Category Archives: Translating

Kisah Menerjemahkan Cara Memaksimalkan Hidup Anda (Brian Houston)

20140310_103322

Judul: Cara Memaksimalkan Hidup Anda | Penulis: Brian Houston | Penerjemah: Selviya Hanna | Penerbit: Insight Unlimited | Tahun Terbit: 2014 | Tebal: 214 halaman

Tak disangka, buku ini akhirnya terbit juga! ūüôā Cara Memaksimalkan Hidup Anda¬†yang berjudul asli¬†How to Maximize Your Life¬†ini ditulis oleh Brian Houston, gembala sidang dari Gereja Hillsong, gereja yang termasyhur seantero dunia dengan pelayanan¬†praise & worship-nya yang memberkati jutaan orang. Bahkan, saat saya terjun ke pelayanan sewaktu SMU dan kuliah dulu, lagu-lagu Hillsong¬†sangat menginspirasi saya. Karena itulah, ketika dipercaya oleh penerbit untuk menerjemahkan buku ini, saya senang bukan kepalang ūüôā

Brian Houston, melalui buku ini, ingin mengajarkan tentang cara menjalani hidup yang diberkati. Namun, ia menegaskan, bahwa tujuan dari berkat Tuhan adalah untuk memampukan kita menjadi saluran berkat yang luar biasa bagi orang lain (h.21), bukan agar berkat itu berhenti¬†pada diri kita. Mengupas tuntas teladan orang benar dari Mazmur 112–yang namanya tidak disebutkan namun hidup seturut prinsip-prinsip Alkitab dan, hasilnya, berkat Tuhan mewarnai setiap spektrum hidupnya–Cara Memaksimalkan Hidup Anda¬†menyuguhkan artikel-artikel singkat yang mendalami setiap ayat dan menguak prinsip praktis yang terkandung di dalamnya. Continue reading

Advertisements

Terjemahanku di National Geographic Traveler Indonesia Maret 2014

1622809_685302318175178_959770702_n

Bagi saya, bisa menerjemahkan artikel untuk National Geographic Indonesia adalah suatu kehormatan, juga impian saya sejak pertama kali membaca majalah ini. Jadi, jujur, ketika sang editor menyatakan bahwa gaya terjemahan saya memenuhi standar majalah beken nan berbobot ini, rumah saya mendadak terasa sempit *saking gede kepalanya, maksudnya* :p

Saya tak akan berkata menerjemahkan lima artikel–satu di antaranya, 20 Loka Wajib Kunjung 2014,¬†¬†masuk sampul depan–dari National Geographic Traveler Indonesia¬†ini mudah. Saya perlu memeras otak dan mengkreasi diksi, karena dalam teks aslinya para penulis kerap menggunakan permainan kata. Apalagi, majalah ini punya reputasi sebagai media dengan pembahasaan yang unik dan berstandar tinggi, gemar bereksperimen kata dan luwesnya minta ampun. Jadi, saya bertekad agar jangan sampai mengecewakan sang editor. Continue reading

Kisah Menerjemahkan The Idiots (2014)

the idiots

Judul: The Idiots | Penulis: Chetan Bhagat | Penerjemah: Selviya Hanna | Penyunting: Prisca Primasari| Penerbit: Qanita Mizan | Tahun Terbit: 2014

Akhirnya. Terbit. Juga.

Itu yang pertama terlintas di benak saya saat membuka pintu rumah dan mendapati paket buku ini tergeletak di karpet.

The Idiots merupakan novel sekaligus buku perdana yang saya terjemahkan. Yup, perdana. Karena itulah novel ini begitu istimewa. Dan saat membuka novel ini, menyusuri halaman demi halaman, saya jadi terkenang kembali pada masa-masa awal berusaha menjadi penerjemah. Waktu itu, tahun 2010, saya bekerja di sebuah penerbitan yang 99 persen bukunya adalah buku terjemahan. Ketika itu saya belum pernah menerjemahkan satu buku pun, jadi bisa dibilang saya bondo nekat. Saya siapkan portfolio saya, lalu melayangkan lamaran ke cukup banyak penerbit. Namun, yang saat itu merespons adalah Prisca Primasari, editor Qanita. Kemudian editor cantik ini memercayakan The Idiots (judul asli: Five Point Someone) untuk saya terjemahkan.

Tentu saja tawaran itu saya terima dengan senang hati. Apalagi saya kemudian tahu bahwa novel inilah yang mengilhami film Bollywood yang fenomenal dan inspiratif, Three Idiots. Saya penggemar berat film itu, lho! ūüôā ¬†Maka proses menerjemahkan pun dimulai. Continue reading

Apresiasi untuk Terjemahan Lost Man’s Lane (Visimedia, 2013)

welovecompliment

credit: healthandhappinesswithjen.wordpress.com

Setiap penerjemah dan editor, apalagi yang berkecimpung di dunia penerbitan buku, tentu merasakan kepuasan tersendiri bila karyanya disambut pembaca dengan baik. Apalagi kalau ¬†mengerjakannya sampai “berdarah-darah”. Itulah juga yang saya rasakan saat iseng menelusuri dunia maya dan menemukan beberapa pendapat baik tentang terjemahan Lost Man’s Lane, novel detektif klasik yang diterbitkan oleh Visimedia pertengahan tahun 2013.

