Category Archives: Translating

to be quite another story

Ketika sedang menyunting, saya menemukan frasa di atas dalam kalimat ini:

A couple of years ago while Nancy and I were hosting a business seminar aboard a large cruise ship in the Caribbean, we were called away to an important business meeting in Michigan. We had no problem getting to the meeting because arrangements had been made for us to be picked up by a private jet at the airport in San Juan, Puerto Rico. But leaving Michigan and getting back turned out to be quite another story.

Penerjemah mengalihbahasakannya menjadi:

Beberapa tahun lalu, ketika saya dan Nancy menghadiri seminar bisnis di kapal pesiar besar di Karibia, kami ditelepon untuk menghadiri pertemuan bisnis penting di Michigan. Pergi ke pertemuan itu sama sekali tidak bermasalah karena sudah diatur agar kami dijemput dengan jet pribadi di bandara San Juan, Puerto Rico. Akan tetapi, pergi meninggalkan Michigan dan kembali ternyata soal lain.

Untuk lebih meluweskannya, saya ubah menjadi: Continue reading

Advertisements

Regardless of

Padanan kata apa yang biasanya Anda gunakan untuk menerjemahkan “regardless of”? Umumnya saya menggunakan “terlepas dari”, “tanpa memedulikan”, “tanpa menghiraukan”, atau “apa pun (bla bla bla)” — tergantung konteks kalimatnya.

Namun saya baru saja menemukan cara penerjemahan “regardless of” yang bagi saya cukup menarik. Inilah konteks kalimatnya:  Continue reading

I want to give you an out

Teks asli: Having said all of that, if the story of Jonah is just too much for you to swallow, then I want to give you an out.

Terjemahan awal: Akan tetapi, jika kisah Yunus memang terlalu sulit Anda terima, maka saya ingin memberi Anda solusi.

Setelah diperhalus: Akan tetapi, jika kisah Yunus memang terlalu sulit Anda terima, maka ini solusi bagi Anda.

KBBI itu penting …

… khususnya saat saya hendak menyunting atau mengefektifkan kalimat terjemahan. Misalnya saja, rentetan kata yang mengular dapat menjadi ringkas jika saya bisa menemukan padanan kata yang tepat di KBBI – seperti yang saya dapati baru-baru ini:

Ya, para pelaut memang secara fisik mengangkat Yunus dan melemparkannya “ke tempat yang dalam”, tetapi Tuhanlah yang menciptakan keadaan yang membuatnya harus dilemparkan keluar kapal.

Namun setelah mengecek KBBI, ada satu kata yangbisa mewakili situasi itu, yaitu “mengondisikan”. Akhirnya jadi begini,

Ya, para pelaut memang secara fisik mengangkat Yunus dan melemparkannya “ke tempat yang dalam”, namun Tuhanlah yang mengondisikan agar ia dilemparkan keluar kapal.

Selain itu, berkat KBBI saya jadi tahu kalau ada beberapa penggunaan kata yang berlebihan, yang selama ini saya terapkan namun tidak saya sadari. Misalnya saja,

1. Bisa Terpikirkan

Salah: Maka wanita Samaria ini pun mengatakan satu-satunya hal yang bisa terpikirkan olehnya.

Alasan: terpikirkan berarti dapat dipikirkan atau dapat dibayangkan

Benar: Maka wanita Samaria ini pun mengatakan satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya. Continue reading

Bongkar Pasang Kata

Pernah bermain lego? Wah, itu permainan favorit masa kecil saya. Rasanya asyik, lho, bisa membongkar-pasang dan menyusun keping-keping lego menjadi berbagai bentuk kastil, hewan, atau mobil-mobilan.

Bagi saya, menerjemahkan atau menyunting itu ibarat bermain lego. Material dan bahan penyusunnya sama, namun kita bisa menyusun tiap keping lego menjadi bentuk-bentuk yang berbeda. Perkara kreatif atau membosankan, saya rasa itu ditentukan oleh kepiawaian masing-masing pemain.

Nah, teman-teman penerjemah/penyunting yang pernah menangani naskah non-fiksi tentu paham bahwa salah satu tantangan dalam genre ini adalah kalimat-kalimatnya yang kaku dan sangat butuh diperluwes. Beberapa bulan lalu, saya pernah menangani naskah non-fiksi keuangan yang bahasanya bakal lumayan ‘kaku’ jika diterjemahkan menurut struktur bahasa sumber. Misalnya saja seperti cuplikan teks di bawah ini: Continue reading

Kisah Di Balik Penerjemahan Sun Stand Still

Cover asli Sun Stand Still

Mungkin saya tak akan bosan-bosannya menulis bahwa Sun Stand Still adalah buku yang istimewa. Bukan hanya karena ini karya terjemahan saya yang pertama dirilis; proses menerjemahkannya pun terbilang unik dan istimewa.

Awalnya penerbit Benaiah Books menyerahkan buku ini untuk saya garap dengan masa pengerjaan satu bulan lebih. Waktu itu saya menyanggupi, sebab buku ini bergenre non fiksi dan kosa katanya tidak sekaya novel fiksi yang sebelumnya saya tangani. Apalagi pihak penerbit rela menunggu saya yang saat itu sedang dalam proses menyelesaikan terjemahan novel dari penerbit lain *terharu… Continue reading

Ketika Menerima Order Terjemahan Dengan Genre Yang Sama Sekali Berbeda

Mungkin saya tergolong mujur, karena meski pengalaman menerjemahkan saya belum bisa dibilang lama, saya sudah mencicipi beberapa genre yang berlainan. Apalagi jika tes awal penerjemah pun turut dihitung. Pernah, di awal kerja sama dengan suatu penerbit, materi tes saya diambilkan dari cerpen klasik yang jelimetnya minta ampun. Eh, setelah sungguhan diorder, saya justru dapat naskah kontemporer yang sangat ‘lelaki’. Sesudah menggarap naskah itu, iseng saya coba mengikuti tes penerjemah di penerbit lain, dengan genre historical romance, sampai dua kali (tapi gagal terus, haha, mungkin belum rezeki saya).

Lantas saya menerima order menerjemahkan novel semi memoar, dengan gaya bahasa yang sangat berbeda dengan garapan terdahulu. Setelah itu, saya berkutat dengan naskah non fiksi keuangan, lanjut naskah rohani yang agak ‘gaul’, dan setelah itu, mencebur ke novel fantasi young adult.

Mas Anto pernah berkomentar, “Kamu gak bingung ya, Dek? Kayaknya materi terjemahan kamu gak ada yang nyambung, deh.” Continue reading