Category Archives: Film Review

Letters From Iwojima (2006)

Saya tergolong orang yang tidak tegaan kalau menonton adegan perang dan bunuh-bunuhan. Saya selalu berpikir, prajurit-prajurit itu digambarkan terbunuh dengan begitu mudahnya, padahal pasti ada keluarga tercinta yang menunggu di rumah, berharap mereka pulang dari medan perang hidup-hidup. Mungkin karena itulah saya sejak dulu berdoa sama Tuhan supaya tidak diberi pasangan hidup tentara atau polisi. 😛

Nah, karena itu, berkat rekomendasi kekasih saja saya mau menonton film ini. Dan harus saya akui, saya tidak menyesalinya. 🙂 Meskipun sarat adegan baku tembak, film ini tetap manusiawi dan mengaduk-aduk perasaan. Tak heran bila film besutan sutradara Clint Eastwood ini berhasil menuai banyak pujian dan penghargaan, termasuk nominasi Academy Award. Continue reading

Advertisements

The Other Boleyn Girl (2008)

Ambisi meraih kekuasaan hanya akan menghancurkan dirimu dan orang-orang yang kau cintai. Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan oleh film The Other Boleyn Girl (2008) ini.

Memotret kehidupan bangsawan, situasi politik, dan peran wanita dalam era Tudor, film ini mengisahkan hubungan asmara antara Henry VIII dan kedua bersaudari Boylen, Anne dan Mary. Kisah asmara yang ‘penting’ karena mengubah Inggris dan dunia untuk selamanya.

Kedua tokoh sentral dalam film ini, yaitu Anne (Natalie Portman) dan Maria (Scarlett Johanson)  ‘terjebak’ antara ikatan saudara yang penuh kasih sayang dan persaingan untuk memperebutkan hati raja dan memperoleh kekuasaan. Untuk sesaat, pertarungan itu dimenangkan oleh Anne, dan Maria didepak ke desa bersama Continue reading

NASIONALISME ALA DARAH GARUDA (MERAH PUTIH II)

Pertama kali melihat trailer Darah Garuda di 21 Plaza Surabaya, saya dan kekasih langsung tertarik. Kami sebelumnya pernah menonton Merah Putih I, bahkan belum pernah menonton film perjuangan yang dirilis di layar lebar. Dan sejujurnya, agak eneg juga dengan film perjuangan kalau mengingat-ingat film perjuangan tempo doeloe yang serba terbatas dan kurang digarap dengan maksimal.

Namun ketika melihat tayangan trailer yang berdurasi beberapa menit itu, kami langsung membulatkan tekad untuk menonton Darah Garuda yang ditayangkan mulai 8 September kemarin. Bagaimana tidak? Kualitas gambar dan efek visualnya terkesan seperti film perang ala Hollywood. Setelah kami cross-check ke internet, flm yang berdurasi 100 menit ini juga masih melibatkan jajaran ahli perfilman international terbaik dalam efek khusus dan tata teknis lainnya yang berpengalaman di perfilman Hollywood. Oohh… ternyata itu rahasianya…

Tapi bukan hanya itu lho yang membuat kami terpana. Di salah satu poster Darah Garuda yang memampang tokoh-tokoh kerennya, ada salah satu tokoh yang mengenakan kalung salib. Kami sangat terkejut, karena dalam sejarah film perjuangan, belum ada yang mau repot-repot memasangkan atribut khas Kristen pada karakter tokohnya. Dari situ kami menebak-nebak , pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film Darah Garuda ini.

Apakah yang disampaikan Hashim Djojohadikusumo  (produser eksekutif Darah Garuda) dalam acara perilisan trailer bahwa  “Darah Garuda akan memberikan gambaran perjuangan generasi muda dalam kemerdekaan pada waktu itu. Berbagai ras dan agama semuanya berjuang dengan satu tujuan yang mulia yaitu kemerdekaan Indonesia. Mereka semua berjuang tanpa pamrih, tidak untuk materi atau harta” itu benar?

Ternyata sodara-sodara…

Gambar memang tak bisa bohong.

Continue reading

GLUING OUR NATION

Di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an muncul berbagai konflik bernuansa etnis yang menyebabkan ribuan orang mati terbunuh. M . Iqbal Djajadi mencatat sejak tahun 1995 sampai pertengahan 1998 terdapat 58 kasus kerusuhan. Tercatat 9 kasus kerusuhan pada tahun 1995, 15 kasus pada tahun 1996; 17 kasus pada tahun 1997; 17 kasus hingga Juni 1998.2 Salah satu konflik yang terbesar terjadi di Ambon antara kelompok Kristen dan Muslim yang berlangsung berlarut-larut. Walau bertumpang tindih dengan konflik yang berakar pada problem struktural dan agama tetapi warna keetnisan tetap dominan.

Continue reading