Menerjemahkan Esai Foto (Indonesia-Inggris), Tembus The Invisible Photographer Asia

2014-05-05-06-31-01

dicapture dari invisiblephotographer.asia. copyright by Adzwari Ridzki

“Ada rekomendasi, nggak, untuk translator Indonesia-Inggris?” tanya seorang teman lama via Line. “Untuk artikel kebudayaan yang agak nyastra. Atau kalau kamu mau ambil ya gapapa, Hanna.”

Namanya kesempatan yang mengasah kemampuan dan menolong naik level, pasti saya sambut dengan tangan terbuka, dong. Apalagi topiknya pun saya minati: ritual pemakaman di Toraja. Pokoknya, proyek berbau-bau budaya, sejarah, lingkungan, pariwisata, humaniora—tidak mungkin saya tolak *kode*. Ditambah ada kerinduan untuk mulai menggarap terjemahan Indonesia ke Inggris, karena selama beberapa tahun ini saya 99% mengalihbahasakan teks Inggris ke Indonesia. Sampai bahasa Inggris saya rasanya sudah mulai berkarat. Memang, kalau menerjemahkan materi setebal buku, saya belum berani. Namun, kalau diajak menerjemahkan artikel atau website, dan tenggat waktunya bersahabat, hayuk, come to mama 😀 Continue reading

Terjemahanku di National Geographic Traveler Mei 2014

10247467_714413858597357_927395043379504615_n

Jikalau di edisi National Geographic Traveler (NGT) sebelumnya saya didaulat menerjemahkan artikel tentang Surga yang Hilang di China, dengan kentalnya nuansa eksotisme dan mistik di kawasan Yunnan yang bergunung-gunung, di edisi NGT Mei 2014 saya “berjalan-jalan” ke kota yang lebih modern dan futuristik.

Kopenhagen, Denmark. Negeri yang lekat dengan kenangan masa kecil saya yang diwarnai dongeng-dongeng karangan Hans Christian Andersen. Lahir di Odense, Denmark dan tutup usia di Kopenhagen, dari tangannya mewujud cerita-cerita nan membekas. Sebut saja Gadis Penjual Korek Api, Ratu Salju, Thumbelina, Itik Buruk Rupa, dan Putri Duyung, yang patung-patungnya banyak menghiasi sudut kota Kopenhagen. Continue reading

Pizza Bayam Keju Ramah Deadline

C360_2014-05-04-11-41-53-466

Baca judulnya saja mungkin sudah bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan “ramah deadline”?

Sederhana, ini resep pizza yang pembuatannya tidak makan waktu lama dan tidak “buang-buang” tenaga karena pizza spesial ini tidak perlu diuleni. Tahu sendiri, kan, susahnya ulen-mengulen itu bagi newbie di dapur seperti saya. Dulu saya pernah nekad menguleni adonan roti kentang, dan butuh jam-jaman baru adonannya kalis. Meskipun hasilnya bisa dibilang gemilang dan suami rekues lagi, saya ogah memenuhi keinginannya karena gak kuat bok, keringat rasanya membanjir dari semua pori-pori. *Membayangkannya saja malas*

Akan tetapi, saat menerjemahkan artikel tentang Italia beberapa hari lalu, saya jadi kepingin bikin pizza (padahal di artikel sama sekali tidak disinggung tentang pizza, lho!). Sekitar bulan lalu saya pernah bikin pizza jagung manis dan tomat yang sausnya bikin sendiri *bangga*. Tapi, base rotinya beli yang instan di Superindo :p Namanya beli instan ya, pasti kurang memenuhi harapan. Rotinya kelewat garing dan menjurus keras hingga susah digigit. Untung saus dan toppingnya sedap 🙂

Nah, ujung-ujungnya berselancar di Google sambil bertanya-tanya, ada gak ya resep pizza yang rotinya tidak perlu diuleni? Oh, ternyata ada, saudara-saudara, banyak pula! Continue reading

Resensi Daya: Kisah Inspiratif Dayakan Indonesia [Koran Jakarta, 14 April 2014]

Cover Daya Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia_Selviya Hanna

Judul: Daya, Kisah Inspiratif untuk Dayakan Indonesia | Penulis: Her Suganda & Dedy Pristiwanto | Penerbit: Kompas Penerbit Buku | Terbit: I, 2014 | Harga:  Rp. 49.000 | Tebal: 210 hlm | ISBN: 978-979-709-797-4

Ketika krisis moneter melanda perekonomian Indonesia pada 1998, pengusaha kecil sebangsa pedagang kaki lima dan UKM berdiri paling kukuh. Mereka seakan tak tersentuh krisis, padahal perusahaan besar bangkrut berjemaah dan jutaan karyawan kehilangan pekerjaan. Potensi mereka besar tapi sayangnya kurang dukungan.

