Category Archives: Celebrating Life

Kisah Cinta di Kereta Malam

20140112_191448

Objek observasi kami. Maafkan kualitas foto yang kurang mumpuni karena diambil sembunyi-sembunyi ini 🙂

Agak sulit untuk tidak memperhatikan pasangan ini. Pertama, kursi mereka tepat di seberang kursi depan kami. Kedua, dua sejoli itu tampak mencolok—yang cewek mungil dan berparas manis, yang cowok tinggi besar dan berkulit gelap. Ketiga, aksi si cowok sungguh mencenggangkan. Lelaki itu, sambil memasang ekspresi datar, memesan tiga helai selimut: satu untuk kekasihnya, dua untuk dirinya sendiri. Dengan santai digelarnya sehelai selimut di lantai kereta, yang lazimnya menjadi tempat penumpang menapakkan kaki, lalu duduk di situ. Ditatanya tas bawaan mereka membentuk bantal di ujung kursi, lalu disuruhnya si cewek membaringkan kepala di situ. Continue reading

Advertisements

Seandainya yang Berharga Itu Direnggut Darimu …

274cb0c1681b33745b65bbd3fdf50ce7 (1)Apa yang paling berharga dalam hidupmu? Kekasih hati? Anak? Keluarga? Sahabat? Harta benda? Pekerjaan?

Sekarang, bayangkan seandainya satu hal yang paling berharga itu direnggut. Mungkin bayi mungil nan menggemaskan itu tidak bertahan lama di luar rahimmu. Mungkin kekasih hatimu menderita penyakit yang mengancam nyawa. Mungkin keluargamu tercerai-berai karena masalah harta. Mungkin sahabatmu harus pindah ke kota lain. Mungkin kekayaanmu amblas dalam sekejap karena keputusan investasi yang buruk. 

Bukan maksud saya untuk mendoakan yang jelek-jelek.

Saya sendiri punya dua kecintaan dalam hidup saya. Yang pertama tentu sang belahan jiwa, Mas Anto. Yang kedua adalah pekerjaan saya. Jika sampai hari ini saya masih diberi waktu dan kekuatan untuk mencintai kedua hal ini, saya amat mensyukuri kemurahan-Nya. Continue reading

Kalau Belum Mengerahkan Segenap Daya, Jangan Berhenti

Image

gambar dipinjam dari ridhoadhie.wordpress.com.

Sore itu, tak banyak pengunjung yang hilir-mudik menyusuri lorong-lorong toko buku diskon tersebut. Seorang lelaki berseragam tengah duduk di balik meja komputer penelusur buku, menyapa tamu-tamu yang baru berdatangan.

Saya meraih sebuah novel dan mendekati lelaki itu. “Mas, novel yang serial ini tapi edisi sebelumnya ada?”

Diamatinya buku itu sejenak. “Sepertinya ada, Mbak. Yang warnanya hijau pupus itu, kan?

Saya mengangguk mengiyakan.

“Saya cek dulu, ya, ke gudang.”

Lelaki itu pun naik ke lantai dua dan tak lama kemudian turun kembali, namun tanpa buku yang dimaksud. Dia malah menggeret tangga lipat dan menjejakkannya dengan mantap di depan lemari buku yang menjulang. Pencarian pun dimulai. Continue reading

Ketika Segala Sesuatu Tidak Berjalan Seperti yang Saya Mau

Seminggu kemarin ini, saya akui, penuh dengan gerutu dan air mata. Nyaris setiap hari, ada saja hal yang membuat saya khawatir dan lupa, bahwa ada Kuasa yang lebih besar dari setiap masalah saya dan menopang saya dengan setia. Mulai dari Mas Anto yang karena lecet bahunya tidak diperbolehkan ke mana-mana selama dua minggu ini (padahal kami ada janji testfood bersama panitia akhir bulan ini), konflik-konflik kecil yang berubah runyam, job di kantor yang terasa makin hectic, hingga klien yang sulitnya minta ampun dan meminta revisi seenaknya sendiri. Dari perspektif saya yang dangkal ini, seisi semesta seolah berkonspirasi melawan saya. Continue reading

Pesan Mama

“Ma, uangnya masih ada, nggak?” tanya saya saat menelepon Mama kemarin. Berkat kecelakaan yang menimpa saya dan Mas Anto bulan lalu – yang menjadi pengeluaran tak terduga – plus keputusan kami untuk membeli polis asuransi, saya tidak bisa mengiriminya uang bulan ini. Mama saya sudah menjanda dan tinggal di Sorong bersama kakak-kakak yang lain, dan beberapa dari kami setiap bulan mengiriminya uang untuk menopang hidupnya. Jumlahnya memang tidak banyak, namun cukup untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Sejak dulu, Mama bukan tipe orang yang suka berbelanja atau banyak maunya. Untuk urusan perut dan lidah pun ia tidak rewel. Mama menyukai makanan sederhana ala orang tua pada umumnya – sayur bening atau sayur kukus tanpa garam. Ia bukan tipe orang yang neko-neko. Meski kami sering sekali berseberangan dalam hal kerapian dan kerajinan mengurus rumah, di luar masalah itu ia orang yang nerimo dan tidak menuntut banyak dari kami, anak-anaknya. Cukuplah kami bisa hidup mandiri, tidak kekurangan makanan, dan sehat selalu – itu saja mampu membuatnya tenang dan bahagia.

“Tenang saja,” katanya lembut, “kemarin kakakmu sudah mengirimi Mama uang.” Lalu mulailah kisahnya bergulir. Continue reading

Tetap Sehat Di Tengah Terpaan Pancaroba

Sejak awal tahun 2012 ini, cuaca di Surabaya terasa makin tak menentu. Hujan dan terik datang tak mengenal musim. Atau mungkin angin muson barat dan angin muson timur lagi akur-akurnya, sehingga tak lagi mau dipisahkan. 😛

Satu hal yang pasti, di saat-saat seperti ini, yang namanya flu pasti jadi penyakit langganan. Wabah? Otomatis. Dan jika cuaca buruk dipadukan dengan jam tidur yang berkurang atau keharusan begadang lantaran deadline, 99 persen saya pasti gampang terserang flu. Dan kalau saya sudah kena flu, pasti lama banget sembuhnya. Meski saya terserang pertama, lalu menulari teman-teman lainnya, dijamin mereka yang ketularan pasti sembuh lebih cepat ketimbang saya. Kalau sudah begitu, gonta-ganti obat pun tak akan banyak membantu.

Namun sejak kira-kira dua bulan yang lalu, ada yang berbeda. Entah dimulai dari siapa, teman-teman di kantor saya satu demi satu terserang flu. Saat itu bertepatan saya lagi banyak order dan harus begadang, tidur paling sore jam 12 malam. Wah, saya waswas, takut ketularan. Tapi ternyata sampai wabah berakhir, saya tak kunjung terserang flu.

Setelah diusut-usut, saya menyimpulkan itu karena kebiasaan minum teh hijau yang saya galakkan sejak awal bulan. Aslinya teh hijau itu sudah saya beli sejak beberapa bulan sebelumnya, tapi tergeletak begitu saja di laci meja kantor. Daripada mubazir, saya minum saja. Apalagi saya pernah baca di buku diet golongan darah O, teh hijau itu punya banyak khasiat, salah satunya membakar lemak *big grin. Olala, ternyata, antioksidan (polifenol) yang terkandung dalam teh hijau pun terbukti ampuh menjaga stamina dan menamengi tubuh dari serangan flu. Continue reading

Sejalan Tapi Tak Sama

Teman-teman yang mengenal saya dan Mas Anto selalu bilang kami beruntung karena mendapat pasangan yang sama-sama berkarya di media, khususnya perbukuan. Satu visi, istilah mereka. Dan itu memang benar. I’m truly grateful to have him as my soulmate. Terlebih kami punya kesamaan dalam banyak hal. Misalnya saja, kami sama-sama jatuh cinta pada dunia perbukuan dan punya pandangan yang sama akan bagaimana kami melayani Tuhan dengan passion dan bakat kami. Di luar itu, kami sama-sama maniak buku dan film, sangat suka jalan-jalan dan menikmati alam, serta tahan berjam-jam mengobrol dengan topik yang amat random.

Namun mungkin tidak banyak yang tahu kalau kami juga punya banyak perbedaan. Mulai dari yang terkesan remeh hingga serius. Misalnya saja beberapa perbedaan di bawah ini: Continue reading