Seperti yang saya ceritakan di sini, proyek penerjemahan novel ini masuk dalam kategori menantang. Hanya saja, yang tidak saya ceritakan, berhubung ini kali pertama saya menangani naskah klasik, saya sempat stres berat. Butuh istirahat satu minggu sebelum masuk ke tahap swasunting; sesudah terjemahan final dikirim ke editor pun, saya ambil istirahat lagi selama dua minggu (yang saya habiskan dengan baca buku dan nonton film :p)

Jadi, ketika menemukan beberapa apresiasi ini, saya bahagia sekali. Rasanya semua jerih lelah saya saat menerjemahkan novel ini tidak sia-sia :’)

Berikut kata mereka: Continue reading

Pertimbangan Editor dalam Memilih Penerjemah

credit: prozcomblog.com

Karena sering ditanyai via personal message mengenai pertimbangan editor dalam memilih penerjemah, amannya saya tuliskan di sini saja agar terdokumentasi dengan rapi (alasan sebenarnya, sih, malas ngetik berulang-ulang :p)

Pertimbangan saya dalam memilih penerjemah: 1. Gaya bahasa yang sejalan. 2. Akurasi dalam menerjemahkan. Idealnya dapat penerjemah yang bagus di kedua unsur tersebut — itu impian semua editor. Tetapi, kalau diharuskan memilih, saya lebih memilih yang pertama.

Hingga saat ini saya masih mereview setiap terjemahan yang masuk, membandingkannya dengan teks sumber, kalimat per kalimat. Saat menemukan terjemahan yang maknanya agak melenceng, bisa langsung saya betulkan dengan sumber yang valid (kamus, ensiklopedi, dll). Tapi kalau menemukan terjemahan yang gaya bahasanya amat berbeda dengan saya (mungkin terlalu kaku, terlalu miskin diksi, atau terlalu berpanjang kata menurut selera saya), saya harus bekerja keras memoles kalimat dan memikirkan diksi yang lebih tepat.
Continue reading

buku yang diedit dan diterjemahkan 2012-2013

Dari atas kiri ke kanan bawah:

(2013)¬†Pandemonium, Lost Man’s Lane, Love Story in Harvard, The Little Postman, Not A Fan, ¬†Forgotten God, The Grace of God, Your Roadmap for Success, Becoming A Person of Influence, The Difference Maker, Leading C haracter, I Moved Your Cheese, The Power of Self-Confidence, It’s Not About You, Empowerment Takes More Than A Minute, You Can’t Lead with Your Feet on the Desk, Making Vision Stick, Warren Buffett Speaks, Taking People With You, The Relationship Edge, Full Steam Ahead!, How to Make People Like You in 90 Seconds or Less, When Leadership and Discipleship Collide.

(2012) The Marked Son, The Winning Attitude, The 17 Essential Qualities of  A Team Player, The Fourth Secret of One Minute Manager, Jack Welch Speaks, Sun Stand Still, Once Upon A Time, A Chapter of Happiness, A Chapter of Kindness.

 

Menyunting: Membalikkan Sudut Pandang

sumber: catemontana.com

sumber: catemontana.com

Setiap penyunting tentu pernah mengalami ‘pergumulan batin’ antara mempertahankan gaya penerjemah atau mengganti teks sesuai keinginannya. Kalau memang hasil terjemahannya tidak akurat saat dirujuk pada teks asli, penyunting sangat berhak untuk mengubah, bahkan merombak habis kalimat tertentu. Tapi kalau terjemahannya benar dari sisi arti, namun terasa kurang sreg di hati?

Kalau sudah menyangkut gaya bahasa, bagi saya, sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Karena, sekali lagi, gaya bahasa itu sifatnya sangat subjektif. Ibarat durian yang cita rasanya dipuja-puja hampir seantero penduduk Indonesia, namun ditampik orang bule karena aroma yang terlalu menyengat, demikian halnya dengan mengolah bahasa. Saya bisa bilang, “Lebih enak begini, lebih luwes dan lebih wajar”, namun orang lain bisa menanggapi dengan netral, “Ah, sama saja, deh” atau dengan defensif, “Itu kan menurut kamu saja. Kalau saya lebih suka yang awal.”

Wah, kalau sudah begitu, angkat tangan deh. :p

Akan tetapi, pergumulan itu tentu tidak menyurutkan kesenangan saya dalam mengotak-atik kata. ūüôā

Berikut adalah beberapa contoh dari suntingan saya. Dari sisi¬†keakuratan,¬†penerjemah melakukan tugasnya dengan baik. Namun, saya memilih untuk membalikkan sudut pandang demi meluweskan kalimat. Alasannya sederhana: supaya enak dibaca. Ah, lagi-lagi alasan yang subjektif…

1. Teks asli: Every minute more than 12 million cubic feet of water drop a distance of about 180 feet over the edge of the falls. 

Terjemahan: Setiap menit, lebih dari empat ratus juta liter air terjun dengan jarak hampir 55 meter dari tebing air terjun.

Suntingan: Setiap menit, lebih dari empat ratus juta liter air tercurah dari tebing setinggi hampir 55 meter.

Di kalimat sebelumnya sudah disebutkan bahwa ini air terjun, jadi saya merasa menghilangkan kata ‚Äėair terjun‚Äô dari kalimat ini oke-oke saja. Continue reading