.
Jadilah pengajar, dengan tujuan membuat perubahan.
Jual sesuatu yang Anda ciptakan. (h. 92)

Kalau Anda mau bernyanyi, bernyanyilah. Kalau Anda mau memimpin, memimpinlah. Kalau Anda mau menyentuh, berhubungan, menjelaskan, menganggu, memberi, mendukung, membangun, bertanya … lakukan saja. Anda tak akan dipilih. Tapi jika Anda ingin memilih diri Anda, lakukan saja. Hasilnya utuh menjadi milik Anda. (h. 199)

Sama seperti kegagalan, kesuksesan pun mengandung bahaya, karena lebih banyak pintu terbuka dan lebih banyak tanggung jawab diemban. Namun, pilihannya adalah menjadi tak terlihat dan menyangkali impian Anda. Bagaimana bisa kita mempertimbangkan ini? (h. 201)

Tentu saja, kita akan selalu membutuhkan penonton. Tapi Anda tidak harus menjadi penonton. (h. 211)

Kalau berkaca pada kehidupan saya sendiri, saya mengenal beberapa orang yang takut mencoba dan menunggu “ditemukan”, padahal bakat dan potensi mereka besar sekali. Saya pun dulu pribadi yang takut menonjol dan cenderung minder, tapi di satu titik saya kemudian sadar: sebanyak apa pun bakat yang Tuhan karuniakan, akan sia-sia bila saya tidak tekun mengembangkan dan menjadikannya bermanfaat bagi orang lain. Dan bagaimana bisa tujuan itu tercapai bila saya tidak berani “tampil” dan memastikan keberadaan saya disadari?

Beberapa puluh tahun lalu, hal ini mungkin sulit dilakukan. Namun, kini, dengan membeludaknya pengguna medsos dan mahajana dunia maya, ada “kekuatan” di ujung jari kita. Dengan satu status atau entri artikel, kita bisa menceriakan hari seseorang atau malah membuatnya larut dan mengasihani diri sendiri. Kita bisa membakar semangat orang yang sedang putus asa, juga bisa menjatuhkan mental sesama.

Karena itulah saya giat berbagi di Facebook dan di blog, menyampaikan gagasan dan inspirasi yang saya petik dari pengalaman hidup, buku-buku yang saya baca, tempat-tempat yang saya kunjungi. Saya pun gencar mempromosikan karya dan kemampuan saya, bukan karena sombong dan ingin dianggap hebat, melainkan agar saya bisa menyambung hidup dari situ dan terus berkarya.

Jadi, tidaklah berlebihan jika saya bilang The Icarus Deception adalah bacaan yang tepat bagi siapa pun yang butuh suntikan kreativitas dan keberanian dalam berkarya. Asyiknya, buku ini pun disusun dengan gaya khas Seth Godin: artikel-artikel ringkas yang terdiri dari beberapa paragraf pendek. Jadi, sangat pas dibaca oleh orang sibuk (yang senangnya mencicil bacaan). Yuk, bacalah buku ini dan bersiaplah terinspirasi.

 

Advertisements

4 thoughts on “Menerjemahkan The Icarus Deception Karya Seth Godin (2014)

    1. Selviya Hanna Post author

      Sama-sama, Mbak Desak. Hehehe, kata “mahajana” itu saya temukan saat menerjemahkan artikel natgeo. Tapi sang editor kemudian menggantinya dengan padanan yang lebih umum. Ketimbang mubazir saya pakai di blog saja 😉

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s