Modal usaha, misalnya, menjadi kendala utama pengusaha kecil. Contohnya Rokhana dari Trusmi, sentra batik Cirebon. Menekuni usaha batiknya selama 19 tahun, ia berusaha lepas dari dominasi pengusaha batik bermodal kuat. Selain Rokhana, banyak sekali wiraswasta yang bergelut dengan kerasnya persaingan dan pesimisme keluarga ataupun lingkungan. Namun, tariklah benang merah di antara mereka yang berhasil dan Anda akan menemukan ini: keuletan, dan kepedulian untuk mengajak bangkit orang lain. Continue reading

Terjemahanku di National Geographic Traveler April 2014

Rasanya senang sekali karena sang editor di edisi kali ini memercayakan satu artikel fitur untuk saya terjemahkan, bersama dengan beberapa artikel pendek. Dan menariknya lagi, artikel fitur ini berkisah tentang Yunnan, daerah di China daratan yang digadang-gadang sebagai rumah dari Shangrila, negeri khayalan di mana penduduknya dipercaya memiliki umur panjang yang melampaui batas kewajaran.

Ketika mendengar “China”, yang terbayang di benak saya adalah negara padat penghuni yang sangat industrial. Kesan eksotisnya, menurut saya masih kalah dengan tetangganya, Korea Selatan dan Mongolia. Namun itu, kan, kata saya, yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri tirai bambu ini. Nah, ketika menerjemahkan artikel fitur “Melampaui Menara Langit” (judul asli: Over the Horizon), saya jadi mengerti bahwa masih ada wilayah di tanah nan luas ini yang kental dengan misteri dan kecantikan alam. Continue reading

Menerjemahkan Cold-Case of Christianity (2014)

Cold Case Christianity

Judul: The Cold-Case of Christianity | Penulis: Jim Wallace | Penerjemah: Selviya Hanna | Penerbit: Literatur SAAT

Jujur, buku ini merupakan salah satu buku rohani Kristen terbaik yang pernah saya terjemahkan. Karena itu, ketika dikabari teman saya, Ephy, seorang dosen di UK Petra, bahwa Cold-Case Christianity yang diterbitkan di Indonesia oleh Literatur SAAT ini, telah dirilis, saya kontan melonjak kegirangan.

Menerjemahkan buku ini tergolong seru. Kenapa seru? Karena buku apologetika ini ditulis oleh Jim Wallace, seorang detektif kawakan mantan ateis. Alhasil, Cold-Case Christianity lebih mirip kisah detektif beralur cepat yang sarat dengan argumen menarik serta menawarkan pandangan yang masuk akal dari sisi hukum terhadap bukti-bukti yang mendukung ataupun menentang nilai historis Kekristenan.   Continue reading

(Resensi Buku) Memperjuangkan Kebanggaan Pendidikan di Tanah Bibinoi

 BJT6hViCIAE8DPn

Judul: Anak-anak Angin: Keping Perjalanan Seorang Pengajar Muda |Penulis: Bayu Adi Persada |Penerbit: Plot Point Publishing |Cetakan: I, April 2013 | Tebal: 271 halaman | ISBN: 978-602-9481-26-6 | Harga: IDR 33.600.

Selalu ada cerita yang menyertai kegagalan seorang insan. Ada kisah pilu dan menyayat hati; ada pula yang melahirkan tekad dan mengobarkan semangat. Agaknya, kisah yang tertuang dalam memoar Anak-anak Angin ini masuk kategori yang terakhir.

Adalah Bayu Adi Persada, seorang Pengajar Muda, yang memaknai kegagalan sebagai kesempatan untuk berbuat lebih bagi bangsanya. Rasa kalah karena ditolak oleh perusahaan multinasional membawanya bertolak dari gemilap ibu kota menuju pelosok timur Indonesia.

Ketika kakinya menginjak pasir pantai di desa kecil bernama Bibinoi, petualangan yang mengubahkan pun dimulai.

Sebagai pengajar muda yang tergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar, Bayu menjadi guru bantu di kelas III SDN Bibinoi, Halmahera selatan. Namun, merengkuh hati 37 anak didik di sekolah gratis itu bukanlah perkara mudah. Perbedaan bahasa dan kultur, ditambah tabiat sulit mereka, adalah kendala yang sulit diatasi. Continue reading