Terjemahanku di National Geographic Traveler Agustus 2014

10561838_758180847553991_2132036478401144622_n

Beberapa bulan ini jadwal menerjemahkan saya sepadat arus mudik. Alhasil, rencana menulis artikel untuk blog, termasuk kisah menerjemahkan artikel-artikel untuk National Geographic Traveler Indonesia, pun tersendat-sendat. Jadi, sekarang saya langsung saja mengulas beberapa artikel yang saya terjemahkan untuk NGT edisi Agustus, ya. Ulasan dua edisi sebelumnya menunggu lain kesempatan saja. 🙂

Baiklah, dalam edisi ini ada dua artikel fitur yang saya terjemahkan dan bagi saya menarik karena yang satu dilatarbelakangi oleh memoar sastrawi dan yang lainnya dibingkai oleh kisah revolusi Meksiko.

20140812_141525

Artikel fitur pertama, yang sekaligus menjadi gambar sampul edisi ini, berjudul Mencari Kembali Surga di Afrika (judul dalam: Surgaloka yang Hilang dan Ditemukan). Bermula dari memoar tua bertitel I Married An Adventure karya Osa Johnson yang dihadiahkan seorang teman, sang penulis merandai Kenya demi mencari danau misterius yang tak ada di peta, hanya diketahui segelintir orang, dan—menurut memoar penjelajah tersebut—keindahannya bagaikan surga yang turun ke bumi. Simak deskripsi memoar tersebut mengenai danau yang disebut Danau Firdaus itu:

Maka mereka pun pergi, merekrut seorang pemburu hewan buas untuk memasok perbekalan safari dan memandu mereka memintas lapisan lahar kering Gurun Kaisut. Dengan selaskar portir dan kereta yang dihela lembu jantan, berhasrat mencari danau yang masih diragukan keberadaannya. Selama minggu-minggu yang panjang, ekspedisi mereka berarak melewati tanah tandus hingga akhirnya melihat sebuah kawah vulkanik mati di tengah-tengah gurun pasir. Mereka daki lereng-lerengnya yang berhutan dan menapaki bibir kaldera itu. Dari sana, seluruh pandangan mereka tertuju pada sebuah danau kecil. Bentuknya seperti sendok sepanjang 1,2 kilometer dan selebar hampir 400 meter, melentik naik ke tepian curam yang ditumbuhi pohon-pohon setinggi 60 meter. Jalinan anggur air dan lili Afrika cantik mekar memenuhi tempat dangkal di tepian airnya. Bebek liar, bangau, serta burung kuntul berputar-putar sambil membenamkan diri di sana. Dan hewan-hewan, lebih dari yang sanggup mereka hitung, berjejak anteng di air setinggi lutut untuk minum.

“Oh, Martin, ini Firdaus!” kataku.

Dan begitulah, tutur Osa, bagaimana mereka menemukan Danau Firdaus dan memberinya julukan berbau Alkitab.

20140812_141555

Kisah itu memang misterius dan memikat, terlebih bagi penulis yang pernah merandai Kenya dari ujung ke ujung tapi tak pernah mendengar tentang Danau Firdaus. Uniknya, hampir tak ada informasi seputar danau ini semenjak eksplorasi Johnson. Masih eksiskah Danau Firdaus? Dan jika demikian, bagaimana nasibnya kini kawanan gajah yang direkam Johnson dan hutan lebat purba yang menjadi rumah bagi sekian banyak  macan tutul, babun, dan kerbau Afrika? Temukan jawabannya dalam National Geographic Traveler edisi Agustus 2014 ini.

C360_2014-08-12-14-17-15-197

Artikel fitur kedua—Jejak Revolusi Meksiko (judul depan) atau Buku Harian Nenek (judul dalam) mengurai perjalanan sang penulis menelisik jejak pitarahnya di Meksiko Tengah. Keluarga sang penulis percaya mereka punya hubungan darah dengan pahlawan perempuan yang mencetuskan revolusi kemerdekaan Meksiko, Josefa Ortiz de Dominguez. Dalam catatan perjalanan ini, penulis punya ambisi yang sederhana: napak tilas perjalanan Josefa, serap semua hal terkait Revolusi Meksiko, dan melahap saus mole sambil jalan. Namun, siapa sangka di ujung pengembaraannya, ia justru menemukan kenyataan yang mengejutkan?

C360_2014-08-12-14-17-51-092

Nah, selain dua artikel fitur di atas, ada juga beberapa artikel pendek yang saya terjemahkan, antara lain Casa Verde (h.22-23), Kemeriahan Cornwall (h.24), dan Lanskap Hijau Irlandia (h.26-27).

20140812_141430 20140812_141445 20140812_141500

Selamat membeli dan membaca!

Info berlangganan National Geographic Traveler Indonesia:
Telp: 021-5306263 Fax: 021-53699096 SMS: 0811908680
Email: subscribe@cc.kompasgramedia.com
http://www.nationalgeographic.co.id/subscribe

 

Advertisements

8 thoughts on “Terjemahanku di National Geographic Traveler Agustus 2014

  1. Indah Nuria Savitri

    that lake is pretty amazing :)..kecantikan khas belahan bumi Afrika..saya baru sampai di bagian ‘tanduknya’..belum turun ke tengah :)…can’t wait to explore more…kereeen artikelnya…

    Reply
    1. Selviya Hanna Post author

      Waah, udah pernah menginjak Afrika, Mak Indah? Keren! Nanti kalau explore ke sana lagi, sempatkan ke Danau Firdaus ya. Dan beli dulu Natgeo Travelernya hehehe 😀

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s