YOU WERE BORN TO BE LOVED

Ah Ye Un, seorang gadis cilik, mampu bermain piano tanpa diajari. Sejak umur 3 tahun, ia mampu memainkan Furelise dan lagu-lagu bernada sulit hanya dengan mendengar sekali, bahkan tanpa melihat kertas partitur. Ini membuat ia dijuluki Mozart cilik. Ajaibnya, potensi sebesar itu datang dari seorang anak adopsi yang buta sejak lahir,Continue reading “YOU WERE BORN TO BE LOVED”

BOOKS: THE IGNORED TREASURE

Henry David Thoreau pernah berkata, ”Books are the treasured wealth of the world and the fit inheritance of generations and nations.” Begitu pentingnya peran sebuah buku, maka di dalam tradisi orang Yahudi, misalnya, anak-anaknya diwajibkan untuk bertekun membaca dan mempelajari Taurat sejak dini. Bahkan buku pun dapat berperan sebagai trigger bagi sebuah masyarakat untuk melesat maju dan meninggalkan keterpurukan. Contohnya adalah Jepang, masyarakat yang terkenal memiliki mental pembelajar. Pasca-insiden bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah Jepang menyediakan literatur-literatur dengan harga yang sangat murah. Buahnya terlihat sekarang, Jepang menjadi leading country di Asia dalam bidang sains dan teknologi. Padahal, terlepas dari peristiwa yang naas itu, Jepang sebenarnya tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan untuk menjadi sukses. Negara dengan luas wilayah yang tak bisa dibilang luas ini malahan “dianugerahi” berbagai kondisi alam yang fluktuatif. Namun mereka berhasil bangkit karena sumber daya manusianya berwawasan luas dan memiliki mental pembelajar.Continue reading “BOOKS: THE IGNORED TREASURE”

How to say “sorry” for your OWN mistakes

Ada dua kata yang paling penting namun sekaligus juga sulit diucapkan manusia, yaitu TERIMA KASIH dan MAAF. Namun, bagi saya pribadi, dalam kebanyakan kasus mengatakan ‘MAAF’ itu jauh lebih sulit daripada berterimakasih. Mengapa? Mengatakan maaf pasti mengorbankan “wajah” kita. Mau ditaruh di mana ni muka? Apalagi kalau kita lebih tua, dianggap lebih dewasa, ataupun memiliki status sosial di masyarakat yang lebih tinggi daripada orang yang bersangkutan dgn kita (mis: majikan dan pembantu). Continue reading “How to say “sorry” for your OWN mistakes”

BEAUTY equals HAPPY?

DI SEBUAH pagi yang cerah, seperti biasa, saya membaca koran. Tak disangka, mata saya menangkap sebaris headline besar yang begitu mengejutkan dan langsung membuat saya berkutat di halaman tersebut. Bunyinya demikian: “Para Pelajar di Tiongkok Berlomba-lomba Operasi Plastik” Saya pun merunut kata demi kata, sambil sesekali geleng-geleng kepala. Disitu dikisahkan, pada musim liburan sekolah, para pelajar di Negara tirai bambu (kebanyakan wanita) akan berbondong-bondong datang ke rumah sakit atau dokter bedah untuk “memperbaiki” bagian-bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna. Mulai dari operasi bibir dan payudara(agar tampak lebih seksi), pembentukan lipatan mata (supaya gak terlihat sipit), sampai sedot lemak (untuk mengusir lemak-lemak yang menganggu keindahan tubuh). Tentu tak sedikit kocek yang dikeluarkan. Tapi itu bukan masalah buat mereka. Yang terpenting, tutur salah seorang narasumber, ia bisa kembali ke sekolah dengan lebih percaya diri.Continue reading “BEAUTY equals HAPPY?”

GLUING OUR NATION

Di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an muncul berbagai konflik bernuansa etnis yang menyebabkan ribuan orang mati terbunuh. M . Iqbal Djajadi mencatat sejak tahun 1995 sampai pertengahan 1998 terdapat 58 kasus kerusuhan. Tercatat 9 kasus kerusuhan pada tahun 1995, 15 kasus pada tahun 1996; 17 kasus pada tahun 1997; 17 kasus hingga Juni 1998.2 Salah satu konflik yang terbesar terjadi di Ambon antara kelompok Kristen dan Muslim yang berlangsung berlarut-larut. Walau bertumpang tindih dengan konflik yang berakar pada problem struktural dan agama tetapi warna keetnisan tetap dominan.

Continue reading “GLUING OUR NATION”

%d bloggers like this: